lognews.co.id — Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa suara ibu melalui sambungan telepon dapat membantu menurunkan tingkat stres pada anak hampir setara dengan pelukan langsung. Temuan ini dinilai memperlihatkan pentingnya komunikasi emosional dalam hubungan keluarga di era digital.
Riset yang dilakukan University of Wisconsin–Madison tersebut meneliti anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun yang ditempatkan dalam kondisi memicu tekanan emosional.
Setelah itu, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan berbeda. Kelompok pertama menerima pelukan langsung dari ibu mereka, kelompok kedua berbicara melalui sambungan telepon, sedangkan kelompok ketiga hanya menonton tayangan video tanpa interaksi personal.
Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang berbicara dengan ibunya melalui telepon mengalami peningkatan kadar oksitosin, yakni hormon yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman dan kedekatan emosional.
Di saat bersamaan, kadar kortisol atau hormon stres pada anak-anak tersebut juga mengalami penurunan signifikan.
Para peneliti menemukan efek biologis dari percakapan telepon hampir setara dengan dampak kontak fisik berupa pelukan langsung. Temuan ini memperlihatkan bahwa komunikasi suara tetap memiliki kekuatan emosional yang besar meski dilakukan dari jarak jauh.
Penelitian tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat modern saat ini, ketika banyak keluarga memiliki aktivitas padat dan tidak selalu dapat bertemu secara langsung setiap waktu.
Kehadiran teknologi komunikasi seperti telepon dan panggilan suara disebut tidak hanya membantu menjaga hubungan keluarga, tetapi juga memberikan dukungan emosional nyata bagi anak.
Para ahli psikologi perkembangan menilai kualitas komunikasi menjadi faktor penting dalam membangun hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak.
Percakapan sederhana dengan nada lembut dan penuh perhatian dapat membantu anak merasa didengar, dihargai, serta mengurangi kecemasan yang mereka alami.
Di tengah dominasi komunikasi berbasis teks dan pesan singkat, penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa suara orang terdekat masih memiliki dampak psikologis yang sulit tergantikan oleh teknologi digital lainnya. (Amri-untuk Indonesia)



