Wednesday, 20 May 2026

Karoshi, Budaya Kerja Ekstrem di Jepang yang Ancam Kesehatan Pekerja

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Tokyo — Jepang selama ini dikenal sebagai negara maju dengan teknologi modern, tingkat keamanan tinggi, dan budaya disiplin yang kuat. Namun di balik citra tersebut, negara ini juga menghadapi persoalan serius berupa budaya kerja berlebihan yang dikenal dengan istilah karoshi. (19/5/26)

Karoshi merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti kematian akibat kerja berlebihan. Fenomena ini mencakup kematian karena serangan jantung, stroke, hingga gangguan kesehatan lain yang dipicu jam kerja ekstrem dan tekanan psikologis berkepanjangan.

Budaya kerja keras di Jepang telah lama melekat sebagai bagian dari loyalitas terhadap perusahaan. Banyak pekerja merasa harus bekerja lembur dalam waktu panjang demi menunjukkan dedikasi kepada tempat kerja mereka.

Kondisi tersebut diperparah oleh krisis demografi yang sedang dialami Jepang, termasuk penurunan angka kelahiran dan populasi usia produktif yang terus menyusut.

Akibat kekurangan tenaga kerja, beban kerja para karyawan meningkat. Tekanan sosial di lingkungan kerja juga membuat banyak pekerja merasa tidak nyaman pulang lebih awal karena dianggap membebani rekan kerja lain.

Data Kementerian Kesehatan Jepang pada 2022 menunjukkan sekitar 10,1 persen pekerja pria dan 4,2 persen pekerja perempuan bekerja lebih dari 60 jam per minggu.

Pemerintah Jepang sebenarnya telah menerapkan reformasi ketenagakerjaan melalui Workstyle Reform Act sejak 2018 yang membatasi lembur maksimal 45 jam per bulan.

Namun dalam praktiknya, banyak pekerja masih menjalani jam kerja lebih panjang, bahkan beberapa di antaranya tidak melaporkan jumlah lembur sebenarnya.

Selain jam kerja ekstrem, pekerja di Jepang juga menghadapi fenomena power harassment atau perundungan oleh atasan di lingkungan kerja.

Tekanan mental akibat target kerja, konflik internal, hingga ketidakpastian pekerjaan disebut menjadi faktor yang memicu meningkatnya stres hingga kasus bunuh diri terkait pekerjaan atau karojisatsu.

Data terbaru menunjukkan terdapat 2.968 kasus bunuh diri yang berkaitan dengan tekanan kerja pada 2022, meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Salah satu kasus yang sempat menjadi sorotan publik adalah bunuh diri seorang aktris muda dari kelompok teater Takarazuka Revue setelah mengalami jam kerja ekstrem dan dugaan perundungan di tempat kerja.

Pemerintah Jepang terus berupaya menekan angka bunuh diri dan memperbaiki budaya kerja melalui layanan konseling, dukungan kesehatan mental, hingga kampanye reformasi sistem kerja.

Meski demikian, budaya dedikasi tinggi terhadap pekerjaan yang telah mengakar selama puluhan tahun masih menjadi tantangan besar bagi Jepang dalam menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan pekerja.

Fenomena karoshi kini menjadi pengingat bahwa kerja keras tanpa batas dapat berdampak serius terhadap kesehatan fisik maupun mental manusia. (Amri-untuk Indonesia)