Wednesday, 20 May 2026

Kemenkes Imbau Warga Hindari Daging Mentah Usai Ebola Ditetapkan Darurat Global

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meningkatkan kewaspadaan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). (19/5/26)

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi daging mentah maupun hewan liar guna menekan risiko penularan virus Ebola yang kembali merebak di kawasan Afrika tersebut.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman meminta masyarakat memastikan makanan yang dikonsumsi telah dimasak hingga matang sempurna.

“Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar,” ujar Aji dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

WHO sebelumnya melaporkan lebih dari 300 kasus suspek Ebola dengan sedikitnya 88 kematian di wilayah terdampak. Meski demikian, WHO menegaskan situasi tersebut belum dikategorikan sebagai pandemi seperti Covid-19 dan belum merekomendasikan penutupan perbatasan internasional.

Menanggapi perkembangan itu, pemerintah Indonesia memperketat pengawasan di pintu masuk negara melalui pemeriksaan thermal scanner, observasi visual terhadap pelaku perjalanan internasional, serta pemanfaatan sistem pemantauan kesehatan digital.

Kemenkes juga menyiapkan 198 rumah sakit rujukan yang tergabung dalam jejaring layanan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Selain itu, penguatan surveilans dilakukan melalui pemantauan di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi.

Pemerintah turut meningkatkan kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, dan koordinasi lintas sektor bersama WHO serta lembaga terkait lainnya guna mengantisipasi potensi masuknya kasus ke Indonesia.

Masyarakat juga diimbau tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti rutin mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker saat sakit, serta menjaga etika batuk dan bersin.

Selain itu, masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan orang, hewan, atau benda yang diduga terkontaminasi virus Ebola untuk meminimalkan risiko penularan.

WHO menyebut wabah terbaru dipicu oleh Bundibugyo ebolavirus, salah satu strain Ebola langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui secara luas.

Bundibugyo ebolavirus diketahui pertama kali teridentifikasi di Uganda pada 2007 dan termasuk penyebab Ebola Virus Disease (EVD), penyakit infeksi berat yang dapat memicu demam tinggi, kerusakan organ, hingga perdarahan internal pada penderita.

Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan wabah global tersebut. (Amri-untuk Indonesia)