Oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Sabtu, 4 April 2026, suasana di Gedung Bazaar - PKBM Al Zaytun terasa berbeda. Bukan sekadar hari pertama kembali belajar setelah libur panjang Ramadhan dan Idul Fitri. Ada harapan yang disulam, ada semangat yang kembali dinyalakan bahwa sekolah bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan untuk memuliakan diri.
Di tengah arus zaman yang kerap membuat banyak orang menyerah pada keadaan, ruang Bazaar itu justru menjadi saksi: belajar bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, tanpa mengenal batas usia.
Kegiatan silaturahmi dan halal bihalal yang mempertemukan pengelola, tutor, dan warga belajar PKBM Al Zaytun, menjadi pembuka langkah baru. Dibawakan dengan hangat oleh MC, Nurrohmah, acara dimulai dengan basmalah, lalu dilanjutkan dengan lantunan Indonesia Raya tiga stanza, mars, dan hymne PKBM yang menggema penuh semangat di bawah panduan Sri Wahyuni, S.Pd.

Sapta Janji Dharma Bakti pun dilantunkan dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Arab, dan Inggris, seolah menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang komitmen dan nilai yang melintasi batas-batas.
Momentum itu semakin hidup saat Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME., membuka sambutannya dengan pantun sederhana namun menyentuh:
Pohon kelapa, buahnya dibuat kitri
Enak rasanya dimakan dengan ikan fatin
Kami semua mengucapkan selamat Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin.

Namun lebih dari sekadar ucapan, ia mengajak semua yang hadir untuk menyadari satu hal penting: bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar yang memilih pendidikan sebagai jalan hidup.
“Sekolah di PKBM ini ibarat keluarga,” tuturnya. “Dan keluarga adalah harta paling berharga, istana paling indah, puisi paling bermakna, serta mutiara yang tiada tara.”
Lagu "Keluarga Cemara" pun dinyanyikan bersama, menghadirkan kehangatan yang tak bisa dibuat-buat. Sebuah kebersamaan yang lahir dari perjuangan yang sama: keinginan untuk terus belajar.
Di bulan Syawal, Beliau mengingatkan, setiap orang diuji bukan hanya oleh ibadah, tetapi oleh perubahan. “Setelah Ramadhan, harus ada peningkatan. Jika tidak, kita hanya mendapatkan lapar dan haus,” ujarnya.
Dalam bahasa yang sederhana namun tajam, ia membagi manusia menjadi dua: mereka yang dimuliakan karena berubah menjadi lebih baik, dan mereka yang terhina karena tetap diam di tempat, atau bahkan mundur.
Pesan itu menjadi sangat relevan bagi warga belajar yang akan menghadapi Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK). Paket C dijadwalkan pada 6–11 April, sementara Paket A dan B pada 11–16 Mei. Ujian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan gerbang menuju kemuliaan.
“Ujian itu bukan untuk ditakuti,” katanya. “Tapi untuk membuktikan bahwa kita siap naik kelas dalam kehidupan.”
Bagi kelas menengah, tantangan lain sudah menanti: Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer. Dunia berubah, dan pendidikan harus dihadapi dengan kesiapan baru.
Tak berhenti di sana, ia juga mengajak warga belajar, terutama Paket C, untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, yaitu IAI Al-Azis. Karena belajar, sesungguhnya, tidak pernah berhenti di satu titik.
Pesan itu seolah menampar realitas masyarakat hari ini, di mana banyak orang berhenti belajar karena usia, keadaan, atau rasa minder. Padahal, di ruang itu, puluhan orang justru membuktikan sebaliknya.
Sebanyak 72 warga belajar Paket C kemudian mengikuti sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru dari IAI Al-Azis, menghadirkan Usth. Dewi Utami, S.Pd., M.Pd., dan Usth. Anjar Sulistiyani, S.Pt., M.Si. Harapan baru kembali dibuka bahwa masa depan selalu punya pintu bagi mereka yang mau mengetuk.
Acara demi acara mengalir: penyerahan simbolis naskah soal UPK, doa yang dipimpin Mustain Sulthoni, S.Pd., hingga mushafahah yang mempertemukan tangan-tangan dalam kehangatan. Satu per satu saling bersalaman, menyampaikan maaf sekaligus menyuntikkan semangat.
Di sela itu, kesederhanaan justru menjadi perekat. Snack yang dibawa masing-masing dinikmati bersama, bahkan para tutor mendapat tentengan dari warga belajar. Sebuah pemandangan kecil, namun sarat makna: bahwa pendidikan bukan hanya soal memberi, tetapi juga saling menguatkan.
Kegiatan ini pun disiarkan melalui LogNews TV, live TikTok, dan radio Prima FM, membawa pesan lebih luas: bahwa semangat belajar tidak boleh padam.
Di tengah dunia yang sering menawarkan jalan pintas, PKBM Al Zaytun justru mengajarkan satu hal yang semakin langka: ketekunan untuk terus melangkah.
Karena sejatinya, yang membedakan manusia bukanlah seberapa cepat ia berhasil, tetapi apakah ia memilih untuk terus belajar… atau berhenti di tengah jalan.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



