Wednesday, 08 April 2026

Syaykh Al-Zaytun: Mengapa Harus Melakukan Transformasi Revolusioner Pendidikan?

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh : Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indramayu - Ma’had Al-Zaytun menunjukkan konsistensinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak berhenti berinovasi. Dalam lanskap pendidikan nasional yang masih menghadapi ketimpangan kualitas dan akses, Al-Zaytun mengambil langkah progresif melalui penguatan kapasitas pelaku didik berbasis ilmu pengetahuan lintas disiplin. Sejak 1 Juni 2025, lembaga ini secara berkelanjutan menyelenggarakan program pelatihan dengan menghadirkan para narasumber profesor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mencakup beragam bidang keilmuan.

Memasuki pekan ke-39, pada Ahad, 5 April 2026, forum ilmiah tersebut menghadirkan Prof. Dr. Musakkir, S.H., M.H., Guru Besar Ilmu Hukum dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini diikuti tidak kurang dari 2.700 peserta, yang terdiri dari unsur eksponen, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, wali santri, petani, unit pendukung pendidikan, serta elemen masyarakat pendidikan lainnya. Kehadiran tokoh akademik dari kawasan timur Indonesia ini sekaligus memperkaya perspektif kebangsaan dalam membaca realitas pendidikan nasional yang masih menyisakan disparitas antarwilayah. Kuliah umum disempurnakan dengan penggulungan oleh Syaykh Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang MP yang mengangkat tema latar belakang lahirnya gagasan transformasi pendidikan revolusioner pendidikan berasarama menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Forum ini tidak sekadar menjadi ruang transfer pengetahuan. Di dalamnya, tersaji refleksi panjang tentang perjalanan transformasi pendidikan yang telah dijalankan Al-Zaytun selama lebih dari dua dekade. Dalam penggulungan materinya, Syaykh Al-Zaytun menegaskan bahwa tema yang diangkat bukanlah sekadar wacana normatif, melainkan hasil dari proses penelitian praksis yang telah diuji melalui pengalaman nyata pembangunan institusi pendidikan berbasis asrama.

Pada fase awal pendirian Ma’had Al-Zaytun, realitas sumber daya manusia menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Banyak para muwadhaf (pelaksana pembangunan sarana pendidikan) yang belum memenuhi kelayakan strata pendidikan formal. Bahkan sebagian di antaranya belum menamatkan jenjang sekolah dasar, sementara yang lain berhenti di tingkat SMP atau SMA. Dalam kondisi demikian, Syaykh tidak menunggu kesiapan ideal, melainkan memulai transformasi secara simultan.

Langkah awal dimulai dari kelompok tenaga teknis dan profesional, khususnya para insinyur yang telah memiliki kualifikasi S1. Mereka didorong untuk terus meningkatkan kapasitas akademiknya hingga mencapai jenjang doktoral (S3). Di saat yang sama, perhatian besar juga diberikan kepada para muwadhaf yang belum tuntas pendidikan formal. Melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan, diselenggarakan program “Kelas Dewasa” atau yang dalam nomenklatur Diknas dikenal sebagai program “Kejar Paket”.

Pola yang diterapkan sangat disiplin dan terstruktur: para muwadhaf bekerja sejak pagi hingga sore hari menjalankan tugas-tugas pembangunan dan pendidikan, kemudian melanjutkan proses belajar pada malam hari. Kegiatan ini berlangsung penuh selama enam hari dalam sepekan. Model ini bukan hanya menuntut ketekunan, tetapi juga membangun etos belajar sepanjang hayat yang menjadi ciri khas sistem pendidikan Al-Zaytun.

Hasilnya menunjukkan capaian yang signifikan. Secara bertahap, dalam kurun waktu yang relatif singkat, terjadi peningkatan merata pada tingkat pendidikan para muwadhaf. Hingga tahun 2020, seluruh muwadhaf telah menuntaskan pendidikan minimal setara SMA. Tidak berhenti di situ, mereka kemudian didorong untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, baik di Institut Agama Islam (IAI) Al-Zaytun Indonesia maupun di berbagai perguruan tinggi lainnya.

Transformasi ini tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah konkret yang menjadi bukti keberhasilan model tersebut. Salah satunya adalah Abdul Lathif Kasno. Pada saat awal bertugas di Ma’had Al-Zaytun, ia bahkan belum memiliki ijazah sekolah dasar. Namun melalui sistem pendidikan berkelanjutan yang diterapkan, dalam rentang waktu sekitar 18 tahun, ia berhasil menempuh seluruh jenjang pendidikan hingga mencapai strata doktoral (S3). Sebuah lompatan yang tidak hanya mencerminkan keberhasilan individu, tetapi juga validitas pendekatan sistemik yang diterapkan.

Lebih jauh, dampak transformasi ini tidak berhenti pada individu muwadhaf. Gelombang peningkatan pendidikan tersebut kini merambah ke lingkungan keluarga mereka, termasuk para wali santri, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang meluas dan berkelanjutan.

Pengalaman empiris inilah yang kemudian melahirkan gagasan besar tentang transformasi pendidikan revolusioner berbasis sistem berasrama. Menurut Syaykh, model ini bukan hanya solusi lokal, tetapi dapat menjadi paradigma nasional dalam menyiapkan Indonesia menuju abad ke-21 dan menyongsong 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Pendidikan berasrama dinilai mampu menciptakan lingkungan total yang menyatukan proses pembelajaran, pembentukan karakter, serta penguatan kemandirian secara simultan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa masa depan Indonesia tidak semata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang terdidik secara merata. Ketimpangan pendidikan, jika tidak segera diatasi, akan menjadikan Indonesia terus berada dalam posisi rentan di tengah dinamika global. Karena itu, diperlukan lompatan sistemik, bukan sekadar perbaikan parsial yaitu melalui desain pendidikan yang terintegrasi, terpusat, dan berorientasi jangka panjang.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi ajakan terbuka bagi para akademisi, profesional pendidikan, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama merumuskan arah baru pendidikan nasional. Sebuah arah yang tidak hanya mengejar angka statistik, tetapi benar-benar membangun peradaban melalui manusia Indonesia yang berilmu, berdaya, dan mandiri.

Di titik inilah, Al-Zaytun memposisikan diri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai laboratorium peradaban: tempat di mana ide, praktik, dan visi besar tentang masa depan Indonesia diuji dan diwujudkan.

(Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah