Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id, Indramayu - Malam itu temaram. Langit Rabu, 1 April 2026, bertabur bintang, seakan turut menjadi saksi perjalanan sunyi dua perempuan penggerak pendidikan. Pukul 19.00 WIB, Sri Wahyuni dan Nur Rohmah, tutor PKBM Al Zaytun, melaju menuju Blok Pilang, Gantar, Indramayu. Undangan halalbihalal dari Paguyuban Gotong Royong Indonesia (PGRI) membawa mereka pada sebuah ruang yang bukan sekadar pertemuan, tetapi perajut kebersamaan.
Masjid Nurul Ikhsan telah lebih dulu hidup. Cahaya lampu menyinari wajah-wajah penuh harap yang memenuhi ruangan. Di antara keramaian itu, lantunan musik rebana dari kelompok ibu-ibu Warga Belajar dan alumni PKBM Al Zaytun mengalun syahdu. Lagu “Selamat Hari Lebaran” menggema, menghangatkan suasana, seolah menghapus sekat-sekat yang mungkin sempat hadir di antara sesama.
Wajah-wajah yang tak asing pun tampak: para tutor, para ustaz, hingga para penggerak komunitas. Malam itu bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik semua yang percaya bahwa kebersamaan adalah kekuatan.

Tepat pukul 20.00 WIB, acara dimulai. Rangkaian demi rangkaian berjalan khidmat: dari sambutan, lantunan Asmaul Husna, hingga sosialisasi pendidikan. Namun lebih dari sekadar susunan acara, malam itu menyimpan denyut yang lebih dalam: semangat membangun manusia melalui pendidikan.
Ketika Sri Wahyuni (Tutor PKBM Al Zaytun) berdiri mewakili para paguyuban, suasana seketika menjadi hening penuh perhatian. Dengan suara yang hangat, ia menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, mengajak semua yang hadir untuk kembali pada fitrah dengan saling memaafkan, saling menguatkan. Kalimat “taqobbalallahu minna wa minkum” menggema, dijawab serempak oleh hadirin, menghadirkan getaran kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun Sri Wahyuni tidak berhenti di sana. Ia menyalakan api semangat. Ia mengingatkan bahwa paguyuban bukan sekadar wadah sosial, tetapi bagian dari gerakan besar mendukung program Ma’had Al Zaytun. Bahwa langkah kecil di tingkat mikro harus sejalan dengan visi besar yang lebih luas.
Suasana yang semula khidmat berubah hangat ketika ia menyelipkan pantun-pantun jenaka. Tawa pecah, terutama saat ibu-ibu dengan kompak menyuarakan iringan pantun tersebut. “Ibu-ibu PKBM sudah hafal semua,” celetuk seseorang, disambut gelak yang mencairkan suasana malam.

Di sela kehangatan itu, Sri Wahyuni menyelipkan misi yang tak kalah penting: sosialisasi pendidikan. Dengan sederhana namun tajam, ia bertanya, “Apakah masih ada yang belum sekolah sampai SMA di Blok Pilang ini?”
Jawaban yang muncul: “Masih, Bu…”, bukan sekadar respons, tetapi panggilan. Sebuah pengingat bahwa perjuangan pendidikan belum selesai.
Ajakan pun mengalir: kepada warga belajar, alumni, hingga para bapak untuk ikut menggerakkan. “Siap?” tanyanya. Dan malam itu, kata “siap” menggema sebagai komitmen bersama.
Puncak acara menghadirkan tausiyah dari pembina paguyuban, yang mengingatkan makna Ramadan sebagai bulan turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang membedakan benar dan salah. Sebuah refleksi yang menegaskan bahwa setiap langkah sosial dan pendidikan harus berakar pada nilai-nilai ilahi.
Doa penutup mengakhiri rangkaian acara. Namun sesungguhnya, malam itu bukanlah penutup, melainkan awal. Para tamu pulang bukan hanya membawa kenyang dan kebahagiaan, tetapi juga semangat baru: untuk terus menyebarkan pendidikan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga nyala harapan.
Di bawah langit yang masih bertabur bintang, langkah-langkah kecil itu kembali bergerak. Karena bagi para tutor PKBM Al Zaytun, seperti Sri Wahyuni dan Nur Rohmah, pendidikan bukan sekadar tugas, melainkan jalan pengabdian.
(Amri-untuk Indonesia)



