Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik dan sosial keagamaan.
lognews.co.id, Riset data penulis terhadap empat kali pilkada serentak, yakni pilkada serentak tahun 2015, tahun 2017, tahun 2018 dan tahun 2020 memberi potret tentang ruang kemungkinan "calon petahana" dapat dikalahkan sebesar 40%.
Artinya, calon "petahana", yakni calon yang sedang menjabat "tidak mudah" dikalahkan tapi bukan perkara "super sulit" (baca tulisan penulis empat tahun silam berjudul "Mengalahkan Petahana", media "inakoran", (8/2/2020).
Dalam pilkada serentak tahun 2015 dari 167 calon petahana sebesar 36,2% gagal terpilih kembali dan dalam pilkada serentak tahun 2017 calon petahana yang gagal sebesar 38,7%, naik dibanding prosentase pilkada serentak sebelumnya, tahun 2015.
Dalam pilkada serentak berikutnya, yakni tahun 2018 calon petahana yang gagal mempertahankan jabatannya sebesar 37,1% dan terakhir dalam pilkada serentak tahun 2020 Petahana gagal terpilih kembali sebesar 37,6%.
Variabel politik yang menandai potensi kekalahan calon "petahana" dapat dibaca dari indeks tingkat "kepuasan publik" terhadap kepemimpinan "petahana".
Dalam penelitian, riset dan data survey jika misalnya kepuasan publik terhadap petahana di bawah 50%, ini sebuah "alarm", pertanda lampu kuning", berat bagi petahana untuk dapat terpilih kembali.
Dari sisi "motive":dan "karakter" pemilih data hasil pilkada serentak 2020 (172 pilkada) memberi gambaran "detil" sebagai berikut :
Pertama, terkait motiv pilihan pemilih. Faktor ""populisme elektoral",yakni memilih karena "kesukaan" terhadap "figur" (60%), pengaruh "money politics" (8%) dari 34% pemilih yang mau menerima "money politics", faktor "tekanan" sebesar 4% dan karena motiv "kesamaan" afiliasi partai dan ideologis sebesar 27%.
Motiv pilihan di atas jelas bahwa faktor "kesukaan" terhadap figur paling dominan dibanding varian motiv motiv lain. Faktor "kesukaan" bisa timbul karena aspek "personality" (ramah, ganteng, "playing victim"), harapan akan pemimpin tidak "otoriter" dan adaptif terhadap "gestur" pemilih "milenial".
Kedua, dari sisi karakter pemilih secara simpel dapat dibagi dua kategoris, yaitu pemilih "otonom" 70%, memilih karena didorong pertimbangan pilihan "pribadi" dan pemilih "patron klien" sebesar 30%, yakni pemilih mengikuti pilihan atau ajakan seorang tokoh, ikatan organik, kerabat dan "patron" lainnya.
Itulah "karakter" rezim politik elektoral, yakni "one man, one vote, one value", satu pemilih satu suara dalam segala derajat sosial.
Karena itu kerja politik berbasis riset dan survey dalam proyeksi pilkada 2024 lebih memberi peluang terukur dibanding kerja "baper", sekedar "bawa perasaan".
Selamat berkontestasi, hindari politik "gentong babi" dan merusak birokrasi.
Wassalam.



