Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik elektoral dan sosial keagamaan
lognews.co.id Populisme elektoral Lucky Hakim tumbuh mirip teori "populisme" politik Paul Taggart, seorang ilmuan politik, yakni "bertemunya" dua variabel politik meskipun tentu beda "kasus" dan perspektif.
Momentum kehadiran Lucky Hakim dalam "kontes" pilkada Indramayu 2020 "bertemu" dengan titik jenuh "populisme" mayoritas publik Indramayu terhadap cara cara politik para elite politik Indramayu yang "membosankan".
Dalam konteks itulah mustahil, bahkan terlalu "arogan" secara elektoral keterpilihan Nina Agustina dalam pilkada Indramayu 2020 mengabaikan faktor "pesona" elektoral Lucky Hakim selain isu isu perubahan yang dibawanya "connected" dengan titik jenuh terhadap "rezim lama" saat itu.
Relasi "konfliktual" antara Nina Agustina versus Lucky Hakim tahun 2022 secara "supra" struktur politik memang "kemenangan"' Nina Agustina hingga Lucky Hakim harus "undur diri" dari jabatan wakil bupati tapi justru dari sinilah makin bertumbuhnya "populisme" elektoral Lucky Hakim.
Pengalaman politik Lucky Hakim sebagai anggota DPR RI, "kouta" kesabarannya "menikmati" selalu dimarjinalkan dan metode "blusukan acak non protokoler" yang intens dilakukannya menyempurnakan pesona "populisme elektoral" Lucky Hakim di Indramayu.
Dalam konteks "populisme" elektoral itulah Lucky Hakim sulit "dimatikan" dengan cara "kasar" misalnya diturunkan "paksa" balihonya, "dikunci" dari pergaulan birokrasi atau cara cara "premanisasi" politik lainnya.
Tapi "populisme elektoral" berwatak ganda, satu sisi jumlahnya sangat besar dari mayoritas pemilih "non politis", di sisi lain pilihan politiknya lebih didorong dari faktor "kesukaan" bukan ikatan "ideologis" secara kuat.
Sehingga basis "populisme" elektoral Lucky Hakim secara teori bisa ""digarap" oleh kerja kerja politik "lawan" sejauh bersifat kolosal dan sistemik dengan basis pilihan issue secara kontekstual ber magnit elektoral meskipun rumit dan perlu waktu.
Itulah pentingnya Lucky Hakim dan "tim" mengelola "tiga variabel" politik, mengutip teori elektoral Richard Mayland, yaitu konektivitas pesona politik, desain "warna" koalisi partai pengusung dan "probabilitas" kecenderungan trend dinamika pilihan "silent majority" atau pemilih "non politis".
Jika tiga variabel politik di atas tidak canggih dikelola dalam orkestrasi merawat "populisme" elektoral Lucky Hakim dengan basis riset survey bisa terjadi "turbulensi" atau goncangan elektoral yang berbalik arah.
Itulah fenomena "populisme" politik elektoral.
Wassalam.



