Oleh. : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
lognews.co.id, Ihsan Mahfudz "jurnalis senior" Indramayu menulis di akun "Facebook"nya (16/10/2024), empat bulan silam, tentang "Nina Agustina dan Lucky Hakim" sebagai berikut :
"Dua sosok ini apakah akan bertarung di pilkada 2024 atau kembali berpasangan, sementara hasil survey menyebutkan keduanya masih bertengger di posisi teratas dengan angka popularitas di atas 60 persen dan jauh melampaui figur lain di bawah 20 persen", tulisnya.
Dalam update hasil survey lembaga survey "profesional" edisi tanggal 4 Pebruari 2024 (penulis belum mendapatkan ijin membukanya ke publik) memang Nina Agustina dan Lucky Hakim masuk radar survey tinggi dari sisi "popularitas" dibanding figur figur politik lain.
Dalam konteks survey di atas itu baik Nina Agustina maupun Lucky Hakim memang layak diperhitungkan dalam proyeksi pilkada Indramayu 2024.
Sebagai bupati "existing" (atau petahana) jelas Nina Agustina memiliki panggung politik luas untuk mengkatrol popularitas politiknya melalui beragam program "populis" dan acara acara seremonial yang "set up" secara politik.
Itulah kelebihan Nina Agustina di satu sisi selain ia memiliki back up politik, yakni PDIP memungkinkan ia bisa maju kembali dalam kontestasi pilkada 2024, terlebih PDIP naik jumlah kursi DPRD (12 kursi) hasil pileg 2024.
Di sisi lain problemnya Nina Agustina terlalu "protokoler" dalam komunikasi politik. Birokrasi yang (mungkin) ia andalkan dalam mengakuisisi basis elektoral publik tidak memadai mengkonsolidasi "perasaan publik".
Watak birokratis selalu bersifat otoritatif yang "menaklukkan" tapi "menjengkelkan". Inilah "PR" besar Nina Agustina.
Sementara Lucky Hakim ia adalah figur politik "powerless", tidak memiliki kuasa politik kecuali "good looking politics", atau magnit pesona politik terutama dalam rumpun pemilih "emak emak", generasi milenial (27 - 39 tahun) dan "gen-z" (17 - 25 tahun) dalam potret survey.
Faktor "good looking", yakni faktor pesona "kesukaan" inilah kelebihan Lucky Hakim, sulit disaingi figur figur politik lain dalam proyeksi pilkada 2024.
Makin dikucilkan di arrea publik justru makin dinikmatinya, sulit dihambat "mesin" partai kecuali ia "dikunci" tidak bisa maju atau didowngrade dengan isu isu berdasarkan riset perilaku pemilih.
Pertanyaannya sebagaimana diajukan Ihsan Mahfud di atas apakah Nina Agustina dan Lucky Hakim akan "bersaing" atau "berpasangan",?
Atau justru keduanya tidak maju dalam pilkada Indramayu 2024 atau mendapatkan "pesaing baru" secara kompetitif dalam proses rivalitas pilkada yang bersifat "kontes" secara elektoral?
Tentu terlalu dini menjawab pertanyaan pertanyaan di atas. Karena politik mengutip diktum Otto Van Bismoch, sejatinya tetap bersifat "the art of the possible".
Artinya politik adalah kemungkinan tak bertepi dan momentum politik bisa datang "unpredictable", tak terduga. Itulah "misteri" jalan takdir politik.
Wassalam.



