Sunday, 03 May 2026

Simulasi Kebakaran Di Al-Zaytun : Bekali Pelajar Kesiapsiagaan Sejak Dini

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Indramayu, lognews.co.id — Kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di lingkungan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’had Al-Zaytun pada Sabtu, 2 Mei 2026, berlangsung berbeda dari biasanya. Tidak hanya berisi latihan kedisiplinan dan baris-berbaris, kegiatan kali ini diperkaya dengan simulasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang edukatif dan aplikatif bagi para pelajar.

WhatsApp Image 2026 05 02 at 20.35.58 2

Sejak pagi hari, seluruh peserta dari kelas 7 hingga kelas 9 MTs, serta sebagian siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas 3, 4, dan 5, mengikuti apel pembukaan yang dipimpin oleh Ustadz Iklim Amalia, S.Hum selaku pembina upacara. Kegiatan ini juga didampingi oleh pembina Pramuka, Ustadz Andriyono Septian Jaya, yang memastikan seluruh rangkaian berjalan tertib dan terarah.

Usai apel, suasana mendadak berubah menjadi lebih dinamis saat simulasi kebakaran dimulai. Teriakan “api, api!” menggema, menandai dimulainya sesi praktik yang dipandu langsung oleh Kepala Seksi Pemadam Kebakaran lingkup industri, Bahri. Dalam pemaparannya, Bahri menekankan bahwa kebakaran merupakan kondisi api yang tidak terkendali dan berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik materi maupun korban jiwa.

Ia menjelaskan bahwa api dapat muncul karena tiga unsur utama, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketika ketiga unsur ini bertemu dalam kondisi tidak terkontrol, maka potensi kebakaran tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, pemahaman dasar tentang pencegahan menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi pelajar.

“Penanganan kebakaran bukan hanya tanggung jawab petugas pemadam saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Edukasi sejak dini sangat penting agar kebakaran bisa dicegah sebelum meluas,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diperkenalkan pada klasifikasi kebakaran berdasarkan jenis materialnya. Klasifikasi A mencakup benda padat seperti kayu dan kertas, klasifikasi B untuk bahan cair seperti minyak dan oli, klasifikasi C untuk kebakaran akibat instalasi listrik, serta klasifikasi D untuk logam seperti magnesium dan aluminium.

Tidak hanya teori, peserta juga mendapatkan kesempatan praktik langsung menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Dalam simulasi tersebut, dijelaskan teknik penggunaan yang benar, mulai dari menarik pin pengaman, melakukan uji semprot, hingga teknik menyemprot api secara efektif dengan posisi tubuh yang stabil.

Selain penggunaan alat modern, Bahri juga mengenalkan metode pemadaman tradisional yang dapat dilakukan dalam kondisi darurat, seperti menggunakan kain atau karung basah untuk menutup sumber api. Metode ini dinilai relevan, terutama di lingkungan yang belum memiliki fasilitas pemadam kebakaran lengkap.

Lebih lanjut, dijelaskan pula tiga metode utama dalam memadamkan api, yaitu sistem pendinginan (cooling) menggunakan air, sistem penutupan (smothering) untuk mengurangi oksigen, serta sistem pemisahan bahan bakar (starvation) guna menghentikan sumber api.

Salah satu peserta mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan ini. Ia menyebut bahwa praktik langsung menggunakan APAR memberikan pemahaman yang lebih nyata dibandingkan hanya teori. “Ternyata tidak sulit, tapi memang harus tahu tekniknya. Kalau tidak, justru bisa berbahaya,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan peserta lain yang baru pertama kali mencoba penggunaan APAR. Ia mengaku mengalami kesulitan saat membuka pin pengaman, namun tetap merasa kegiatan ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan baru.

Sementara itu, pihak madrasah melalui salah satu pengajar menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan life skill Pelajar. Menurutnya, pengalaman langsung menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran yang efektif.

“Bagi sebagian orang ini mungkin terlihat sederhana, tetapi tanpa pemahaman yang benar justru bisa berbahaya. Maka kegiatan seperti ini penting agar siswa tidak hanya tahu, tetapi juga mampu,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini diintegrasikan dalam kurikulum Pramuka, sehingga tidak mengganggu jam pelajaran utama. Dengan pendekatan praktik langsung, diharapkan siswa mampu mengingat dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi Kebakaran Sejak Dini

Bahri menegaskan bahwa kebakaran merupakan ancaman yang tidak mengenal batas, baik usia maupun lingkungan. “Penanganan kebakaran bukan hanya tanggung jawab petugas pemadam saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelajar memiliki peran penting dalam upaya pencegahan sejak dini, terutama di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.

Melalui kegiatan ini, Pelajar tidak hanya diberi pengetahuan, tetapi juga dibangun kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Edukasi semacam ini menjadi fondasi penting dalam membentuk sikap tanggap dan tidak panik ketika menghadapi situasi darurat.

Pemahaman Unsur dan Risiko Api

Dalam pemaparannya, Bahri menjelaskan bahwa api terbentuk dari tiga unsur utama, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. “Jika tidak terkontrol, maka bisa menjadi kebakaran,” jelasnya. Pemahaman ini menjadi dasar agar Pelajar dapat mengenali potensi bahaya di sekitar mereka.

Dengan mengetahui konsep tersebut, Pelajar dapat memahami bahwa pencegahan kebakaran bisa dilakukan dengan menghilangkan salah satu unsur penyebabnya. Pengetahuan ini sederhana, tetapi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Klasifikasi Kebakaran dan Penanganannya

Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis kebakaran berdasarkan sumbernya. “Klasifikasi A untuk benda padat, B untuk cair, C untuk listrik, dan D untuk logam,” terang Bahri. Setiap klasifikasi memiliki karakteristik yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

Melalui pemahaman ini, Pelajar diharapkan tidak melakukan kesalahan dalam menangani kebakaran. Misalnya, penggunaan air pada kebakaran listrik justru dapat memperparah kondisi. Oleh karena itu, pengetahuan klasifikasi menjadi sangat penting.

WhatsApp Image 2026 05 02 at 20.35.54 1

Metode Pemadaman Modern dan Tradisional

Bahri menjelaskan beberapa metode pemadaman yang dapat dilakukan sesuai kondisi. “Bisa dengan pendinginan menggunakan air, menutup api agar kekurangan oksigen, atau menghilangkan bahan bakarnya,” ujarnya. Metode ini memberikan gambaran dasar tentang cara memutus proses terjadinya api.

Selain itu, metode tradisional juga diperkenalkan sebagai alternatif. “Bisa menggunakan kain atau karung basah untuk kondisi darurat,” tambahnya. Hal ini menjadi solusi praktis terutama di lingkungan yang belum memiliki alat pemadam modern.

Praktik Penggunaan APAR

Dalam simulasi, Pelajar diberikan kesempatan untuk mencoba langsung penggunaan APAR. Bahri menekankan bahwa alat ini memiliki tekanan tinggi sehingga harus digunakan dengan benar. “Kalau tidak dilatih, bisa berbahaya,” jelasnya.

Pengalaman peserta menunjukkan bahwa praktik sangat membantu dalam memahami teknik penggunaan. Salah satu siswa menyampaikan, “Ternyata tidak sulit, tapi memang harus tahu tekniknya.” Dari sini terlihat bahwa latihan langsung mampu meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan siswa.

Penguatan Life Skill melalui Pengalaman

Pihak madrasah menilai kegiatan ini sebagai bagian penting dari pembelajaran berbasis pengalaman. “Jika tidak memahami, justru bisa berbahaya,” ujar salah satu pengajar. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan tanpa praktik tidak cukup dalam konteks keselamatan.

Dengan adanya simulasi ini, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga mengalami langsung prosesnya. Hal ini membuat pembelajaran lebih melekat dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Setelah sesi simulasi, kegiatan Pramuka dilanjutkan dengan agenda masing-masing tingkat. Kelas 7 mengikuti latihan gerak jalan, kelas 8 melaksanakan latihan baris-berbaris, sementara kelas 9 bersiap untuk kegiatan outbound dan jelajah alam.

Melalui kegiatan ini, Ma’had Al-Zaytun menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi yang tidak hanya disiplin, tetapi juga tanggap terhadap situasi darurat. Edukasi kebakaran yang diberikan sejak dini diharapkan mampu menekan risiko serta meningkatkan kesiapsiagaan pelajar dalam menghadapi potensi bahaya di lingkungan sekitar. (Sahil untuk Indonesia)