lognews.co.id, Bali - Forum Komunikasi Dosen Indonesia Wilayah Bali, kembali menunjukkan konsistensi dalam menjalin sinergi dan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi. Kali ini FKD Bali bersinergi dengan Pascasarjana Institut Mpu Kuturan dalam kegiatan Talkshow yang bertajuk “Krisis Ekologi dan Masa Depan Peradaban: Mampukah Kearifan Lokal Menjadi Solusi?” dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-1 Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Hari Ulang Tahun Ke-5 Pascasarjana, serta Memperingati Hari Kartini Tahun 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 27 Maret 2026 bertempat di Aula Institut Mpu Kuturan. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPW FKD Bali serta Koordinator Bidang Ekonomi, Pariwisata, & Seni Budaya DPW FKD Bali, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Buleleng, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Duta Green Youth 2025, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Institut Mpu Kuturan, Dosen Pascasarjana, dan Mahasiswa Pascasarjana Institut Mpu Kuturan.

Sebelum acara seminar dan workshop, kegiatan diawali dengan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerjasama antara Pascasarjana Mpu Kuturan dengan Forum Komunikasi Dosen (FKD) Bali, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Buleleng, Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, dan Banjar Ketewel.
Narasumber pada kegiatan ini yaitu Made Hermawati Diah Pertiwi Supriatna (Ketua GOW Kabupaten Buleleng), I Nyoman Gede Wandira Adi, ST. (Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Buleleng), Yuliani Djaya Negara (Founder dan CEO Bali Tangi). Kegiatan ini dimoderatori oleh Ni Wayan Pujiastuti, SH., M.Si. (Kepala Biro Administrasi Keuangan dan Umum Institut Mpu Kuturan).
Pada kegiatan ini juga dipamerkan beberapa produk UMKM lokal yaitu produk Bali Tangi dan Minyak Kalimosada, ada juga pelayanan kesehatan gratis, ramalan tarot dan garis tangan, serta wadon Bali. Setelah acara talkshow dan diskusi, acara dilanjutkan dengan workshop pembuatan loloh sehat dari Yuliani Djaya Negara (Founder dan CEO Bali Tangi).
Semua peserta ikut mencoba 3 jenis loloh yang dibuat langsung di tempat. Selanjutnya juga ada workshop cara sanggul bali dan sanggul modifikasi dari Wadon Bali.
Ketua FKD Bali, Dr. Ni Putu Gatriyani, M.Pd. memberikan respon positif terhadap kegiatan ini. Kehadiran dalam forum ilmiah bertajuk “Krisis Ekologi dan Masa Depan Peradaban” menjadi pengalaman yang bermakna, khususnya dalam memperkuat diskursus tentang kearifan lokal sebagai landasan solusi ekologis yang berkelanjutan.” Ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan “Momentum penandatanganan MOU dan PKS ini diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi pijakan strategis dalam membangun kolaborasi institusional yang produktif, terutama dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan nilai-nilai budaya lokal.
Sinergi yang terbangun kiranya mampu berkontribusi nyata dalam Tri Dharma PT yang berkelanjutan yang berdampak bagi masyarakat, dunia pendidikan serta lebih meningkatkan profesional dosen dalam kariernya.” Pungkasnya.
Direktur Pacasarjana, Prof. Dr. Kadek Aria Prima Dewi PF., S.Ag., M.Pd. mengungkapkan “Tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi terkini dan tantangan zaman. Krisis ekologi tidak hanya berdimensi kepada lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis nilai dan krisis peradaban dalam konteks ini, ekoteologi mengajak kita untuk menata kembali relasi manusia dengan alam sebaga relasi yang sakral dan penuh tanggung jawab.” Beliau juga menyatakan, “nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana, Sad Kerthi, Tri Kaya Parisudha yang juga menjadi spirit IMK, sesungguhnya telah lama menjadi pondasi etis masyarakat Bali. Oleh karena itu, kearifan lokal bukan sekedar warisan budaya, tetapi merupakan lokal wisdom yang telah teruji lintas generasi dan lintas abad.” Ungkapnya.
“Langkah ini beriringan dengan Ekoteologi dari Kementerian Agama dan Green Dharma dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu yang mendorong integrasi nilai spiritual, budaya, dan ekologis dalam kehidupan nyata.” Pungkasnya.
(Amri-untuk Indonesia)



