Saturday, 04 April 2026

Dunia Membara: Siapa Sebenarnya yang Sedang Perang?”

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

(Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun)

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indramayu -, suasana khidmat terasa di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun. Selepas Shalat Jumat, Syaykh Al Zaytun menyampaikan dzikir Jumat di hadapan para jamaah. Pesan dzikir itu menjadi peneguhan arah di tengah zaman yang penuh kegelisahan. Dalam suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan, beliau menyampaikan pesan sederhana namun mendalam kepada para santri yang baru saja kembali dari proses belajar di masyarakat: agar kembali kepada disiplin. Jumat, (3/4/26)

Disiplin waktu, disiplin ilmu, dan disiplin diri menjadi penekanan utama. Sebuah pengingat bahwa setelah bersentuhan dengan realitas sosial yang luas, para santri perlu kembali menata dirinya agar pengalaman yang diperoleh tidak berdampak buruk, melainkan menjadi hikmah yang terarah. Pengalaman di masyarakat adalah ruang belajar tentang kehidupan, tetapi kampus adalah tempat menyusun makna. Tanpa disiplin, ilmu hanya menjadi informasi, dan tanpa kendali diri, pengalaman dapat kehilangan arah.

Alhamdulillah, Jumat di awal April ini menjadi momentum untuk menata ulang niat, meninggalkan hiruk-pikuk masyarakat dan kembali pada ritme akademik yang terarah. Syaykh secara resmi memulakan aktivitas pembelajaran dengan basmalah. Namun pada saat yang sama, di belahan dunia lain, doa-doa justru berjalan berdampingan dengan dentuman senjata. Maret dan April tahun ini menghadirkan ironi: bulan-bulan suci yang seharusnya penuh kedamaian, justru diwarnai ketegangan dan konflik.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiga tradisi besar agama samawi merayakan momentum sucinya. Iran memperingati Nowruz sebagai tahun baru Persia yang telah berlangsung ribuan tahun, simbol kelahiran kembali dan harapan baru. Iran sebagai representasi Umat Islam juga sedang merayakan

 Idul Fitri 1447 H setelah ibadah shaum Ramadhan. Orang Israel sebagai representasi dari Umat Yahudi merayakan Pesach, mengenang pembebasan dari perbudakan Mesir sebagaimana diungkapkan dalam Ten Commandments. Sementara umat Nasrani yang diwakili Amerika,  memperingati Paskah, kebangkitan Nabi Isa sebagai simbol kemenangan kehidupan atas kematian.

Namun ironi tak terelakkan. Di saat hari-hari suci itu berlangsung, konflik justru mengeras. Iran, Israel, dan Amerika Serikat terseret dalam pusaran ketegangan, seakan-akan dunia sedang menyaksikan perang agama. Padahal, bisa jadi agama hanya dijadikan bahasa pembenaran bagi kepentingan yang lebih kompleks dan mendalam.

Sejarah sebenarnya telah memberikan pengingat. Pada masa Nabi Muhammad, konflik memang pernah terjadi, bahkan di bulan suci, yang dikenal dengan istilah ghazwah (perang yang dipimpin Rasul Muhammad) dan sariyah (perang tanpa kehadiran Rasulullah). Namun sejarah tidak pernah menempatkan perang sebagai tujuan agama. Al-Qur’an justru menegaskan akar persatuan melalui firman bahwa Nabi Ibrahim bukan Yahudi dan bukan pula Nasrani, melainkan seorang yang lurus dalam tauhid. Ini menunjukkan bahwa agama-agama samawi memiliki sumber yang sama, yaitu ketundukan kepada Tuhan, bukan perpecahan.

Jika direnungkan lebih dalam, semua hari besar tersebut membawa pesan kemanusiaan yang serupa: Nowruz tentang harapan baru, Idul Fitri tentang kesucian, Pesach tentang pembebasan, dan Paskah tentang kehidupan. Semua mengarah pada nilai-nilai kemerdekaan, kemurnian, dan kemanusiaan. Namun ketika agama dibungkus oleh kepentingan kekuasaan, ia dapat berubah dari cahaya menjadi bayangan, dari sumber damai menjadi legitimasi konflik.

Di tengah situasi global yang penuh ketegangan ini, sejatinya Indonesia memiliki posisi yang istimewa. Bukan karena kekuatan militernya, tetapi karena pengalaman panjang hidup dalam keberagaman. Indonesia adalah ruang di mana berbagai agama hidup berdampingan dalam keseharian. Ini adalah modal peradaban yang besar. Dari sinilah Indonesia berpeluang tampil sebagai juru damai, melalui pendekatan diplomasi, budaya, dan keteladanan hidup yang harmonis.

Pada akhirnya, pesan dzikir Jumat itu kembali terasa relevan. Di luar sana dunia berbicara dengan bahasa kekuatan, tetapi di dalam masjid manusia diingatkan dengan bahasa ketenangan. Di luar konflik mengeras, di dalam hati dilunakkan. Perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung dunia, tetapi dari kedisiplinan pribadi.

Jika konflik terus berlanjut, tidak ada agama yang benar-benar menang, yang tersisa hanyalah luka. Maka pertanyaan hari ini bukan lagi siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling sadar.

Karena boleh jadi, yang selama ini kita perangi bukanlah agama lain, bukan pula bangsa lain, melainkan ego kita sendiri yang belum selesai kita didik. Dan dari situlah, damai seharusnya dimulai. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah