Oleh: Mudhofir Abdullah (Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta)
lognews.co.id - Kita kini berada di era “Intelligent Age” (Era Kecerdasan), di mana kemajuan teknologi informasi dan bioteknologi tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga merestrukturisasi pemahaman kita tentang kemanusiaan. Dalam transisi yang sangat cepat ini, muncul pertanyaan krusial: apakah kurikulum universitas masih relevan, ataukah mereka sedang memproduksi lulusan untuk dunia yang sudah tidak ada?
Perkembangan teknologi disertai perubahan besar masyarakat global yang begitu dinamis menuntut sistem pendidikan tinggi untuk beradaptasi dengan cepat. Hal ini dilakukan agar mereka mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan. Kurikulum yang kaku dan tidak responsif terhadap perubahan dapat menyebabkan kesenjangan antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan industri dan masyarakat yang terus berkembang. Oleh karena itu, universitas sangat urgen untuk mengevaluasi dan merancang kembali program pembelajaran mereka, mengintegrasikan keterampilan-keterampilan baru serta pendekatan interdisipliner yang relevan dengan era kecerdasan ini.
“The Four Cs” dan Literasi Digital
Di masa lalu, sekolah berfokus pada “cramming information” (menjejalkan informasi atau hafalan), sebuah metode yang masuk akal saat informasi masih langka. Namun, di abad ke-21 yang dibanjiri data, keterampilan teknis semata tidak lagi cukup. Para ahli menekankan pentingnya “The Four Cs”: Critical thinking (berpikir kritis), Communication (komunikasi), Collaboration (kolaborasi), dan Creativity (kreativitas).

Selain itu, kebutuhan akan literasi digital menjadi harga mati. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) 2025, keterampilan yang paling mendesak mencakup AI dan Big Data, Cybersecurity, serta Programming. Namun, ada satu keterampilan yang lebih fundamental: kemampuan untuk terus belajar kembali (reinventing oneself). Mengingat perubahan terjadi sangat cepat, seseorang mungkin harus mengubah profesinya setiap satu dekade, sehingga fleksibilitas mental dan keseimbangan emosional menjadi aset yang tak ternilai.
Kampu-kampus di Tanah Air perlu untuk memerhatikan rekomendasi WEF tahun 2025 ini. Jika menilik rekomendasi tersebut, setidaknya ada empat kritik utama yang dapat diarahkan pada praktik universitas di Tanah Air. Pertama, banyak program studi masih terjebak pada pola pembelajaran lama yang menekankan pengisian teori dan hafalan semata, dengan fokus pada ujian tengah dan akhir semester, tanpa membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan di abad ke-21. Kedua, konsep Empat C—critical thinking, communication, collaboration, dan creativity—seringkali hanya menjadi jargon dalam brosur akreditasi tanpa benar-benar diimplementasikan secara konsisten dalam desain tugas, metode pengajaran, dan sistem penilaian di kelas.
Ketiga, terdapat kesenjangan besar dalam literasi digital dan penguasaan teknologi baru; meskipun Forum Ekonomi Dunia (WEF) menegaskan bahwa kecakapan seperti kecerdasan buatan, big data, keamanan siber, dan pemrograman adalah keterampilan penting di masa depan, banyak kampus masih menganggap mata kuliah tersebut sebagai pelengkap, bukan sebagai kompetensi inti yang harus dimiliki lintas disiplin, sementara dosen pun belum mendapatkan pelatihan ulang secara sistematis.
Keempat, budaya belajar di universitas masih berorientasi pada pencapaian gelar sebagai tujuan akhir, bukan membentuk kebiasaan belajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perubahan cepat keterampilan kerja. Laporan WEF menunjukkan bahwa hampir 40 persen keterampilan inti akan berubah dalam beberapa tahun mendatang, sehingga lulusan perlu dibekali fleksibilitas mental dan ketahanan emosional, bukan hanya kemampuan teknis sesaat.
Meskipun urgensi ini nyata, terdapat krisis kepercayaan dari sektor industri terhadap efektivitas sistem pendidikan saat ini. Data dari Laporan World Economic Forum Tahun 2025 menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan: Hanya 2 dari 10 pemimpin bisnis yang percaya bahwa sistem pendidikan saat ini efektif dalam mengembangkan keterampilan AI dan data; Hanya 4 dari 10 pemimpin yang merasa pendidikan berhasil membangun literasi teknologi yang memadai.
Ketidakpuasan ini berakar pada kenyataan bahwa banyak universitas masih terjebak dalam “production-line theory of education”. Model ini, yang merupakan warisan Revolusi Industri, memperlakukan siswa seperti produk pabrik yang dikelompokkan berdasarkan usia di ruang-ruang identik, sebuah model yang dianggap telah “bangkrut” oleh banyak pakar.
Langkah Adaptasi: Dari Visi ke Aksi
Meski lambat, beberapa langkah adaptasi mulai terlihat di panggung global. Inisiatif seperti “Reskilling Revolution” bertujuan memberikan keterampilan baru kepada 1 miliar orang pada tahun 2030, dan sejauh ini telah menjangkau lebih dari 750 juta orang. Beberapa institusi dan negara mulai menerapkan model baru: Pertama, SkillsFuture Singapore (SSG), menggunakan data intelijen pasar tenaga kerja secara real-time untuk memastikan kurikulum tetap sejalan dengan kebutuhan industry, kedua, Education 4.0 Alliance, aliansi yang bekerja untuk mengintegrasikan AI dan teknologi masa depan ke dalam sistem pendidikan secara global; dan ketiga, kemitraan strategis, universitas top seperti Harvard Kennedy School mulai berkolaborasi dengan komunitas seperti Young Global Leaders untuk mengajarkan kepemimpinan dalam menghadapi kompleksitas abad ke-21.
Namun, di Indonesia, hanya segelintir universitas terbaik yang mulai beradaptasi dengan cepat, sementara sebagian besar perguruan tinggi lainnya masih terkunci dalam ideologi lama dan mengalami kesulitan melakukan transformasi menuju model pendidikan yang lebih relevan dan responsif terhadap tuntutan zaman. Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan reformasi yang lebih menyeluruh agar perguruan tinggi di tanah air tidak tertinggal jauh dalam menghadapi era kecerdasan yang terus berkembang.
Penting untuk dicatat, tantangan terbesar bagi universitas bukan sekadar mengajarkan coding atau AI, melainkan membantu manusia tetap relevan saat kecerdasan mulai terpisah dari kesadaran. Ketika algoritma eksternal mulai mengenal individu lebih baik daripada mereka mengenal diri mereka sendiri, pendidikan harus beralih untuk memperkuat kesadaran manusia dan kemampuan etis.
Universitas sedang berada di persimpangan jalan. Sebagian besar masih terjebak dalam pola pikir abad ke-19, namun tekanan dari era AI memaksa mereka untuk melakukan transformasi radikal. Keberhasilan mereka tidak akan diukur dari seberapa banyak informasi yang mereka berikan, tetapi dari seberapa mampu mereka melatih siswa/mahasiswa untuk merasa nyaman di tengah ketidakpastian. (Amri-untuk Indonesia)




