Saturday, 14 March 2026

Shaum Ramadhan: Ibadah yang Menggerakkan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh

Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indramayu - Awan mendung menyelimuti siang itu ketika jamaah Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin perlahan memenuhi saf-saf setelah pelaksanaan shalat Jumat. Suasana tenang dan khidmat terasa di dalam masjid yang menjadi pusat aktivitas spiritual di kompleks Ma'had Al Zaytun. Pada Jumat, 13 Maret 2026, selepas shalat Jumat, Syaykh Al Zaytun menyampaikan taushiyah sempena dzikir Jumat kepada jamaah yang hadir.

Dalam penyampaiannya, Syaykh mengajak jamaah untuk kembali memahami hakikat shaum Ramadhan secara lebih mendalam. Menurutnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menghidupkan kesadaran spiritual yang mendorong manusia untuk bergerak dan berbuat kebaikan.

Syaykh mengawali penjelasan dengan merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Faman syahida minkumus syahra fal yashumhu”

(Barang siapa di antara kamu menyaksikan bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa).

Ayat tersebut, menurut beliau, menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum kehadiran dan kesadaran. Seseorang yang “menyaksikan” Ramadhan tidak hanya menjalani puasa secara formal, tetapi menghadirkan dirinya secara utuh dalam ibadah, amal, dan kepedulian sosial.

 

Dalam taushiyahnya, Syaykh juga menyinggung pemahaman yang sering berkembang di masyarakat bahwa tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah. Beliau menjelaskan bahwa puasa justru mengajarkan manusia untuk aktif dan produktif, bukan menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Karena itu, Ramadhan dipandang sebagai bulan harakah, yaitu bulan pergerakan. Iman tidak hanya hadir dalam doa dan ibadah ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam konteks ini pula, Syaykh mengaitkan puasa dengan tradisi zakat atau gerakan Ramadhan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual menjelang Idul Fitri, tetapi sebagai bagian dari gerakan sosial yang memperkuat solidaritas umat.

Syaykh mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, perintah zakat selalu berdampingan dengan perintah shalat:

“Aqimus shalah wa atuz zakah.”

Menurutnya, pasangan perintah tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam selalu memiliki dua dimensi: hubungan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama.

Taushiyah yang disampaikan dalam suasana khidmat itu menjadi pengingat bagi jamaah bahwa shaum Ramadhan adalah ibadah yang menghidupkan kesadaran, menggerakkan amal, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Di penghujung penyampaiannya, Syaykh kembali menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat kehidupan bersama. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi jalan untuk membangun manusia yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih berdaya dalam kehidupan. Sehingga Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang menghadirkan rahmat bagi diri sendiri, bagi masyarakat, dan bagi semesta. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah