Oleh : Umi Umutiah Marowiyah, S.Psi (Tutor PKBM Al-Zaytun)
lognews.co.id, Indramayu - Hujan turun pelan di pagi Ramadhan itu. Udara terasa sejuk, seakan menahan langkah rombongan yang hendak berangkat. Namun niat yang kuat selalu menemukan jalannya. Sekitar pukul 08.45, rombongan Civitas PKBM Al Zaytun bersama Paguyuban Istri Peduli (PIP) akhirnya melaju menuju Pilang, mengenakan jas hujan dan menembus gerimis yang belum benar-benar reda. Motor-motor bergerak beriringan, saling mengekor di jalan desa. Sebuah pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi yang melihatnya terasa seperti pasukan berkuda yang berangkat menjalankan misi kebaikan.
Tujuan mereka adalah Masjid Yayasan Nurul Islam Baleraja, tempat para ibu dari Blok Pilang telah lebih dahulu berkumpul. Suasana masjid sudah hidup oleh lantunan istighosah yang dipimpin para jamaah. Kehadiran rombongan safari Ramadhan itu menambah hangat suasana kebersamaan.
Acara dibuka oleh Tumisih, alumni PKBM Paket C yang bertindak sebagai pembawa acara. Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Sritin, Ketua Blok Pilang sekaligus mahasiswa IAI Al Aziz. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kehadiran rombongan yang membawa semangat pembelajaran, silaturahmi, dan penguatan komunitas perempuan.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program baru Paguyuban Istri Peduli (PIP) tahun 2026 oleh Umi Rohimah, S.Pd. Ia menegaskan bahwa tahun ini PIP akan lebih menitikberatkan pada penguatan ekonomi perempuan, agar para anggota tidak hanya kuat dalam keluarga tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Selanjutnya Dewi Asih Nusantari, pembina PIP sekaligus representatif Kodeko, menjelaskan tentang pentingnya kesadaran berkoperasi melalui Kodeko. Baginya, koperasi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga gerakan kesadaran sosial.
“Koperasi adalah cara kita saling menguatkan. Bahkan melalui Kodeko, kita ikut bersedekah jariyah untuk pembangunan besar seperti kapal Al Zaytun dan Politeknik Al Zaytun,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa yang aktif berkoperasi sering kali justru bukan mereka yang paling kuat secara ekonomi, melainkan mereka yang memiliki kesadaran akan manfaat kebersamaan. Kisah Ibu Parinten, warga belajar PKBM Al Zaytun yang hanya berpenghasilan sekitar dua puluh ribu rupiah per hari tetapi tetap aktif sebagai anggota koperasi, menjadi contoh nyata kekuatan kesadaran tersebut.
Memasuki sesi inti, Umi Umutiah Marowiah, S.Psi, tutor PKBM Al Zaytun, menyampaikan materi tentang kehidupan berkeluarga dan parenting. Ia membuka dengan landasan Al-Qur’an tentang pernikahan, di antaranya QS. Ar-Rum:21, Al-Baqarah:187, dan An-Nisa:19, 21, 34. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa keluarga dibangun atas dasar kasih sayang, tanggung jawab, dan saling menghormati.
Materi kemudian diperkaya dengan studi kasus fiktif tentang pasangan muda, Feri dan Sinta, yang mulai sering bertengkar karena perbedaan kebiasaan dan pengelolaan keuangan. Menariknya, diskusi justru berkembang hidup karena para ibu di Pilang aktif menyampaikan pandangan mereka.
“Mereka harus duduk bersama dan terbuka satu sama lain. Mereka berasal dari keluarga yang berbeda,” ujar Ida Widia.
“Masalah membantu orang tua atau adik harus dibicarakan bersama supaya tidak salah paham,” tambah Casrini.
Sementara Eva Ladhivah menilai banyak pasangan muda menikah tanpa kesiapan mental menghadapi perbedaan.
Diskusi semakin hangat ketika pengalaman para ibu dibandingkan dengan generasi muda sekarang. Sebagian mengaku dahulu bahkan tidak melalui proses panjang mengenal pasangan.
“Kami dulu malah tidak kenal lama, langsung ditemukan lalu menikah,” kata Sritin sambil tersenyum.
“Lalu apa kuncinya tetap nyaman berkeluarga?” tanya pemateri.
“Menerima apa adanya dan ikhlas,” jawab Tumisih singkat.
Jawaban sederhana itu justru menggambarkan kekuatan perempuan-perempuan akar rumput yang ditempa oleh nilai agama, keikhlasan, dan keteguhan hidup.
Sesi terakhir disampaikan oleh Yuni, S.Pd, tentang konsep bahasa kasih dalam hubungan suami istri. Ia menjelaskan lima bentuk bahasa kasih: sentuhan, pujian, hadiah, kebersamaan, dan pelayanan. Penyampaian yang santai dan humoris membuat ruangan penuh tawa. Para ibu spontan berbagi cerita tentang kebiasaan kecil mereka dengan pasangan, mulai dari berpegangan tangan saat tidur hingga suami yang memasakkan makanan di rumah.
Waktu terasa cepat berlalu. Tepat pukul 12.30 siang, kegiatan harus diakhiri karena rombongan akan melanjutkan safari Ramadhan ke Blok Babakan Plasa.
Yang tersisa dari pertemuan itu bukan hanya diskusi atau materi, tetapi rasa syukur dan kebahagiaan yang dibawa pulang oleh setiap peserta. Banyak di antara mereka menuliskan kesan yang sama: acara itu membuat hati terasa penuh.

Menariknya, kegiatan ini berlangsung tepat pada 8 Maret, yang diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Namun di Pilang pagi itu, makna peringatan tersebut terasa lebih nyata: bukan sekadar soal tuntutan kesetaraan, melainkan tentang bagaimana perempuan mengambil peran strategis dalam membangun masyarakat yang berkesadaran
Tema “Give to Get” —: memberi untuk mendapatkan menjadi pesan yang terasa sangat hidup. Ketika perempuan diberi ruang, kesempatan, dan penghargaan, maka yang lahir adalah generasi yang beradab.
Sebab pada akhirnya, perempuan bukan sekadar bagian dari masyarakat, perempuan adalah pilar peradaban. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



