Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME ( Dosen IAI Al-Azis)
lognews.co.id - Tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional, untuk mengenang Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu ini bukan sekadar karya seni, tetapi bukti bahwa seni dapat menjadi alat perjuangan dan pembangun kesadaran bangsa. Dari sebuah biola yang dimainkan Supratman pada Kongres Pemuda 1928, lahirlah energi kebangsaan yang kemudian mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

Di tengah dunia yang semakin keras dengan konflik antarnegara, kekerasan terhadap kemanusiaan, dan krisis empati, maka seni menjadi semakin penting dalam pendidikan. Seni menghaluskan jiwa manusia. Sebuah ungkapan sederhana sering disampaikan:
Dengan ilmu hidup menjadi mudah,
dengan agama hidup menjadi terarah,
dan dengan seni hidup menjadi indah.
Ketika ketiganya berpadu, manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Syaykh Al Zaytun, AS Panji Gumilang, tentang Trilogi Kesadaran: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Seni membantu manusia merenungi makna hidup (filosofis), mencintai harmoni alam (ekologis), dan membangun empati terhadap sesama (sosial). Karena itu dalam konsep pendidikan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual), unsur Art ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun manusia yang utuh.
Sejarah menunjukkan bahwa seni sering menjadi bahasa perdamaian dan diplomasi. Para wali di Nusantara, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan seni sebagai media dakwah yang lembut. Bahkan Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah disambut dengan lantunan syair “Thala’al Badru ‘Alaina”. Seni menjadi jembatan yang menenangkan hati dan menyatukan manusia.
Riset psikologi modern juga menunjukkan bahwa musik memiliki calming effect terhadap jiwa manusia. Peneliti neurosains musik Daniel J. Levitin menjelaskan bahwa musik mampu menurunkan stres, menenangkan sistem saraf, dan membangun empati sosial melalui aktivasi pusat emosi di otak. Karena itu musik banyak digunakan dalam music therapy untuk penyembuhan psikologis.
Artinya, seni bukan sekadar hiburan. Ia adalah sarana penanaman nilai dan pembentukan karakter. Kata-kata dalam lagu dapat masuk ke alam bawah sadar manusia, membentuk cara berpikir dan merasakan.
Kesadaran inilah yang ditanamkan di Al Zaytun, yang memiliki misi sebagai pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan humanis. Untuk menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan kedamaian, Syaykh Al Zaytun menciptakan berbagai mars, hymne, lagu keroncong, dan gending yang dinyanyikan oleh seluruh civitas Al Zaytun.
Bahkan sejak tahun 2016, setiap pagi dan pada berbagai acara resmi di Al Zaytun selalu diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Tradisi ini sudah berjalan konsisten jauh sebelum kebijakan pemerintah yang mendorong sekolah menyanyikan Indonesia Raya secara rutin dan melengkapi dengan tiga stanza pada tahun 2017.
Tradisi itu tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pendidikan, tetapi juga dalam berbagai momentum kebersamaan, termasuk dalam pernikahan civitas Al Zaytun. Lagu kebangsaan menjadi ritual budaya untuk menanamkan cinta tanah air dan kesadaran kebangsaan.
Di sinilah seni menunjukkan perannya yang paling dalam: membentuk peradaban.
Peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh teknologi, ekonomi, dan kekuatan politik. Ia juga qdibangun oleh kehalusan rasa, empati sosial, dan kesadaran kemanusiaan. Dan seni, terutama musik, memiliki kekuatan untuk menumbuhkan semua itu.
Karena itu, dalam dunia yang semakin keras, pendidikan yang memasukkan seni bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan peradaban. Seni mengajarkan manusia untuk tetap lembut di tengah kerasnya dunia, tetap manusiawi di tengah konflik, dan tetap melihat keindahan di tengah tantangan kehidupan. (Amri-untuk Indonesia)



