Sunday, 08 March 2026

Ontologi Membangun Heidegger dan Ajaran Profetik

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Muhtar Fatwa

lognews.co.id, Indramayu - Ramadhan  bisa disebut sebagai bulan literasi karena turunnya Al-Qur'an pada 17 Ramadhan 610  Masehi di Jabal Nur, dengan surat perintah pertama untuk membaca. Membaca yang mendalam bukan hanya diidentifikasi dengan membaca huruf demi huruf. Namun lebih dari menganalisa kepada diri dan lingkungannya akan sebuah perubahan yang signifikan terhadap peradaban.

Ada fenomena vernakularisasi agama, yaitu proses ketika ajaran agama hadir dalam bentuk budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tradisi seperti buka puasa bersama dan halalbihalal, dan beberapa tradisi yang muncul hanya di bulan Ramadhan, merupakan contoh nyata bagaimana nilai-nilai agama berkembang menjadi praktik sosial yang diterima lintas kalangan.

Di masyarakat Indonesia pada khususnya ada  Mistifikasi Alquran yang berpotensi terjadi kekeliruan dalam memperlakukan Alquran. Kecenderungan mistifikasi Alquran, yaitu ketika ayat-ayat suci diperlakukan secara magis atau sekadar dijadikan jimat, berpotensi mengaburkan fungsi utama Alquran sebagai petunjuk hidup.

 

lognews.co.id foto 56 politeknik aksiologi

Solusinya adalah objektifikasi Alquran melalui proses tadabbur, yakni merenungkan dan memahami makna ayat secara mendalam. Dengan demikian, nilai-nilai Alquran dapat dihayati dan diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya sekadar menjadi bacaan ritual.

Bertepatan dengan hari ke 17 di bulan Ramadhan pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, tim Pengawas Sabbat Pembangunan Politeknik TANAH AIR, melaksanakan tugas suci bersama para pelaku pembangunan dengan pemahaman mendalam makna Hari Nuzulul Qu'an.

lognews.co.id foto 54 alsikologi

Setiap derap langkah dengan cucuran keringat di tengah lapar dan dahaga. Terpaan angin dan panasnya sengatan matahari yang terik yang terkadang di bawah cucuran hujan deras disertai gemuruh petir yang bersaing dengan dentuman suara hammer yang menancapkan paku bumi. Suara-suara gemuruh alat berat seolah menggemakan takbir yang menggetarkan arsy.

Ialah mengaktualisasikan ajaran penyempurna yang diturunkan pada 17 Ramadhan 14 abad yang lalu. Di sinilah Kita membangun yang dilandasi asfek filosofi mendalam untuk Iqra secara nyata.

lognews.co.id foto 55 aksiologi

Dalam Aksiologi pembangunan seorang filsuf  fenomenolog dan eksistensialis utama abad ke-20 yang karyanya secara mendalam memengaruhi pemikiran postmodern. Heidegger merenungkan hubungan antara bangunan dan tempat tinggal

Tempat tinggal dan bangunan dipandang memiliki hubungan tujuan dan sarana. Namun, Heidegger melihat hubungan yang lebih dalam dari itu, dan mengatakan bahwa "membangun itu sendiri sudah merupakan tempat tinggal."

Ada dua cara membangun yang ia akui: (a) bercocok tanam, dan (b) mendirikan bangunan. Membangun sebenarnya adalah tempat tinggal, dan tempat tinggal adalah cara manusia 'bertahan hidup di bumi', dan membangun sebagai tempat tinggal berkembang menjadi bangunan yang menanam tanaman dan bangunan yang mendirikan gedung-gedung.

 “Kita tidak tinggal karena kita telah membangun, tetapi kita membangun dan telah membangun karena kita tinggal, yaitu karena kita adalah penghuni.” Membangun dapat ditelusuri dalam beberapa bahasa ke kata-kata tertentu yang berasal dari akar kata: “dilindungi dari bahaya dan ancaman, dilindungi dari sesuatu, dijaga.”

lognews.co.id foto 57 aksilogi

Menganalisis kata untuk bangunan, Bauenn (building) menelusurinya ke kata kerja yang berarti "berdiam," dan mencatat bahwa "Manusia ada , sejauh ia berdiam ." Selanjutnya kita menghubungkannya dengan sebuah kata yang berarti "memelihara dan melindungi, melestarikan dan merawat." Dengan demikian, kata membangun berargumen untuk makna filosofis yang lebih dalam pada kata "berdiam".

Heidegger menyebutkan empat hal yang membantu dalam memahami tempat tinggal dan bangunan. Dapa kita mengatakan bahwa ini adalah blok bangunan ontologi Heideggerian. Keempat hal tersebut adalah:

1. Bumi

2. Langit

3. Tuhan

4. Satu sama lain

Hal penting yang ia sebutkan adalah tentang "kesatuan primordial" tertentu dari keempat tingkatan ini. Manusia fana berada dalam keempat tingkatan ini dengan berdiam di dalamnya . Bagaimana bisa? Karena mereka menyelamatkan bumi, menerima langit, menantikan Tuhan, dan menginisiasi kodrat mereka sendiri.

Simpulan

Kehadiran sebagai sesuatu yang membuat suatu lokasi tampak

Teknik sebagai sesuatu yang membuat segala sesuatu tampak, dan bukan memaksakan sesuatu.

Makna esensial dari tempat tinggal kepada sebuah bangunan berkaitan dengan “merawat”, “melestarikan”, “menyelamatkan”

“Penyelamatan sejati adalah sesuatu yang positif dan terjadi ketika kita membiarkan sesuatu terlebih dahulu dalam sifat aslinya, ketika kita mengembalikannya secara khusus pada keberadaannya, ketika kita 'membebaskannya' dalam arti sebenarnya ke dalam cagar perdamaian.”

Kesulitan nyata dalam hal tempat tinggal bukanlah karena kekurangan bangunan. Ini adalah sesuatu yang lebih tua dari perang dunia dengan kehancurannya, dan lebih tua dari peningkatan populasi bumi, dan kondisi para pekerjanya. Kesulitan nyata, terletak pada hal ini: “bahwa manusia fana selalu mencari kembali hakikat tempat tinggal, bahwa mereka harus selalu belajar untuk tinggal.”

Membangun sebuah gedung adalah menciptakan kehidupan dari porak-porandanya nilai. Ia disusun dari pemikiran nyata untuk merawat dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan yang adil beradab.

Antara MAZ - MBZ, 17/3/2026