Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.
lognews.co.id, Indramayu - Pagi itu, Selasa, 24 Februari 2026, langit di atas lahan pembangunan Politeknik Tanah AIR tampak berawan dan sedikit mendung. Namun suasana di lokasi justru terasa hangat oleh semangat para pekerja dan seluruh unsur yang terlibat dalam pembangunan. Di tengah hamparan tanah yang sedang dipersiapkan untuk masa depan pendidikan vokasional bangsa, Apel Pagi kembali dilaksanakan dengan penuh khidmat.
Bertindak sebagai Komandan Apel, Pa Mulyani dari unsur keamanan memimpin barisan dengan tertib dan tegas. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh semangat di bawah arahan dirigen Sdr. Sahid Fathullah, petugas pemancangan spun pile, menghadirkan getaran kebangsaan yang menyatu dengan deru alat berat di sekelilingnya.

Sapta Janji Darma Bakti dibacakan oleh Pa Anwar selaku Korlap Fabrikasi, mengingatkan seluruh peserta apel bahwa pembangunan fisik yang sedang berlangsung bukan sekadar pekerjaan konstruksi, melainkan bagian dari pengabdian. Doa pun dipanjatkan oleh Pa Tardi, operator tadano, melalui lantunan Asmaul Husna, Asmaun Nabi, serta pembacaan QS. An-Naml ayat 19 dan QS. Ali Imran ayat 191 ayat-ayat yang menegaskan pentingnya syukur dan perenungan atas ciptaan Allah dalam setiap ikhtiar manusia.
Dalam penyampaian program kerja, Pa Jibril Abdul Qodir menegaskan bahwa pembangunan terus bergerak maju. Pemancangan spun pile di segmen 3 dilanjutkan, pembobolan spun pile dilakukan, pile cap dan angkur mulai dipersiapkan, serta pengurugan sirtu di jalan selatan menjadi prioritas berikutnya. Setiap detail teknis bukan hanya langkah konstruksi, melainkan tahapan menuju berdirinya pusat pendidikan vokasional yang akan melahirkan tenaga-tenaga ahli bagi bangsa.
Amanat Ketua Pengawas, Ustadz Syaifudin, S.I.P., M.Pd., menjadi inti refleksi pagi itu. Beliau mengajak seluruh peserta untuk bersyukur karena dapat terus melanjutkan pembangunan Politeknik Tanah AIR sebagai bagian dari cita-cita besar pendidikan vokasional. Pembangunan ini bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun generasi tenaga ahli yang siap mengabdi bagi Indonesia.

Beliau kembali mengingatkan tentang 18 karakter yang mengintegrasikan dunia pendidikan dan dunia kerja. Setelah sebelumnya dibahas Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin dalam semangat “Relawan Jadi Tanggap Darurat”, serta Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis dalam konsep “Kopi KMD”, kini diperkenalkan karakter RSCM.
R pertama adalah Rasa Ingin Tahu. Karakter ini tumbuh melalui kebiasaan bertanya dan membaca. Manusia adalah pembelajar sepanjang hayat. Tanpa rasa ingin tahu, pembangunan hanya akan menjadi rutinitas mekanis. Dengan rasa ingin tahu, setiap individu akan mencari cara lebih baik, lebih efektif, dan lebih inovatif dalam bekerja.
S adalah Semangat Kebangsaan. Semangat ini dimulai dari rakyat, komunitas, keluarga, hingga individu. Komunitas Al Zaytun diajak untuk tidak larut dalam keluh kesah sebagaimana kecenderungan sebagian masyarakat yang mudah mengeluh. Jika kondisi bangsa menurun, komunitas harus menjadi motor penggerak untuk mengangkatnya kembali. Bila belum mampu berlari, maka berjalanlah—yang penting tetap bergerak. Semangat kebangsaan adalah wujud kesadaran bahwa kita makhluk sosial yang saling terhubung dalam tanggung jawab kolektif.
C adalah Cinta Tanah Air. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan setiap pagi bukan sekadar formalitas, tetapi harus diinternalisasikan dalam diri. Cinta Tanah Air berarti mencintai Indonesia sekaligus mencintai Al Zaytun sebagai bagian dari Indonesia. Cinta itu diwujudkan dalam pengelolaan Tanah Air melalui konsep green economy dan blue economy—membangun dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan potensi maritim. Cinta yang sejati akan mendorong seseorang melakukan yang terbaik demi tanah yang dicintainya.
M adalah Menghargai Prestasi. Budaya menghargai sekecil apa pun pencapaian akan menciptakan suasana aman dan tenteram. Tepuk tangan kepada narasumber yang menyampaikan gagasan baik adalah bentuk penghargaan sederhana namun bermakna. Di lingkungan yang saling menghargai, tidak ada ruang bagi perundungan. Yang ada adalah dukungan dan motivasi untuk tumbuh bersama.
Apel pagi di tengah mendung itu menjadi simbol bahwa pembangunan tidak selalu berada di bawah langit cerah. Kadang awan menggantung, tantangan datang, tetapi semangat tidak boleh redup. Politeknik Tanah AIR sedang dibangun bukan hanya dengan beton dan baja, melainkan dengan karakter, nilai, dan tekad kebangsaan.
Dari lahan yang hari ini masih berupa struktur dan tanah urug, kelak akan berdiri institusi pendidikan yang melahirkan generasi terampil, berkarakter, dan cinta tanah air. Dan semuanya dimulai dari apel pagi dari doa, dari nyanyian kebangsaan, dari komitmen untuk terus bergerak.
Karena pembangunan sejati bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun manusia. (Amri-untuk Indonesia)


