INDRAMAYU, lognews.co.id - Simposium Pelatihan Pelatih pekan ke-38 di Masjid Rahmatan Lil'alamin Al-Zaytun, Kampus Ma'had Al-Zaytun, 22 February 2026. Menegaskan mengenai pentingnya sistem pertanian terpadu sebagai fondasi pendidikan dan pembangunan bangsa. Narasumber utama, Prof. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. Guru Besar Fakultasa Perternakan dari Universitas Gadjah Mada, menyampaikan gagasannya dalam dialog yang disiarkan melalui podcast LognewsTV.

Penguatan Integrated Farming Berbasis Energi dan Limbah
Prof. Ali Agus menegaskan bahwa praktik pertanian terpadu pada dasarnya telah berjalan, namun perlu penguatan pada aspek pengolahan limbah dan energi terbarukan.
“Integrated farming itu sebenarnya sudah dilakukan, tinggal dikuatkan. Kotoran ternak bisa diolah menjadi biogas untuk memasak bahkan menghasilkan listrik skala kecil,” ujarnya dalam podcast LognewsTV.
Ia menjelaskan bahwa integrasi ternak, tanaman, dan energi menjadi sistem produksi yang efisien sekaligus ramah lingkungan.
“Yang penting limbah itu diolah. Dari situ kita bisa mendapatkan energi, pupuk organik, dan meningkatkan produktivitas lahan,” tambahnya.
Peran Mikroorganisme dalam Kesuburan Tanah
Dalam pemaparannya, Prof. Ali Agus menyoroti peran mikroorganisme sebagai komponen penting dalam sistem pertanian berkelanjutan.
“Makhluk yang tidak terlihat itu punya peran besar dalam proses mikrobiologi, dekomposisi, dan kesuburan tanah. Mikroba inilah yang mengubah unsur hara agar bisa diserap tanaman,” jelasnya.
Ia juga menilai ketergantungan jangka panjang pada pupuk kimia dapat menurunkan kualitas tanah jika tidak diimbangi dengan bahan organik.
“Ketika tanah terlalu lama menerima bahan kimia, strukturnya menjadi padat. Pemberian bahan organik akan menghidupkan kembali mikroorganisme di dalam tanah,” katanya.
Perbedaan Ketahanan, Kemandirian, dan Kedaulatan Pangan
Prof. Ali Agus memaparkan perbedaan mendasar tiga konsep pembangunan pangan yang sering disalahartikan.
“Ketahanan pangan itu yang penting pangan tersedia. Kemandirian pangan berarti kita mampu memproduksi sendiri. Tapi kedaulatan pangan adalah ketika kita memiliki otoritas penuh menentukan sistem pangan kita sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, kedaulatan pangan berbasis komunitas merupakan fondasi utama kekuatan bangsa.
“Siapa yang menguasai pangan, dia menguasai kehidupan. Karena semua manusia membutuhkan pangan,” ujarnya.
Pendidikan, Ekologi, dan Kemanusiaan
Ia menilai integrasi pendidikan dengan praktik pertanian dan kesadaran lingkungan merupakan model pembangunan manusia yang utuh.
“Tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tetapi membentuk manusia yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya,” katanya.
Lebih lanjut ia menekankan bahwa keberadaan lembaga pendidikan yang mengintegrasikan aspek sosial, ekologis, dan spiritual merupakan harapan bagi masa depan bangsa.
“Kalau kita tidak menyiapkan generasi yang kuat, sehat, dan berkarakter, kita akan dituntut oleh generasi yang akan datang,” ujar Prof. Ali Agus.
Menuju Rekomendasi Strategis Nasional
Simposium ini menjadi bagian dari rangkaian menuju pertemuan puncak pekan ke-45 yang akan menghimpun berbagai pemikiran lintas disiplin ilmu untuk dirumuskan sebagai rekomendasi strategis nasional di bidang pendidikan dan kemandirian pangan.
Prof. Ali Agus menyatakan dukungannya terhadap upaya tersebut.
“Saya melihat ini sebagai salah satu cahaya harapan untuk menyiapkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan peduli lingkungan,” pungkasnya.
(Saheel untuk Indonesia)


