Saturday, 21 February 2026

Saat Tutor PKBM Al Zaytun Menenun Kemanusiaan dalam Duka

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh:  Suwandi, S.Pd.

Langit di atas Kampus Al-Zaytun sore itu, Jumat (20/02/2026), tidak sedang ingin bersinar. Ia memilih warna abu-abu yang pekat, menurunkan rintik hujan yang seolah menjadi saksi bisu atas kepulangan sebuah jiwa. Di dalam ambulans yang melaju perlahan, terbujur almarhumah Jumiatun binti Wakimin. Perjuangannya melawan kanker payudara telah usai, meninggalkan jejak ketabahan bagi sang suami, Sugeng Maryadi, S.Pd., dan seluruh keluarga besar yang mencintainya.

Namun, di balik duka yang menyayat, ada sebuah simfoni kebersamaan yang bergerak melampaui sekadar seremoni pemakaman.

Trilogi Kesadaran di Sisi Liang Lahat

Kehadiran para Tutor PKBM Al-Zaytun yang dipimpin oleh Suwandi, S.Pd., sejak kabar duka tersiar pukul 12.00 WIB, bukan sekadar bentuk solidaritas profesi. Ini adalah pengejawantahan dari Trilogi Kesadaran yang menjadi fondasi jiwa di Al-Zaytun:

- Kesadaran Filosofis: Saat Surah Ṭāhā ayat 55 dilantunkan di tepi liang lahat, semua yang hadir diingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Ini adalah kesadaran akan hakikat eksistensi; bahwa kematian adalah guru terbaik tentang kerendahan hati.

- Kesadaran Ekologis: Prosesi di bawah mendung dan rintik hujan ini menyadarkan kita bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam. Kepulangan almarhumah ke pangkuan bumi adalah penyatuan kembali unsur-unsur kehidupan dengan semesta yang menciptakannya.

- Kesadaran Yuridis: Keterlibatan aktif tutor dan warga belajar dalam mengurus fardu kifayah, dari memandikan hingga menyalatkan adalah bentuk ketaatan pada hukum Tuhan dan tanggung jawab sosial. Ada hak jenazah yang harus dipenuhi, dan ada kewajiban komunal yang ditunaikan dengan penuh integritas.

Pusat Budaya Toleransi yang Memanusiakan

Apa yang terjadi di pemakaman ini adalah potret kecil dari visi besar Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Di sini, pendidikan tidak disekat oleh dinding kelas atau tumpukan buku teks.

Pendidikan adalah aksi nyata untuk membangun masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Sehat mentalnya karena saling menguatkan, cerdas spiritualnya karena memahami makna perpisahan, dan manusiawi perilakunya karena menganggap beban sesama sebagai beban sendiri.

 "Lembaga pendidikan ini bukan sekadar institusi formal, ia adalah keluarga besar yang hakiki," tutur sebuah pesan tersirat dalam khidmatnya doa yang dipimpin perwakilan eksponen Ma’had Al-Zaytun, Ustadz Drs. Miftah, M.Pd.

PKBM: Satu Keluarga, Satu Tarikan Napas

Bagi PKBM Al-Zaytun, warga belajar dan tutor adalah satu kesatuan organik. Saat satu sel merasa sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya. Dukungan penuh dalam mengantar almarhumah hingga ke peristirahatan terakhir tepat saat waktu berbuka puasa tiba, menunjukkan bahwa komitmen "hadir dan mengabdi" bukanlah slogan kosong.

Di bawah rintik hujan yang kian menderu, Al-Zaytun membuktikan bahwa dalam duka, kebersamaan justru semakin kokoh dibangun. Kematian memang memisahkan raga, namun ia justru merekatkan ikatan persaudaraan antarmanusia yang saling asah, asih, dan asuh.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang paling murni adalah pendidikan hati, pendidikan yang mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang tetap berdiri tegak untuk memeluk mereka yang sedang terjatuh dalam kesedihan. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah epada Allah