Oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Di hari kedua Ramadhan, terjadi estafeta kepemimpinan. Estafet kepemimpinan itu berpindah bukan sekadar dari satu ke nama lain, tetapi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jumat, 20 Februari 2026 bertepatan dengan 2 Ramadhan 1447 H, Mihrab MRLA menjadi saksi sebuah momentum yang lebih dari sekadar seremoni. Setelah shalat Jumat, suasana hening namun khidmat menyelimuti ruangan ketika pembacaan SK Demisioner pengurus lama dikumandangkan. Sebuah tanda bahwa masa bakti Kabinet Dharma Bakti 22 telah resmi berakhir.
Tak lama berselang, SK Syaykh Al Zaytun tentang pelantikan OPMAZ dibacakan. Di sanalah tonggak baru itu ditegakkan: pelantikan Presiden dan Wakil Presiden OPMAZ Dharma Bakti 23 Periode 2026–2027. Nama yang kini mengemban amanah itu adalah Rafa Adiyansyah Ar Rizki.
Namun pelantikan ini bukan hanya soal siapa yang terpilih. Ada sesuatu yang berbeda. Dan perbedaan itulah yang justru menjadi ruh perubahan.

Demokrasi yang Bertumpu pada Literasi, Bukan Usia
Syaykh dalam taushiyahnya menggarisbawahi satu prinsip yang tidak lazim namun visioner: hak memilih dan dipilih tidak bertumpu pada umur, tetapi pada kemampuan membaca dan menulis.
Di banyak negara, hak pilih ditentukan usia. Malaysia menetapkan 21 tahun, negara lain 18, Indonesia 17 tahun. Tetapi di sini, dari tingkat PAUD hingga menengah, pelajar memiliki hak yang sama dengan satu syarat: mampu membaca dan menulis.
Iqra. Bacalah. Nun wal qalam wa ma yasturun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
Literasi menjadi fondasi partisipasi. Tahun ini bahkan beberapa pelajar PAUD yang sudah mampu membaca dan menulis , kut berkesempatan memilih. Sebuah gagasan yang memindahkan demokrasi dari sekadar hitungan biologis menuju kesiapan intelektual.
Ini bukan sekadar eksperimen. Ini pendidikan politik yang berakar pada kesadaran.
Transparansi Sejak Awal
Proses pemilihan Presiden OPMAZ bukanlah proses tertutup. Seleksi dilakukan terbuka, dari ratusan calon disaring menjadi sepuluh, lalu kampanye, kemudian pemilihan umum. Kritik dibuka. Evaluasi dijalankan. Prosesnya menjadi pembelajaran nyata tentang transparansi.
Sebuah miniatur tata kelola bernegara diperagakan di ruang pendidikan.
Jika praktik seperti ini tumbuh sejak dini, maka kelak di masyarakat, mereka tidak gagap menghadapi sistem. Mereka sudah terbiasa berargumentasi, menerima kritik, dan mempertanggungjawabkan amanah.
Kabinet yang Menyentuh Semua Tingkatan
Inilah pembeda paling mencolok tahun ini. Jika sebelumnya seluruh pengurus berasal dari kelas tertinggi, kini struktur diperluas. Dari MI kelas 5 hingga MA kelas 10 dilibatkan.
Komposisi anggota sidang paripurna pun mencerminkan keberagaman itu:
- MI: 3 orang
- MTs kelas 7: 3 orang
- MTs kelas 8: 3 orang
- MTs kelas 9: 3 orang
- MA kelas 10: 3 orang
Semua tingkatan memiliki wakil.
Kelas tertinggi tetap mengelola kementerian operasional, namun kelas di bawahnya menjadi anggota sidang paripurna kabinet. Tujuannya jelas: agar setiap program tidak hanya menjadi gagasan elit, tetapi diserap oleh seluruh lapisan pelajar.
Inilah kaderisasi yang nyata. Praktis. Riil.
Ikrar dan Estafet
Saat para pelajar yang dilantik membacakan ikrar kesetiaan, suasana berubah menjadi penuh getar makna.
“Imalu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuluhu wal mu’minun…”
Serempak dijawab: “Sami’na wa atha’na.”
Ada resonansi spiritual dalam momentum organisatoris itu. Kepemimpinan bukan sekadar struktur administratif, tetapi amanah yang disaksikan oleh Tuhan, Rasul, dan orang-orang beriman.
Estafet kepemimpinan pun diserahkan dari Salman Al Farizs, Presiden OPMAZ DB ke-22, kepada Presiden terpilih periode 23. Sebuah simbol bahwa jabatan bukan milik pribadi, melainkan titipan waktu.
Belajar Bernegara Sejak Bangku Sekolah
Syaykh menegaskan, bersyukur dapat melantik di awal Ramadhan adalah pengalaman yang akan tertanam dalam jiwa pelajar. Masa bakti yang tidak panjang ini adalah starter, sebagai pengalaman awal yang akan membekas ketika kelak mereka terjun di masyarakat.
Organisasi bukan sekadar agenda rapat. Ia adalah latihan hidup.
Menariknya lagi, struktur OPMAZ tahun ini mulai memikirkan keseimbangan Rijal dan Nisa. Tahun depan, representasi gender ditargetkan lebih seimbang. Ini bukan hanya tentang kuota, tetapi tentang kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan adalah milik bersama.
Peserta sidang pun dituntut aktif. Jika dinilai mampu, mereka bisa diperbantukan menjadi anggota kabinet. Jalur kaderisasi terbuka, fleksibel, dan meritokratis.
Menata Zaman dengan Kesadaran
Apa arti semua ini?
Di tengah dunia yang sering memisahkan pendidikan dari praktik nyata, pengalaman ini menghadirkan jembatan. Anak usia dini disebut tunas, karena mereka bukan sekadar kecil, tetapi sedang tumbuh. Dan pertumbuhan itu perlu ruang, perlu pengalaman, perlu kepercayaan.
Dari membaca dan menulis, mereka belajar memilih.
Dari memilih, mereka belajar bertanggung jawab.
Dari bertanggung jawab, mereka belajar memimpin.
Ramadhan menjadi saksi bahwa penyemaian kesadaran hidup berorganisasi dimulai sejak tingkat dasar. Transparansi, partisipasi, literasi, dan kaderisasi ditanamkan bukan lewat teori, tetapi lewat pengalaman langsung.
Jika pengalaman seperti ini terus dirawat, maka generasi yang lahir bukan hanya generasi yang cerdas secara akademik, tetapi matang secara sosial dan politik.
Dan mungkin, dari mihrab sederhana itu, sedang tumbuh calon-calon pemimpin masa depan yang memahami bahwa kepemimpinan bukan soal umur, bukan soal jabatan, tetapi soal kemampuan membaca zaman dan menuliskan perubahan. Ramadhan tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar.
Ia tentang menumbuhkan tunas kepemimpinan.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


