Tuesday, 17 February 2026

Semarak Festival Bahtera, Pelajar Perkapalan Uji Desain dan Ketangguhan Kapal

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu - Suasana kolam Al-kautsar di lingkungan pendidikan Ma'had Al-Zaytun berubah menjadi arena kompetisi yang ramai dan penuh semangat. Sorak pelajar dan penonton menggema sejak awal perlombaan Boat Race Festival Bahtera dimulai. Kegiatan ini menjadi tontonan sekaligus ajang pembuktian kemampuan teknis santri di bidang perkapalan. (15/2/26)

BRFB1

Sejak pagi, area sekitar kolam telah dipadati pelajar yang ingin menyaksikan langsung adu cepat kapal mini hasil rancangan teman-teman mereka. Diperkirakan 50 sampai 100 penonton hadir, menciptakan atmosfer kompetisi yang hidup. Setiap tim tampak serius mempersiapkan kapal, mengecek keseimbangan, daya dorong, dan respons kemudi sebelum dilepas ke lintasan.

Tercatat sekitar tujuh tim dari kelas 10 berpartisipasi. Masing-masing membawa desain dan konsep berbeda. Ada yang menonjolkan stabilitas, ada yang fokus pada kecepatan, dan ada pula yang menekankan efisiensi bentuk lambung.

Festival Bahtera sebagai Proses Akademik

Ketua pelaksana kegiatan, Agung Prasetyo, menuturkan bahwa Festival Bahtera bukan sekadar lomba balap kapal. Kegiatan ini dirancang sebagai proses pembelajaran terstruktur yang menggabungkan riset, penulisan ilmiah, desain, dan praktik lapangan.

Rangkaian dimulai dari pendaftaran dan pembentukan tim. Setelah itu, santri menyusun proposal dalam format karya tulis ilmiah. Proposal tersebut memuat konsep kapal, tujuan desain, perhitungan sederhana, serta strategi pembuatan.

BRFB2

Tahap berikutnya adalah produksi audio visual. Dalam tahap ini, tim menampilkan ide, proses berpikir, pembagian peran anggota, dan bukti orisinalitas gagasan. Media video menjadi sarana melatih komunikasi ilmiah sekaligus dokumentasi proses.

Tahap Desain dan Pameran Teknis

Setelah proposal dan video, santri masuk ke fase desain. Pada tahap ini, konsep mulai diterjemahkan menjadi gambar teknis. Desain yang dihasilkan kemudian dipamerkan dalam pameran khusus dan dinilai oleh guru serta tim teknis.

Aspek penilaian cukup detail, meliputi lines plan, proporsi lambung, standar konstruksi sederhana, hingga logika desain. Santri juga diperkenalkan pada konsep lunas, keseimbangan, dan stabilitas kapal. Model kapal yang diangkat tahun ini adalah kapal wisata, sehingga desain diarahkan pada kestabilan dan kenyamanan.

Melalui tahapan ini, santri belajar bahwa sebuah kapal tidak lahir dari ide spontan, tetapi dari proses perencanaan dan evaluasi.

Integrasi Pendekatan L-STEAMS

Kegiatan Festival Bahtera juga selaras dengan pendekatan L-STEAMS yang menekankan integrasi Law, Sains, Technology, Engineering, Art, Mamthematic, and Spiritual dalam pembelajaran. Dalam praktiknya, santri tidak hanya menghitung dan menggambar, tetapi juga mempertimbangkan estetika desain, kerja tim, serta dampak fungsional kapal.

lognews 31

Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih kontekstual. Santri memahami bahwa teknologi perkapalan berkaitan erat dengan kreativitas, logika, dan kolaborasi. Mereka belajar memecahkan masalah nyata, seperti bagaimana membuat kapal tetap stabil atau bagaimana meminimalkan hambatan air.

Dari Teori Menuju Samudera Inovasi

Festival Bahtera, singkatan dari Boat and High-Technology Race Al Zaytun, membawa semangat mengubah teori menjadi inovasi. Santri dilatih membaca gambar teknik dari nol, lalu mengaplikasikannya dalam bentuk kapal nyata, dan akhirnya mampu merancang desain sendiri.

BRFB3

Pihak sekolah menyediakan sarana, material, alat, dan ruang praktik. Dengan dukungan tersebut, santri dapat mengalami siklus belajar lengkap, dari konsep sampai uji performa.

Harapan Pembina dan Dampak Pendidikan

Para pembina berharap kegiatan ini menumbuhkan kompetensi jangka panjang. Tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga disiplin, riset mandiri, dan keberanian mempresentasikan ide.

Festival ini juga diharapkan menginspirasi siswa di luar ekstrakurikuler perkapalan untuk ikut mendukung atau bahkan terlibat di masa depan. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin kuat budaya inovasi di lingkungan sekolah.

Festival Bahtera menunjukkan bahwa pendidikan vokasional bisa dikemas ilmiah sekaligus kompetitif. Santri tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi menguji gagasan mereka di lapangan. Dari kolam kecil di lingkungan sekolah, lahir pengalaman belajar yang mengarah pada samudera pengetahuan dan inovasi. (Sahil untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah