Monday, 13 April 2026

Kisah Ki Sumyuk dan Wayang Kulit Indramayu yang Minim Penerus

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu – Upaya pelestarian wayang kulit di Indramayu terus dilakukan oleh keluarga dalang, meski menghadapi tantangan serius dalam hal regenerasi dan ekonomi. (9/4/26)

Salah satu pewaris tradisi tersebut, Ade Nun Sairin, mengungkapkan dirinya merupakan cucu dari dalang legendaris Ki Sumyuk. Hingga kini, peninggalan berupa ratusan wayang kulit masih tersimpan rapi dalam keluarga.

Menurut Ade, terdapat sekitar 240 wayang kulit yang dibuat langsung oleh Ki Sumyuk menggunakan bahan kulit kerbau. Koleksi tersebut menjadi bukti penting kejayaan seni pedalangan di masa lalu.

Warisan budaya itu kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, seperti Ki Surjanah dan Ki Gonda. Namun, seiring waktu, minat generasi muda untuk melanjutkan profesi dalang semakin menurun.

“Dari sembilan keturunan, tidak ada yang meneruskan menjadi dalang karena memang tidak mudah dan ada ritual tertentu,” ujar Ade.

Kondisi ini mencerminkan tantangan besar dalam pelestarian budaya, terutama ketika profesi dalang tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai tradisi dan spiritualitas.

Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi kendala. Dalam beberapa kasus, peninggalan budaya bahkan harus dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagaimana pernah dialami oleh Ki Gonda.

Padahal, peran dalang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan narasi budaya lokal. Dalam pertunjukannya, Ki Gonda membawakan kisah-kisah klasik seperti Mahabharata dan Ramayana, serta cerita lokal seperti Babad Dermayu yang menggunakan bahasa khas pesisir Indramayu.

Saat ini, keluarga berharap adanya dukungan dari pemerintah maupun kolektor untuk membantu merawat dan melestarikan peninggalan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Pelestarian wayang kulit bukan hanya soal menjaga benda fisik, tetapi juga mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. (Amri-untuk Indonesia)