Oleh : Suwandi, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id - Pagi itu, Sabtu, 28 Maret 2026, suasana di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, terasa berbeda. Hangat, khidmat, sekaligus penuh haru. Di kediaman Bapak Tarlan, satu momen sakral tengah dipersiapkan yaitu pertemuan dua hati dalam ikatan suci pernikahan. Difaul Diniah resmi dipersunting oleh Akhmad Alalamin, pemuda asal Brebes, Jawa Tengah.
Sejak pukul 08.00 WIB, tamu undangan mulai berdatangan. Wajah-wajah sumringah menyatu dalam doa dan harapan. Tepat sekitar pukul 09.00 WIB, ijab kabul dilangsungkan dengan lancar dan penuh kekhusyukan. Kalimat sah itu pun mengubah dua insan menjadi sepasang suami istri, membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka.
Namun, lebih dari sekadar seremoni, pernikahan ini menghadirkan pesan mendalam yang menyentuh hati.
Suwandi, S.Pd., Tutor PKBM Al Zaytun, didaulat menyampaikan nasehat pernikahan. Dengan suara tenang dan penuh makna, ia membuka sambutannya dengan ucapan selamat kepada kedua keluarga besar, yaitu Bapak Tarlan dan Bapak Asrori, yang kini dipersatukan tidak hanya oleh pekerjaan, tetapi juga oleh ikatan keluarga.
Keduanya memang bukan orang asing satu sama lain. Mereka sama-sama mengabdi di lingkungan Lembaga Kesejahteraan Masjid (LKM) Masjid Rahmatan Lil ‘Alamiin. Bapak Tarlan di bagian produksi air minum Hammayim, sementara Bapak Asrori menjaga keamanan. Dari hubungan kerja, kini terjalin hubungan besan, sebuah kisah yang memperlihatkan indahnya takdir yang dirangkai perlahan.
Kehangatan acara semakin terasa dengan keterlibatan keluarga besar PKBM Al Zaytun. Ibu Musfiroh, istri Bapak Tarlan, merupakan warga belajar Paket B. Para warga belajar pun turut ambil bagian, mulai dari tim paduan suara hingga penyajian hidangan. Sebuah potret nyata bahwa pendidikan bukan sekadar ruang kelas, tetapi juga tentang kebersamaan dan kebermanfaatan.
Masih dalam nuansa Idul Fitri 1447 H, Suwandi menyapa hadirin dengan ucapan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Ia mengingatkan bahwa selepas Ramadan, sejatinya manusia baru saja “lulus” dari madrasah ketaqwaan.
Lalu, ia mengangkat satu tema utama yang sederhana namun dalam: taqwa sebagai pakaian kehidupan.
“Taqwa adalah pakaian terbaik,” ujarnya. Bukan tanpa alasan, ia mengibaratkan taqwa seperti pakaian karena ia menutup, melindungi, dan memperindah kehidupan manusia. Bukan hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan antarsesama, terutama dalam rumah tangga.
Dalam penjelasannya, Suwandi merinci tujuh karakter taqwa yang menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga.
Pertama, disiplin dalam waktu, ruang, dan niat. Rumah tangga yang kuat lahir dari keteraturan dan kesungguhan dalam menjalani peran.
Kedua, keberanian untuk berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab. Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga kesiapan menghadapi realitas kehidupan.
Ketiga, menjaga nilai dan ajaran. Apa yang diwariskan oleh orang tua dan guru adalah kompas yang akan menuntun perjalanan rumah tangga.
Keempat, menjunjung tinggi kejujuran. “Jangan ada dusta di antara pasangan,” tegasnya, mengingatkan bahwa kepercayaan adalah pondasi utama.
Kelima, hidup hemat dan sederhana. Karena kemuliaan tidak diukur dari harta, tetapi dari ketaqwaan.
Keenam, menumbuhkan kasih sayang atau mawaddah. Cinta bukan sekadar rasa, tetapi usaha untuk terus menjaga dan merawat.
Dan ketujuh, memiliki sikap pantang menyerah. Karena dalam setiap rumah tangga, ujian pasti datang, dan di situlah kekuatan cinta diuji.
Tak lupa, Suwandi menyelipkan pesan yang begitu dalam: pentingnya berbakti kepada orang tua. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan hari ini tidak lepas dari doa-doa yang tak pernah putus dari orang tua.
“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua,” ucapnya pelan, namun menghunjam.
Nasehat itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia menjadi refleksi, pengingat, sekaligus bekal bagi kedua mempelai yang akan menapaki kehidupan baru.
Di penghujung acara, doa pun dipanjatkan. Harapan menggantung di langit pagi itu agar pernikahan ini menjadi awal dari keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Dan lebih dari itu, agar taqwa benar-benar menjadi “pakaian” yang tak pernah lepas. Pakaian yang menghangatkan, melindungi, dan memperindah perjalanan hidup mereka.
Sebuah pesan sederhana, namun abadi:
bahwa dalam kehidupan, yang paling indah bukanlah apa yang terlihat,
melainkan apa yang melekat di hati. Itulah taqwa. (Saheel untuk indonesia)
Oleh : Suwandi, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)



