lognews.co.id, Indramayu — Mapag Sri merupakan tradisi agraris yang hidup dalam budaya masyarakat Jawa dan Sunda, termasuk di Indramayu. Upacara ini digelar menjelang panen raya sebagai bentuk ungkapan syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah. Dalam bahasa Jawa halus, mapag berarti menjemput, sementara sri dimaknai sebagai padi sehingga Mapag Sri bermakna “menjemput panen”.
Meski panen terjadi setiap tahun, tradisi Mapag Sri tidak selalu dapat dilaksanakan karena berbagai faktor, seperti keamanan, kondisi sosial, hingga buruknya hasil panen. Namun, ketika pelaksanaan memungkinkan, penyelenggaraan upacara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam merawat identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Pelaksanaan upacara diawali dengan musyawarah atau rempugan yang dipimpin kepala desa bersama sesepuh atau tokoh masyarakat. Forum tersebut menentukan hari pelaksanaan serta kebutuhan dana. Setelah kesepakatan dicapai, pamong desa melakukan pengecekan ke sawah untuk memastikan padi telah menguning. Bila panen siap digelar, dilakukan pungutan dana secara gotong-royong sesuai kemampuan warga.
Tradisi sejak dahulu menyiapkan berbagai sesaji sesuai adat setempat. Terkadang sesaji yang disediakan meliputi bunga tujuh rupa, kemenyan, tebu, pring gading (bambu kuning), pisang setandan, kelapa muda, boreh, bubur tradisional, minyak wangi, uang receh, nasi tumpeng putih atau kuning, ayam panggang, serta hasil bumi seperti buah dan sayur. Aneka jajanan pasar turut melengkapi sesaji sebagai simbol kemakmuran.
Sebelum upacara dimulai, masyarakat melaksanakan tahlilan sebagai bentuk doa dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pelaksanaan Mapag Sri berjalan lancar. Setelah rangkaian doa dan makan bersama, acara dilanjutkan dengan pentas budaya berupa wayang, tari topeng, musik tradisional, hingga kirab budaya yang melibatkan warga, perangkat desa, dan tokoh adat.
Mapag Sri tidak hanya menjadi ritual syukur panen, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan, memperkokoh jati diri budaya Indramayu, serta menjaga kesinambungan tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
(Amri-untuk Indonesia)



