INDRAMAYU, lognews.co.id – Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd., menyampaikan kekaguman sekaligus optimismenya terhadap sistem pendidikan Ma’had Al-Zaytun saat memberikan sambutan dalam rangkaian Simposium Pendidikan Indonesia Raya Abadi di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Al-Zaytun, Indramayu (01/06/2026).

Dalam pidatonya, Prof. Imam menyoroti pentingnya melahirkan “putra-putri ideologi”, yakni generasi pejuang pendidikan yang memiliki visi besar, keberanian, serta kemampuan membangun peradaban seperti yang dilakukan Syaykh Panji Gumilang.
Al-Zaytun Dinilai Melahirkan Manusia Pejuang
Menurut Prof. Imam, keberhasilan Al-Zaytun selama lebih dari dua dekade membuktikan bahwa pendidikan yang kuat bukan hanya melahirkan lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki ideologi perjuangan dan keberanian berkarya nyata untuk bangsa.
“Kalau memiliki putra-putri ideologi, putra-putri pejuang seperti Syaykh Panji Gumilang, maka membangun 500 pusat pendidikan nasional berasrama di Indonesia bukan hal sulit dan bahkan tidak menjadi beban pemerintah. Itu akan terwujud dengan sendirinya,” ujarnya.
Ia mengaku setiap kali datang ke Al-Zaytun selalu merasa terharu dan bersyukur karena Indonesia memiliki sosok seperti Syaykh Panji Gumilang yang mampu membangun lembaga pendidikan besar tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
“Saya merasa bersyukur di negeri ini ada seorang Syaykh Panji Gumilang yang mampu mewujudkan lembaga pendidikan seperti ini tanpa bantuan pemerintah. Ini luar biasa,” katanya.
Pendidikan Tidak Cukup Hanya Ceramah
Dalam sambutannya, Prof. Imam juga mengkritik sistem pendidikan yang terlalu bertumpu pada teori dan ceramah di ruang kelas. Menurutnya, banyak lembaga pendidikan gagal melahirkan manusia yang benar-benar cerdas dan terampil karena peserta didik hanya diajak mendengarkan tanpa mengalami langsung apa yang dipelajari.
“Yang menjadikan orang pintar bukan sekadar mendengarkan atau membaca, tetapi melakukan sesuatu,” ungkapnya.
Ia mencontohkan bagaimana Al-Zaytun mengajarkan pertanian, peternakan, koperasi, teknologi perkapalan, hingga pendidikan agama secara nyata melalui praktik langsung di lapangan.
“Di sini ada bendanya, ada praktiknya, ada pengalaman nyatanya. Siswa tidak hanya diajak bicara tentang pertanian atau peternakan, tetapi diajak bertani dan beternak secara langsung,” jelasnya.
Menurutnya, pengalaman langsung itulah yang membentuk ilmu menjadi karya dan kemampuan nyata dalam kehidupan.
Sistem Pendidikan Al-Zaytun Dinilai Solutif
Prof. Imam menilai model pendidikan berasrama yang diterapkan Al-Zaytun layak menjadi solusi atas kegelisahan bangsa terhadap merosotnya kualitas pendidikan nasional.
Ia mengatakan banyak lembaga pendidikan hanya mengajarkan konsep tanpa membangun karakter, keterampilan, dan pengalaman hidup peserta didik. Sementara di Al-Zaytun, seluruh aktivitas pendidikan dibangun dalam ekosistem kehidupan yang nyata dan berkelanjutan.
“Ilmu itu sampai pada tingkat karya, dan karya diperoleh ketika seseorang mengalami langsung,” katanya.
Karena itu, ia optimistis gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama di seluruh Indonesia dapat diwujudkan apabila lahir generasi-generasi ideologis yang memiliki semangat perjuangan seperti Syaykh Panji Gumilang.
Kisah Perjuangan Syaykh Panji Gumilang
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Imam turut mengungkap kisah perjuangan panjang Syaykh Panji Gumilang sebelum mendirikan Al-Zaytun.
Ia menceritakan bagaimana Syaykh Panji Gumilang pernah bertugas selama 10 tahun bersama Rabithah Alam Islami di Kota Kinabalu, Malaysia Timur. Setelah masa tugasnya selesai, Syaykh memutuskan kembali ke Indonesia karena merasa terpanggil untuk membangun pendidikan bangsa.
Menurut Prof. Imam, saat itu banyak pihak menganggap gagasan besar pembangunan Al-Zaytun sebagai sesuatu yang mustahil.
“Bahkan ada yang mengatakan itu mimpi di siang bolong,” ujarnya.
Namun dengan modal awal dari sisa gaji selama bertugas di luar negeri serta tekad besar untuk membangun pendidikan Indonesia, Syaykh Panji Gumilang tetap melanjutkan perjuangannya hingga akhirnya Al-Zaytun berdiri dan berkembang menjadi kawasan pendidikan terpadu ribuan hektare seperti saat ini.
Siap Mendukung Revolusi Pendidikan Indonesia
Di akhir sambutannya, Prof. Imam menegaskan dirinya akan terus mendukung gagasan revolusi pendidikan Indonesia yang diperjuangkan Al-Zaytun melalui forum Simposium Pendidikan Indonesia.
“Sekalipun pemerintah tidak merespons gagasan besar ini, saya tidak takut. Saya akan terus berada di belakang Syaykh Panji Gumilang karena saya yakin Al-Zaytun mampu mewujudkan gagasan besar ini,” tegasnya.
Simposium Pendidikan Indonesia sendiri selama setahun terakhir rutin digelar setiap pekan di Al-Zaytun dengan menghadirkan para guru besar dan cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang perumusan gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama sebagai strategi menuju Indonesia Emas 2045. (Sahil untuk Indonesia)



