Indramayu, lognews.co.id – Usai menyepakati dan menandatangani Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi pada 1 Juni 2026 di Masjid Rahmatan Lil Alamin (MAZ), yang dihadiri sekitar 50 guru besar dan cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, sejumlah peserta memanfaatkan waktu sebelum kembali ke daerah masing-masing untuk meninjau berbagai model pendidikan dan pemberdayaan masyarakat yang berkembang di lingkungan MAZ.
Salah satunya adalah Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A., Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2020–2024. Di sela perjalanan kembali menuju Yogyakarta, beliau menyempatkan diri mengunjungi laboratorium pengembangan bibit pisang dan kawasan pertanian terpadu binaan tim pertanian MAZ yang selama ini menjadi pusat pembelajaran, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian berkelanjutan.
Menyusuri Kawasan Pertanian dengan Sepeda Ontel
Kunjungan tersebut terasa istimewa karena mempertemukan sahabat-sahabat lama yang sama-sama pernah aktif di HMI pada era 1993–1995. Setelah puluhan tahun menempuh jalan pengabdian masing-masing, mereka kembali dipertemukan dalam ruang yang sama: ruang ilmu, pemberdayaan masyarakat, dan kecintaan terhadap alam.
Bersama empat rekannya, Prof. Al Makin memilih cara yang sederhana namun berkesan untuk menuju lokasi. Mereka mengayuh sepeda ontel menyusuri hamparan kebun, melewati kandang sapi, kandang kambing, serta area pertanian produktif hingga tiba di kompleks laboratorium pembibitan pisang yang telah berdiri sejak sebelum pandemi Covid-19.
Laboratorium Bibit Pisang dan Ketahanan Pangan
Laboratorium binaan akademisi dan praktisi pertanian tersebut telah menghasilkan ribuan bibit pisang yang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Beragam varietas pisang dikembangkan di tempat ini, berasal dari berbagai daerah Nusantara maupun koleksi plasma nutfah dari luar negeri.
Filsafat Ekologi dan Pendidikan Kehidupan
Meski dikenal sebagai ilmuwan filsafat dan studi agama, Prof. Al Makin menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia pertanian dan lingkungan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari realitas ekologis yang menjadi penopang kehidupan manusia.
"Saya selalu membaca dan mengkaji berbagai disiplin ilmu dengan pendekatan filsafat ekologi," ungkapnya saat berdialog di lokasi.
Pernyataan tersebut mengundang diskusi hangat tentang hubungan antara ilmu, manusia, dan alam. Dalam pandangan filsafat ekologi, manusia bukan penguasa tunggal bumi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Karena itu, pengembangan pertanian berkelanjutan dan konservasi sumber daya hayati merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian dalam kunjungan tersebut adalah teknik perbanyakan bibit pisang melalui bonggol. Metode ini memungkinkan satu bonggol menghasilkan puluhan hingga ratusan tunas melalui teknik pemecahan dominansi tunas dan pembelahan bonggol secara bertahap.
Deklarasi Pendidikan yang Menyatu dengan Praktik Nyata
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa gagasan besar yang tertuang dalam Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi tidak hanya lahir dari ruang seminar dan forum ilmiah, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik nyata pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan.
Dari sepeda ontel, kandang ternak, hingga laboratorium bibit pisang, para cendekiawan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menyatu dengan kehidupan, memuliakan ilmu pengetahuan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.Alternatif judul yang lebih kuat dan terkait deklarasi:



