Monday, 20 April 2026

Ancaman Stagflasi Global 2026: Bank Indonesia Soroti Dampak Konflik AS - Iran terhadap Ekonomi Dunia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menekan kinerja ekonomi global pada tahun 2026. Kondisi ini ditandai dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia disertai peningkatan inflasi, yang mengarah pada fenomena stagflasi.

Pertumbuhan Melambat, Inflasi Meningkat

Destry menjelaskan bahwa produk domestik bruto (PDB) global pada 2026 diperkirakan hanya tumbuh sebesar 3,1 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 3,2 persen. Di sisi lain, tekanan inflasi global justru meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen.

Kondisi tersebut mencerminkan situasi ekonomi yang tidak ideal. Pertumbuhan melambat, sementara harga-harga terus meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai stagflasi, yaitu kombinasi stagnasi ekonomi dan inflasi tinggi yang dapat mengganggu stabilitas global.

Dampak Melalui Jalur Finansial

Konflik geopolitik tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global, terutama karena keterlibatan Amerika Serikat sebagai pusat keuangan dunia. Ketidakpastian yang meningkat mendorong pelaku pasar untuk menghindari risiko.

Fenomena risk-off pun terjadi, di mana investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen yang lebih aman. Hal ini tercermin dari penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang mencapai kisaran 4,5 hingga 4,6 persen.

Akibatnya, aliran modal global berbalik menuju negara maju, sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan arus keluar modal. Secara keseluruhan, Indonesia mencatat capital outflow sekitar Rp21 triliun, meskipun sempat terjadi aliran masuk pada instrumen seperti Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

Lonjakan Harga Komoditas Global

Dampak konflik juga terasa pada sektor komoditas, terutama energi. Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait posisi strategis Iran dan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Gangguan distribusi di wilayah tersebut menyebabkan harga minyak melonjak hingga menyentuh 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini kemudian merambat ke berbagai komoditas lain, seperti emas yang berfungsi sebagai aset aman, serta komoditas industri dan energi seperti batu bara, aluminium, dan minyak sawit mentah (CPO).

Beberapa negara bahkan mulai meningkatkan penggunaan energi alternatif seperti batu bara untuk mengantisipasi potensi krisis energi, yang turut mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.

Disrupsi Rantai Pasok dan Perdagangan Global

Meskipun kontribusi Iran terhadap perdagangan global relatif kecil, posisi geografisnya yang strategis menjadikan konflik di kawasan tersebut berdampak luas terhadap rantai pasok internasional.

Gangguan di jalur distribusi utama memicu kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi logistik. Dampaknya dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta mitra dagang utama Iran seperti Tiongkok, Irak, Turki, dan India.

Efek berantai dari kondisi ini juga menyentuh sektor industri hilir, termasuk kenaikan harga bahan baku plastik dan produk pertanian yang sangat bergantung pada stabilitas distribusi global.

Respons Kebijakan Global yang Lebih Fleksibel

Menghadapi tekanan tersebut, berbagai negara diperkirakan akan mengambil langkah kebijakan yang lebih adaptif. Kebijakan fiskal cenderung diperlonggar untuk menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi domestik.

Sementara itu, kebijakan moneter akan dijalankan dengan lebih hati-hati. Negara-negara akan berupaya menjaga daya tarik aset domestik agar tetap kompetitif di tengah persaingan global dalam menarik aliran modal.

Destry menegaskan bahwa koordinasi kebijakan menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Situasi ini menuntut respons yang cepat, terukur, dan terintegrasi antarnegara.

Ketidakpastian Global dan Tantangan Ekonomi

Konflik geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu tekanan sistemik terhadap ekonomi global. Ancaman stagflasi menjadi tantangan serius yang membutuhkan respons kolektif.

Lognews.co.id mencatat bahwa dalam kondisi seperti ini, ketahanan ekonomi nasional, diversifikasi sumber energi, serta penguatan sektor domestik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas di tengah gejolak global. (Saheel untuk Indonesia)