lognews.co.id, Jakarta – Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan populasi sekitar 42 juta jiwa, menggeser Dhaka dan Tokyo yang selama ini mendominasi daftar megakota global. Temuan dari World Urbanization Prospects 2025 itu menegaskan posisi Jakarta sebagai pusat urbanisasi terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu aglomerasi paling padat dalam sejarah pencatatan PBB. (04/4/26)
PBB menyebut Dhaka berada di posisi kedua dengan 36,6 juta penduduk dan Tokyo di urutan ketiga dengan 33,4 juta. Dhaka mencatat lompatan tajam dari peringkat sembilan ke posisi dua akibat migrasi besar-besaran dari wilayah pedesaan yang terdampak ekonomi dan bencana iklim. Tren serupa juga terjadi di Jakarta, di mana perpindahan penduduk dari desa ke metropolitan terus meningkat seiring peluang ekonomi, urbanisasi cepat, serta tekanan lingkungan seperti penurunan tanah dan kenaikan muka laut.
PBB menegaskan populasi global telah mencapai 8,2 miliar jiwa dan 45% tinggal di kota besar, naik signifikan dari 20% pada 1950. Dua pertiga pertumbuhan penduduk dunia hingga 2050 diprediksi terjadi di kawasan urban. Penerapan definisi baru “kota” sebagai aglomerasi sel grid 1 km dengan kepadatan minimal 1.500 jiwa membuat pemetaan megakota kini lebih akurat dan menempatkan Jakarta di peringkat teratas.
Indonesia memiliki populasi sekitar 286 juta jiwa, terbesar ke-4 dunia. Sebagai pusat ekonomi nasional, Jakarta menghadapi tekanan ruang, kepadatan permukiman, kemacetan mobilitas harian, hingga risiko banjir rob yang kian meningkat. Tingkat konsentrasi penduduk ekstrem ini menjadi salah satu dasar pemerintah memindahkan ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur. Proyek pusat pemerintahan baru tersebut, bernilai sekitar 32 miliar dolar AS, kini diproyeksikan beroperasi penuh pada 2028.
PBB juga menyoroti bertambahnya jumlah megakota global dari delapan pada 1975 menjadi 33 pada 2025, dengan lebih dari separuh berada di Asia. Jakarta, Dhaka, dan Tokyo disebut sebagai trio megakota dengan konsentrasi penduduk paling rapat di dunia, mencerminkan kompleksitas pengelolaan layanan publik, tata ruang, hingga keterjangkauan mobilitas urban.
Temuan ini menempatkan Jakarta sebagai simbol perubahan demografi global yang bergerak cepat, sekaligus menegaskan perlunya kebijakan jangka panjang untuk mengelola urbanisasi ekstrem di kawasan Asia.
(Amri-untuk Indonesia)
Top of Form
Bottom of Form



