lognews.co.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap konsumsi minuman berlabel zero sugar yang menggunakan pemanis buatan. Menurutnya, klaim tanpa gula tidak selalu identik dengan pilihan paling sehat karena tetap dapat memengaruhi respons metabolisme tubuh. (27/4/26)
Peringatan tersebut disampaikan Budi melalui unggahan media sosial pribadinya pada akhir pekan. Ia menyoroti penggunaan zat pemanis buatan seperti Aspartam, Sukralosa, dan Sakarin yang umum dipakai dalam produk minuman rendah gula.
Menurut Budi, bahan tersebut memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibanding gula pasir, sehingga dalam jumlah kecil sudah mampu menghasilkan rasa manis kuat. Namun, rasa manis yang diterima lidah dapat memicu sinyal ke otak seolah tubuh akan menerima asupan energi.
Saat energi dari gula tidak benar-benar masuk ke tubuh, respons biologis tertentu dapat muncul, termasuk meningkatnya keinginan makan atau mencari sumber kalori lain. Kondisi itu dinilai berpotensi membuat seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tambahan secara berlebihan.
Ia menilai masyarakat perlu memahami komposisi bahan pada kemasan, bukan hanya terpaku pada label pemasaran seperti zero sugar, low sugar, atau diet. Menurutnya, pemahaman terhadap kandungan produk penting untuk menjaga pola makan seimbang dan mencegah gangguan kesehatan jangka panjang.
Budi juga menyinggung sistem penilaian kualitas pangan berdasarkan kandungan bahan tertentu. Ia menyebut produk yang memakai pemanis buatan dalam kadar tertentu layak mendapat perhatian lebih dari konsumen.
Meski demikian, para ahli gizi umumnya menilai pemanis buatan yang telah lolos standar keamanan pangan tetap dapat dikonsumsi dalam batas aman yang ditetapkan regulator. Karena itu, kunci utamanya adalah moderasi konsumsi, memperhatikan total pola makan harian, serta membatasi minuman manis secara keseluruhan.
Masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih, memilih makanan minim proses, dan membaca label nutrisi sebelum membeli produk kemasan. Langkah sederhana tersebut dinilai lebih efektif menjaga kesehatan dibanding hanya mengandalkan klaim pada kemasan produk. (Amri-untuk Indonesia)



