Friday, 20 February 2026

Konsumsi Buah Sayur Berwarna Bantu Turunkan Risiko Kanker

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id — Konsumsi buah dan sayuran berwarna dalam pola makan harian dinilai dapat membantu menurunkan risiko beberapa jenis kanker, seiring anjuran pemenuhan gizi seimbang dan gaya hidup sehat. Rekomendasi ini sejalan dengan panduan kesehatan internasional terkait konsumsi minimal 400 gram buah dan sayur per hari. (18/2/26)

Sejumlah ahli kesehatan menyebut variasi warna pada buah dan sayur berkaitan dengan kandungan vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan yang berbeda. Warna merah, misalnya, mengandung likopen yang dikenal sebagai antioksidan kuat dan dikaitkan dengan perlindungan terhadap kanker tertentu, termasuk kanker prostat, meski hasil penelitian masih beragam dan tidak bersifat mutlak.

Contoh sumber likopen antara lain tomat, paprika merah, semangka, dan jeruk bali merah muda. Selain merah, kelompok warna oranye dan kuning kaya beta-karoten dan karotenoid yang mendukung kesehatan kulit dan mata, sementara warna hijau mengandung zat besi serta senyawa fitonutrien yang membantu fungsi metabolisme tubuh.

Buah dan sayuran ungu seperti anggur merah, terong, dan plum mengandung antosianin yang berperan sebagai antioksidan. Konsep konsumsi “pelangi” mendorong masyarakat mengombinasikan berbagai warna dalam satu hari agar asupan zat gizi lebih beragam dan saling melengkapi.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan konsumsi minimal lima porsi atau setara 400 gram buah dan sayur setiap hari untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker. Namun, konsumsi lima jenis dengan warna sama tetap dihitung sebagai satu kelompok variasi, sehingga keberagaman warna tetap menjadi kunci.

Pakar menegaskan pola makan sehat harus disertai aktivitas fisik rutin, pembatasan gula dan lemak jenuh, serta pemeriksaan kesehatan berkala. Buah dan sayur bukan jaminan pencegahan total kanker, tetapi bagian dari strategi preventif berbasis bukti ilmiah untuk menurunkan risiko jangka panjang. (Amri-untuk Indonesia)