Tuesday, 12 May 2026

Runtuhnya Integritas Juri: Ketika Kuasa Membungkam Fakta di Depan Mata

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: LatifWH (Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan) 

lognews.co.id - Viralnya kasus Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI 2026 di Kalimantan Barat menjadi tontonan yang menyakitkan bagi banyak orang.

Bagaimana tidak? Jawaban yang benar dari satu regu justru dinyatakan salah dan diberi nilai minus 5. Ironisnya, jawaban yang sama dari regu lain malah dianggap benar dan diberi nilai 10. Semua terjadi terang-terangan di hadapan peserta dan penonton.

Di situlah generasi muda diperlihatkan secara nyata tentang wajah ketidakadilan. Tentang bagaimana kebenaran bisa dipatahkan oleh mereka yang memiliki kewenangan. Tentang bagaimana keputusan dapat berubah bukan karena fakta, melainkan karena siapa yang memegang kuasa.

Lebih menyedihkan lagi, hal seperti ini dilakukan oleh “dewan juri” yang seharusnya menjadi teladan. Orang-orang yang mestinya mengajarkan sportivitas, kejujuran, dan kebijaksanaan, justru mempertontonkan kebingungan keputusan yang terkesan sewenang-wenang. 

Apa yang terjadi di lomba itu seakan menjadi miniatur keadaan yang sering dirasakan masyarakat: hukum dan keputusan terkadang tidak lagi berdiri di atas kejujuran, melainkan kepentingan. Yang benar bisa disalahkan. Yang salah bisa dibenarkan.

Namun untuk para peserta muda yang dirugikan, bersabarlah. Ini mungkin bukan sekadar lomba pengetahuan, melainkan pelajaran hidup tentang bagaimana menghadapi ketidakjujuran dan ketidakadilan.

Dan kelak, bila kalian menjadi pemimpin, menjadi juri, menjadi orang yang memiliki kewenangan — jangan balas luka ini dengan cara yang sama. Jadilah pribadi yang adil, jujur, dan bijak. Jadilah teladan yang menghadirkan rasa hormat, bukan ketakutan.

Kini ketika video kejadian itu telah viral dan dapat diputar ulang berkali-kali, publik tentu menunggu: adakah keberanian dari pihak juri untuk melakukan klarifikasi atau sekadar meminta maaf?

Sebab mengakui kesalahan tidak akan menjatuhkan martabat. Justru itulah tanda kejujuran dan kebesaran hati. (Sahil/Amri untuk Indonesia)