Thursday, 07 May 2026

663 Ribu Anak Sekolah Alami Tekanan Darah Tinggi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah menemukan ratusan ribu anak usia sekolah di Indonesia mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena dinilai sebagai fenomena baru yang dapat berdampak terhadap kesehatan generasi muda di masa mendatang. (07/05/26).

Berdasarkan data skrining Program CKG periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026, sebanyak 22,1 persen atau sekitar 663 ribu anak dari total 4,8 juta siswa yang diperiksa tercatat mengalami peningkatan tekanan darah.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan di sekitar 48 ribu sekolah di berbagai daerah di Indonesia dengan melibatkan puskesmas dan tenaga kesehatan setempat.

Kepala Badan Komunikasi RI, Muhammad Qodari, mengaku terkejut dengan hasil pemeriksaan tersebut karena hipertensi selama ini identik dengan kelompok usia dewasa.

“Waduh, anak-anak sudah darah tinggi ya? Fenomena baru ini,” ujar Qodari dalam paparannya di Jakarta Pusat, Rabu.

Menurutnya, hipertensi pada usia dini berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan serius seperti penyakit jantung apabila tidak ditangani sejak awal. Karena itu, program skrining kesehatan dinilai penting untuk mendeteksi masalah kesehatan yang selama ini tidak disadari oleh orang tua maupun pihak sekolah.

Qodari mengatakan tanpa adanya Program CKG, banyak gangguan kesehatan pada anak kemungkinan tidak akan terdeteksi karena sebagian besar tidak menunjukkan gejala secara langsung.

“Kalau tidak ada CKG ini, kami tidak tahu. Ini harus dianalisis lebih dalam, kenapa anak-anak itu sudah mengalami tekanan darah tinggi,” katanya.

Selain tekanan darah tinggi, program tersebut juga menemukan sejumlah persoalan kesehatan lain pada anak usia sekolah. Sebanyak 41 persen siswa tercatat mengalami gigi berlubang, sedangkan 8,6 persen lainnya mengalami penumpukan kotoran telinga.

Namun demikian, kasus hipertensi menjadi sorotan utama karena dianggap sebagai tren baru dengan risiko kesehatan jangka panjang yang cukup serius.

Program Cek Kesehatan Gratis sendiri dirancang untuk memperluas akses layanan kesehatan dasar, khususnya bagi anak-anak dari keluarga yang belum terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.

Sejak diluncurkan pada 2025, program tersebut diklaim telah menjangkau lebih dari 100 juta penduduk Indonesia. Meski begitu, angka tersebut baru mencakup sekitar sepertiga dari total populasi nasional.

Pemerintah menilai temuan ini menjadi alarm penting untuk memperkuat intervensi kesehatan sejak usia dini, termasuk melalui edukasi pola hidup sehat, pengawasan konsumsi makanan, aktivitas fisik, hingga pemeriksaan kesehatan berkala di lingkungan sekolah.

Sejumlah pengamat kesehatan juga menilai meningkatnya kasus hipertensi pada anak dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti pola makan tinggi garam dan gula, minim aktivitas fisik, kurang tidur, hingga tingginya penggunaan gawai pada usia sekolah.

Pemerintah diharapkan segera melakukan kajian lanjutan guna mengetahui penyebab utama meningkatnya tekanan darah tinggi pada anak agar langkah penanganan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

(Amri-untuk Indonesia)