Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Pendidikan sejati tidak lahir hanya dari papan tulis, buku paket, atau deretan bangku kelas. Ia tumbuh dari denyut kehidupan yang utuh, dari pagi yang mendidik disiplin, siang yang menajamkan intelektual, sore yang melatih bakat, hingga malam yang membangun karakter. Sebab manusia tidak dibentuk oleh beberapa jam pelajaran, melainkan oleh keseluruhan waktu yang mengelilinginya. Di sinilah sekolah berasrama menemukan makna terdalamnya: menjadikan 24 jam kehidupan pelajar sebagai ruang pendidikan tanpa jeda.
Konsep inilah yang selama ini menjadi ruh penyelenggaraan pendidikan di Ma’had Al Zaytun. Dalam sistem pendidikan berasrama, tidak dikenal dikotomi antara belajar dan tidak belajar, antara ruang kelas dan luar kelas, antara jam sekolah dan jam asrama. Seluruh aktivitas pelajar merupakan satu kesatuan proses pembentukan manusia. Sekalipun secara teknis terdapat pembagian waktu: mulai pukul 07.00 hingga 13.30 untuk kegiatan formal di kelas, pukul 15.30 hingga 17.00 untuk kegiatan ekstra kurikuler atau nonformal, dan selebihnya pendidikan informal di lingkungan asrama, namun semuanya sesungguhnya mengalir dalam satu tujuan yang sama: mendidik insan secara paripurna.
Di Ma’had Al Zaytun, pendidikan formal ditangani oleh Manajemen Satuan Pendidikan dari jenjang PAUD hingga MA. Pendidikan nonformal dilaksanakan oleh unit-unit kegiatan, terutama KOSMAZ serta kelompok-kelompok ekstrakurikuler. Adapun pendidikan informal yang berlangsung sepanjang kehidupan keseharian santri berada di bawah tanggung jawab Manajemen Asrama. Meski secara struktur dikelola oleh manajemen yang berbeda, seluruhnya tetap berada dalam satu naungan besar: Ma’had Al Zaytun, di bawah bimbingan Syaykh Al Zaytun dan Ketua Yayasan. Karena itu, tidak boleh ada sekat-sekat yang membuat pendidikan berjalan sendiri-sendiri.
Pesan mendasar inilah yang terus digaungkan oleh Syaykh Al Zaytun: jangan ada bagian yang merasa terpisah. Pendidikan formal, nonformal, dan asrama harus menjadi satu tubuh yang saling menguatkan. Sebab jika satu unsur bergerak tanpa irama dengan unsur lainnya, maka pendidikan akan kehilangan daya sentuhnya. Santri akan menerima ilmu di kelas, tetapi belum tentu memperoleh pembiasaan yang sama di asrama; bakat diasah di ekstrakurikuler, namun belum tentu didukung dengan pengawasan karakter yang terintegrasi. Harmonisasi menjadi kata kunci agar seluruh proses pendidikan benar-benar melahirkan generasi utuh.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi pertemuan penting antara pengurus Majelis Guru (MG) Al Zaytun dan Majlis Pengendali Asrama Pelajar (MPAP) Al Zaytun pada Sabtu, 25 April 2026, mulai pukul 09.00 hingga 13.00. Forum diskusi ini bukan sekadar rapat rutin, melainkan sebuah ikhtiar serius untuk memetakan sumber daya manusia yang dimiliki serta menyatukan arah gerak dua institusi strategis tersebut. Secara teknis, pendidikan formal dan nonformal memang berada di bawah koordinasi MG Al Zaytun, sedangkan asrama dikoordinasikan oleh MPAP. Namun keduanya dipandang harus melebur dalam satu sistem kerja yang saling menopang, bukan berjalan dalam rel yang berbeda.
Dalam forum tersebut, pembahasan pertama yang mencuat justru menyentuh akar yang sangat mendasar: kesehatan guru. Sebab guru adalah lokomotif pendidikan. Sebaik apa pun kurikulum dirancang, sehebat apa pun fasilitas disediakan, semua akan terhambat jika tenaga pendidiknya tidak berada dalam kondisi prima. Dari sinilah lahir kesepakatan penting untuk mengadakan program general check-up bagi seluruh guru. Langkah ini bukan sekadar agenda medis, tetapi bentuk penghargaan terhadap guru sebagai aset utama pendidikan. Dengan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, hambatan akibat gangguan kesehatan dapat dideteksi sejak dini sehingga kualitas pengabdian guru tetap terjaga.
Pembahasan berikutnya bergerak pada pemetaan guru secara lebih komprehensif. Selama ini, tuntutan tugas guru di lingkungan boarding school tidak hanya sebatas mengajar di kelas. Mereka juga terlibat dalam pembinaan ekstrakurikuler, pengawasan asrama, pendampingan karakter, hingga berbagai kegiatan kelembagaan lainnya. Karena itu diperlukan pemetaan yang cermat agar distribusi tugas tidak timpang dan seluruh kegiatan sekolah berjalan selaras. Dari diskusi ini disepakati perlunya pembentukan bagian HRD yang secara khusus bertugas memetakan penugasan guru, melakukan pengawasan kinerja, sekaligus menyiapkan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan demikian, guru tidak hanya bekerja, tetapi juga terus bertumbuh.
Hal lain yang tidak luput dari perhatian adalah realitas sosial para guru yang memiliki anak balita. Selama ini, kebutuhan pengasuhan anak saat ayah dan ibu bertugas di sekolah masih ditangani secara bergilir oleh para guru sendiri. Situasi ini tentu membutuhkan solusi yang lebih profesional agar tugas mendidik tidak terganggu oleh beban domestik yang belum tertata. Dari sinilah muncul rumusan perlunya pendirian day care yang dikelola secara profesional. Gagasan ini menunjukkan bahwa Al Zaytun tidak hanya memikirkan santri sebagai peserta didik, tetapi juga memikirkan kesejahteraan guru sebagai pendidik. Sebab guru yang tenang keluarganya akan lebih fokus dalam mengabdi.
Diskusi strategis ini juga merambah pada perumusan kompetensi yang perlu dimiliki santri dalam setiap fase tumbuh kembangnya. Pendidikan tidak cukup hanya berjalan; ia harus memiliki standar capaian yang jelas dan terukur. Karena itu direkomendasikan adanya rumusan kompetensi santri yang mencakup dimensi akademik, keterampilan, kepemimpinan, kedisiplinan, spiritualitas, hingga kemandirian hidup. Dengan adanya standar tersebut, proses pendidikan di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan pembinaan asrama dapat diarahkan pada target yang sama serta dievaluasi secara objektif.
Apa yang berlangsung dalam forum MG dan MPAP ini sesungguhnya menunjukkan satu hal penting: pendidikan berasrama menuntut orkestrasi yang rapi. Ia tidak bisa diserahkan pada kerja parsial. Semua unsur harus saling menjahit peran, saling memahami fungsi, dan saling mengisi kekurangan. Sebab santri tidak hidup dalam fragmen-fragmen pendidikan, melainkan dalam sebuah ekosistem pendidikan yang menyeluruh.
Di tengah banyaknya lembaga pendidikan yang masih memisahkan antara transfer ilmu, pembinaan bakat, dan pengawasan karakter, Ma’had Al Zaytun justru menegaskan bahwa ketiganya harus berada dalam satu nafas. Kelas mencerdaskan pikiran, ekstrakurikuler menguatkan kemampuan, dan asrama membentuk jiwa. Jika ketiganya harmonis, maka lahirlah generasi yang bukan hanya pandai, tetapi juga tangguh, sehat, disiplin, dan matang secara sosial.
Karena pada akhirnya, pendidikan 24 jam bukan tentang lamanya santri berada di lingkungan sekolah. Pendidikan 24 jam adalah tentang kesungguhan lembaga dalam memastikan bahwa setiap detik kehidupan pelajar bernilai didik. Dan ketika seluruh unsur mau menyatu tanpa sekat, di situlah sebuah peradaban mulai dijahit dari ruang kelas, lapangan seni olahraga, hingga lorong-lorong asrama.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah




