Sunday, 26 April 2026

Pendidikan sebagai Investasi, Bukan Beban : Prof. Dr. H Abdul Hadi Sirat, S.E., M.Si.

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id, Indramayu – Pelatihan Pelaku Didik yang digelar di Kampus Al-Zaytun Indonesia, Ahad (26/04/2026), menghadirkan rangkaian simposium dan podcast yang menyoroti arah baru pembangunan pendidikan nasional berbasis penguatan sumber daya manusia atau human capital.

Kegiatan ini menegaskan satu gagasan utama, bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas pendidik sebagai aktor utama dalam sistem pendidikan.

“Jika ingin membangun pendidikan, bangunlah pendidiknya,” tegas Prof. Hadi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kualitas tenaga pendidiknya, karena merekalah yang menjadi penggerak utama dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik.

Pendidikan sebagai Investasi, Bukan Beban

Dalam sesi podcast lanjutan, Prof. Hadi mengkritisi cara pandang yang masih keliru terhadap anggaran pendidikan.

“Selama ini anggaran pendidikan yang kita sebut human capital itu dianggap cost, padahal itu investasi. Hasilnya memang tidak bisa dilihat sekarang, tapi nanti,” ujarnya

Ia menekankan bahwa dampak pendidikan bersifat jangka panjang, sehingga tidak bisa diukur secara instan seperti sektor ekonomi lainnya. Investasi pada manusia justru menjadi fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“SDM yang maju, pasti perekonomian akan maju,” tambahnya.

Pernyataan ini menunjukkan hubungan erat antara kualitas pendidikan dan kemajuan ekonomi nasional

Meluruskan Persepsi tentang Al-Zaytun

Menanggapi persepsi publik yang berkembang di media, Prof. Hadi memberikan klarifikasi berdasarkan pengamatannya langsung di lapangan.

“Yang kita lihat di TV itu tidak benar. Saya hadir langsung dan melihat dari aspek manajemen pendidikan, ini sangat baik,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Dari sisi manajemen dan sistem, Al-Zaytun dinilai memiliki tata kelola yang kuat dan terstruktur.

“Saya melihat keterampilan seperti membuat kapal dan lain-lai n. Ini menunjukkan sistem pendidikan yang tidak hanya teoritis, tapi juga aplikatif,” jelasnya.

Hal ini memperkuat bahwa pendekatan pendidikan di Al-Zaytun mengintegrasikan teori dengan praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan ekonomi.

Gagasan 500 Titik Pendidikan Nasional Berangkat dari Visi Syaykh Al-Zaytun

Dalam pembahasan strategis, gagasan pengembangan 500 titik pusat pendidikan di seluruh Indonesia disebut sebagai bagian dari visi besar yang telah lama didorong oleh Syaykh Al-Zaytun dalam membangun sistem pendidikan nasional yang terintegrasi.

Simposium yang menghadirkan Prof. Dr. H. Abdul Hadi Sirat ini menjadi ruang penguatan konseptual, sekaligus upaya menghimpun berbagai perspektif akademik untuk mendukung realisasi gagasan tersebut.

“Program ini akan dirumuskan oleh 45 profesor, dan akan melahirkan satu pemikiran bersama untuk menggagas 500 titik pendidikan di Indonesia,” ujar Prof. Hadi.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa forum ilmiah yang digelar bukan hanya diskusi biasa, tetapi merupakan bagian dari proses pematangan ide besar yang telah digagas sebelumnya.

Gagasan ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menciptakan pemerataan kualitas sumber daya manusia di berbagai wilayah Indonesia.

Namun demikian, Prof. Hadi menegaskan bahwa realisasi dari gagasan tersebut memerlukan dukungan sistemik.

“Harus dibuat guideline atau peraturannya. Ini menyangkut anggaran APBN dan harus dibuat undang-undangnya,” tegasnya.

Artinya, gagasan yang berangkat dari visi tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan agar dapat diimplementasikan secara luas.

Sinergi Antar Lembaga Pendidikan

Dalam konteks hubungan antar institusi pendidikan, Prof. Hadi mengkritisi pola kompetisi yang tidak sehat.

“Jangan dijadikan kompetitor. Kalau begitu, yang kuat makin kuat dan yang lemah makin lemah,” jelasnya.

Ia menilai bahwa pendekatan kompetitif yang berlebihan justru dapat memperlebar kesenjangan kualitas antar lembaga pendidikan.

“Kompetisi itu harus saling mendukung, bukan saling menjatuhkan,” tambahnya.

Dengan demikian, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih merata dan inklusif.

Sistem Pendidikan Berkelanjutan

Prof. Hadi juga menyoroti keunggulan sistem pendidikan berkelanjutan yang diterapkan di Al-Zaytun.

 “Di sini bagus, karena mendidik dari Tunas PAUD. Ini menjadi input yang baik dan berlanjut terus,” ujarnya.

Ia melihat bahwa kesinambungan pendidikan dari usia dini hingga jenjang lanjutan mampu membentuk fondasi yang kuat dalam pengembangan sumber daya manusia.

“Harus ada pembinaan kepemimpinan, evaluasi berkala, dan sistem yang terus berjalan,” katanya.

Pernyataan ini menekankan pentingnya sistem yang tidak terputus serta adanya regenerasi kepemimpinan dalam pendidikan.

Pendekatan Berbasis Kearifan Lokal

Dalam menjawab tantangan ketimpangan wilayah, Prof. Hadi menekankan pentingnya pendekatan berbasis potensi daerah.

“Di wilayah timur, potensi laut sangat besar, maka pendidikan harus mengarah ke sana. Kalau di Jawa, bisa fokus ke darat,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan lokal.

“Kalau itu berjalan, output kita akan tinggi dan pemerataan akan terjadi,” ujarnya. 

Artinya, pendidikan yang kontekstual akan menghasilkan lulusan yang lebih siap dan produktif di lingkungannya masing-masing.

Nilai Spiritual dan Arah Pendidikan

Selain aspek teknis dan sistem, Prof. Hadi juga menekankan pentingnya nilai spiritual dalam pendidikan.

“Semua harus diawali dengan niat yang baik. Kalau niatnya baik, hasilnya juga akan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, nilai spiritual menjadi fondasi yang menentukan arah dan kualitas hasil pendidikan.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan Al-Zaytun.

“Ini luar biasa. Dalam waktu 26 tahun, perkembangannya sangat cepat,” katanya

Pernyataan ini mencerminkan optimisme terhadap model pendidikan yang diterapkan,  Rangkaian simposium dan podcast ini memperkuat satu kesimpulan utama, bahwa pembangunan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, berkelanjutan, dan berbasis nilai. Pendidik menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi unggul sebagai fondasi kemajuan bangsa. (Saheel untuk indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah