Sunday, 26 April 2026

Bendera Bakti di Kampus Peradaban Al Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indramayu - Tidak semua perjalanan dimulai untuk sekadar datang dan pulang. Ada perjalanan yang membawa niat lebih dalam: menimba pandangan, menautkan gagasan, lalu pulang dengan api pengabdian yang lebih menyala. Sabtu pagi, 25 April 2026, ketika rombongan Gerakan Pramuka Satuan Karya Amal Bakti Kementerian Agama Indramayu melintasi gerbang utara Mahad Al Zaytun, yang mereka bawa bukan hanya atribut organisasi dan agenda kunjungan, tetapi juga harapan agar gerakan kepanduan tetap menjadi suluh pembinaan karakter di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Sejak pukul 08.15 WIB, dua belas tokoh pendidikan yang tergabung dalam Saka Amal Bakti Kementerian Agama Indramayu telah tiba. Mereka dipimpin oleh Gojali, Ketua Saka Amal Bakti yang juga Kepala MTsN 10 Indramayu, bersama H. Taufik Ismail selaku sekretaris, Suhadi dari Dewan Pembina, serta para anggota yang berasal dari madrasah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah di berbagai kecamatan. Kehadiran mereka menghadirkan satu pesan jelas: dunia pendidikan membutuhkan ruang-ruang perjumpaan untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling menemukan format terbaik dalam membina generasi muda.

Pramuka gojali1000369111

Sambutan hangat di Meeting Room Al Islah membuka suasana persaudaraan. Secangkir kopi, snack, dan air Hamayim tersaji sederhana, namun pertemuan itu segera menunjukkan bahwa yang lebih penting dari suguhan meja adalah suguhan pemikiran. Sebelum memasuki forum resmi, rombongan diajak melakukan towaf lingkungan Mahad, menelusuri jantung kehidupan pendidikan yang telah lama dikenal sebagai kampus peradaban.

Langkah demi langkah mereka menyusuri Gedung Abu Bakar, Gedung Umar, Pendopo, lokasi ekstrakurikuler pertanian, Masjid Rahmatan Lil Alamin, hingga Asrama Annur. Dari peninjauan itu, para tamu tidak sekadar melihat bangunan megah, melainkan menyaksikan bagaimana pendidikan dibangun sebagai sistem kehidupan yang utuh. Di Al Zaytun, kelas tidak berhenti ketika bel pelajaran usai, sebab setiap ruang, setiap aktivitas, dan setiap detik kehidupan santri adalah bagian dari proses pembentukan manusia.

Pukul 10.30 WIB, rombongan kembali ke Al Islah untuk memasuki inti acara: Silaturahmi dan Koordinasi Gerakan Pramuka Saka Amal Bakti Kementerian Agama Indramayu dengan civitas Satuan Komunitas Gudep Komunitas Al Zaytun 12.001–12.002, didampingi Pinsako Gudep Komunitas Al Zaytun 12.001 serta jajaran pangkalan Penegak-Pandega MA Al Zaytun. Forum dibuka dengan khidmat melalui pembukaan acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, prakata dari Pinsako, serta penyampaian silaturahmi dan koordinasi oleh Gojali S.Pd.I. sebagai Pinsaka Amal Bakti Kementerian Agama Indramayu.

Dalam penyampaiannya, Gojali menegaskan bahwa kunjungan ini bukan hanya untuk menjalin hubungan kelembagaan, melainkan juga untuk memperkuat koordinasi pembinaan gerakan pramuka berbasis nilai-nilai pengabdian dan pendidikan. Saka Amal Bakti, sebagai satuan karya yang lahir dari rahim Kementerian Agama, memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan semangat disiplin, kepedulian, kecakapan hidup, dan jiwa melayani. Karena itulah, Mahad Al Zaytun dipilih sebagai tujuan silaturahmi: sebuah lembaga yang dinilai berhasil memadukan pendidikan formal, pembinaan karakter, spiritualitas, dan kemandirian dalam satu tarikan nafas.

Momentum penyerahan bendera Saka Amal Bakti menjadi simbol yang sarat makna. Bendera itu bukan sekadar lambang organisasi, tetapi representasi estafet tanggung jawab antarpendidik untuk menjaga nyala bakti tetap hidup dalam diri generasi muda. Ketika lagu persembahan dikumandangkan, suasana forum pun menghangat, berubah dari sekadar pertemuan formal menjadi ruang batin yang menyatukan visi.

Memasuki sesi pandangan umum dari Ka Mabisako, forum berkembang menjadi dialog SGTD yang hidup dan terbuka. Di sinilah percakapan menemukan ruhnya. Gerakan pramuka dibahas bukan semata sebagai kegiatan seragam mingguan, melainkan sebagai strategi pembentukan manusia Indonesia yang tangguh, berjiwa sosial, berpikir luas, dan mampu hidup dalam tantangan global. Ada kesadaran bersama bahwa pembinaan generasi hari ini harus melampaui teori dan seremonial; ia harus menyentuh pembiasaan, keterampilan, kedisiplinan, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab kolektif.

Selepas forum, ramah tamah menjadi jembatan emosional yang memperhalus hubungan kedua lembaga. Namun agenda pembelajaran belum selesai. Rombongan kembali diajak melihat ekstrakurikuler perkapalan dan pertanian, dua bidang yang menggambarkan orientasi pendidikan produktif. Di sana para tamu menyaksikan bahwa peserta didik tidak hanya dibina menjadi insan yang pandai berbicara, tetapi juga insan yang mampu berkarya, bekerja, dan menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan.

Kunjungan ini pada akhirnya menegaskan satu hal penting: bahwa dunia pendidikan tidak bisa dibangun oleh satu lembaga sendirian. Madrasah, sekolah, gerakan kepanduan, dan pesantren harus saling menautkan kekuatan. Silaturahmi yang dilakukan Saka Amal Bakti Kementerian Agama Indramayu ke Mahad Al Zaytun menjadi bukti bahwa pengabdian memerlukan kolaborasi, dan kolaborasi memerlukan kerendahan hati untuk saling belajar.

Sore menjelang ketika rombongan melangkah pulang menuju Indramayu. Tetapi sesungguhnya mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa pulang pandangan baru, semangat baru, dan keyakinan baru bahwa gerakan pramuka masih memiliki jalan panjang untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan. Di kampus peradaban itu, bendera bakti telah dikibarkan kembali sebagai tanda bahwa pengabdian tidak boleh redup, dan pendidikan karakter harus terus dijaga menyala.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah