Oleh Sri Wahyuni (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id, Indramayu - Di banyak tempat, PKBM sering kali dipandang sebelah mata. Ia hanya sekadar ruang formalitas, tempat “mengambil ijazah” tanpa benar-benar belajar. Namun di PKBM Al Zaytun, stigma itu runtuh perlahan. Di sini, belajar bukan sekadar hadir menjelang ujian, melainkan proses hidup yang dijalani setiap hari: aktif, dinamis, dan penuh makna.
PKBM Al Zaytun menghadirkan wajah berbeda pendidikan nonformal. Warga belajar (WB) tidak hanya datang, duduk, lalu pulang. Mereka terlibat aktif dalam pembelajaran, mulai dari teori hingga praktik. Ilmu pengetahuan diperdalam, wawasan dibuka, keterampilan diasah, dan yang tak kalah penting ialah akhlak dibentuk. Sebuah proses yang selaras dengan makna belajar itu sendiri: perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dan dari belum baik menjadi lebih baik.
Semangat belajar itu tidak hanya dituntut dari warga belajar, tetapi juga dari para tutor. Di PKBM Al Zaytun, tutor bukan sekadar pengajar, melainkan pembelajar sepanjang hayat. Mereka dituntut terus meng-upgrade diri: mengasah ilmu, memperkaya metode, dan menjaga keteladanan. Berbagai pelatihan, kegiatan upgrading, hingga kompetisi diikuti sebagai bagian dari komitmen profesional sekaligus panggilan pengabdian.

Rabu, 8 April 2026, menjadi salah satu bukti nyata dari semangat tersebut. Sebuah e-sertifikat dari Fairy Publisher datang sebagai bentuk apresiasi atas keikutsertaan dalam Lomba Menulis Gebyar Cipta Puisi dan Cerpen Project IX tingkat nasional. Dari 49 peserta seluruh Indonesia, nama Sri Wahyuni tercatat sebagai pemenang kategori cerpen terpilih, yaitu sebuah capaian yang sederhana namun sarat makna.
Bagi Sri Wahyuni, tutor PKBM Al Zaytun yang gemar menulis, penghargaan ini bukanlah yang pertama. Ia telah beberapa kali mengikuti kompetisi serupa, meski kerap berada di kategori “terpilih”, bukan juara utama. Namun baginya, kemenangan sejati bukan pada posisi, melainkan pada proses. “Pengalaman adalah guru terbaik,” ujarnya, menyadari bahwa kemampuannya masih perlu terus diasah.

Perjalanannya menulis bukan tanpa tantangan. Menyusun kata, merangkai kalimat, hingga membangun struktur cerita yang utuh menjadi proses belajar yang terus diperbaiki. Tulisan-tulisannya bahkan masih sering direvisi oleh pembimbingnya. Namun justru di situlah letak kekuatan: keberanian untuk belajar, menerima koreksi, dan terus melangkah.
Menariknya, Sri Wahyuni mengaku bahwa ide menulis bukan sesuatu yang sulit baginya. Ia hanya menuliskan pengalaman sehari-hari. “Saya tidak mengarang, hanya menuangkan apa yang saya alami,” katanya. Dari kesederhanaan itulah lahir karya-karya yang hidup dan jujur.
Berbeda dengan cerpen, puisi justru menjadi ruang yang lebih akrab baginya sejak remaja. Dari panggung pentas seni hingga mading sekolah, menulis puisi telah menjadi bagian dari dirinya. Kini, keberanian untuk mengikuti lomba tumbuh seiring dukungan lingkungan PKBM. Hasilnya pun tak sedikit: mulai dari kategori favorit hingga juara terbaik.
Apa yang dilakukan Sri Wahyuni bukan hanya untuk dirinya. Ia menjadi inspirasi bagi warga belajar. Semangatnya menular, mendorong WB lain untuk berani mencoba. Salah satunya adalah Humayah, yang berhasil meraih juara terbaik 4 dalam lomba puisi tingkat nasional.

Di PKBM Al Zaytun, keberhasilan bukan milik individu semata, melainkan energi kolektif. Warga belajar datang dari berbagai latar belakang, mulai ibu rumah tangga, pekerja, hingga anak muda yang sempat terhenti pendidikannya. Mereka kembali dengan satu tujuan: merajut mimpi yang sempat tertunda.

Lebih dari sekadar tempat belajar, PKBM Al Zaytun menjadi ruang untuk menemukan potensi diri. Seni suara, tari, hingga menulis mendapatkan tempat. Bahkan kini, karya-karya mereka mulai tampil di berbagai acara, dari hajatan hingga resepsi, menjadi bukti bahwa bakat yang diasah dapat menemukan panggungnya sendiri.
Di balik semua itu, ada rasa syukur yang terus mengalir. Bagi Sri Wahyuni, PKBM Al Zaytun bukan hanya tempat mengajar, tetapi juga ruang bertumbuh. Ruang untuk belajar, berkarya, dan memberi makna.
Di tengah anggapan miring tentang pendidikan nonformal, PKBM Al Zaytun justru menunjukkan satu hal penting: bahwa pendidikan sejati tidak ditentukan oleh tempat, tetapi oleh semangat yang hidup di dalamnya.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



