Wednesday, 08 April 2026

Milad ke-77 Umi Farida Al-Widad: Menjaga Api Perjuangan dari Dapur hingga Peradaban Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indramayu – Ahad, 5 April 2026, Cafe Kita menjadi saksi bisu sebuah perhelatan yang sarat makna. Hari itu bukan sekadar perayaan angka 77 bagi Umi Dra. Faridah Al Widad, S.Sos. M.P., qarinah (pendamping) Syaykh Al-Zaytun. Ia adalah pembacaan kembali kitab kehidupan tentang kesetiaan, ketangguhan, dan cinta yang tumbuh di kawah candradimuka pergerakan.

Acara dibuka dengan khidmat oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME. Sebagai pembawa acara, Dr. Ali mengantarkan hadirin pada suasana penuh kekeluargaan, dengan menyampaikan pantun bermakna:

"Daging sapi dikirim dari Trinidad

Alangkah nikmatnya bila dibuat semur

Selamat milad umi Farida Al Widad

Sehat selalu serta Panjang Umur" 

Setiap baris pantun..dijawab hadirin: cake..p dan diakhiri tepuk tangan yang meriah.

Ramah Tamah: Kehangatan di Meja Makan

1000354469

Sebelum untaian kata dimulai, acara diawali dengan sesi ramah tamah. Hidangan lengkap khas Cafe Kita tersaji, menjadi simbol dari filosofi yang selama ini dijalankan Umi: memuliakan tamu. Sambil menikmati jamuan, anak, cucu, keluarga, dan para sahabat Syaykh tampak bercengkrama, menciptakan atmosfer hangat yang menjadi pengantar sempurna bagi kisah-kisah inspiratif yang akan terungkap.

Syaykh Al-Zaytun: Memoar Aktivis dan Sepetak Singkong

Memasuki inti acara, Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, M.P., menyampaikan sweet memories. Beliau membawa hadirin melintasi lorong waktu menuju tahun 1960-an. Di sanalah sejarah bermula. Pertemuan dua aktivis mahasiswa. Syaykh yang aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Ciputat, terpikat pada sosok Umi yang merupakan aktivis KOHATI (Korps HMI Wati) di Serang.

"Saat itu Umi sudah jadi guru. Di Banten, orang bercengkrama dengan lawan jenis itu tidak biasa, apalagi bersalaman," kenang Syaykh.

Syaykh menceritakan lika-liku perjuangannya meminang sang aktivis, mulai dari tas yang tertinggal di bus hingga prosesi munakahat yang baru terlaksana pukul 12 malam pada tahun 1970. Kehidupan awal mereka adalah monumen kemandirian; dengan honor guru yang hanya cukup untuk membeli susu, mereka menyewa satu petak tanah seharga 500 perak untuk menanam singkong.

"Dua puluh tujuh tahun kami bersama di awal perjuangan itu, hingga kini sudah 56 tahun perjalanan berkeluarga. Umi adalah pendamping yang tak pernah goyah," ungkap Syaykh penuh haru. 

Testimoni Keluarga: Karang di Balik Layar

1000354473

Estafet ungkapan perasaan dilanjutkan oleh keluarga inti. Eji Anugrah Romadhan, S.S. M.AP (Mantu), menyebut Umi sebagai sosok yang "dilahirkan khusus" untuk mendampingi Syaykh yang memiliki cita-cita raksasa. Hal senada disampaikan Ustadz Imam Muhajir, S.T (Mantu), yang menceritakan kebiasaan Umi bangun pukul 3 pagi demi menyiapkan masakan kesukaan keluarga dan tamu.

Cucu kesayangan, Green Chaverim Khalilurrahman, memberikan sentuhan personal tentang bagaimana Umi selalu memastikan kebutuhan cucunya terpenuhi, dari kemeja baru hingga lauk pauk favorit. Sementara itu, Ustadzah Sofiyah Al-Widad (Anak ke-6), mengungkapkan kekagumannya pada ketabahan ibundanya. "Umi jarang mengeluh. Beliau adalah guru yang mengajarkan kami untuk kuat dan punya iman di tengah lika-liku kehidupan," tuturnya.

Datuk Imam Prawoto, KRSS. M.BA, putra beliau, merangkum perjalanan itu dengan indah: "Umi adalah sosok yang mendambakan kehidupan bersama Abi, baik dalam sulit maupun senang, dari menggembala kerbau hingga membangun peradaban."

Kisah masa lalu juga diperkuat oleh Ishak Sanusi, M.Pd (Adik Umi), yang mengenang malam munakahat tahun 68, serta Miftakh Jafar Syubbani, M.Pd (Keponakan), yang menyebut masakan Umi Farida, terutama sayur asem dan nasi pulennya sebagai bagian yang membentuk pribadinya sejak kecil.

Sahabat dan Pejuang: Spirit Kesetiaan

1000354472

Para sahabat Syaykh dan Umi juga memberikan testimoni mendalam:

AF Abdul Halim, S.Sos, M.P (Sekretaris): Melihat sosok ibunya sendiri pada diri Umi yang selalu tegar menghadapi kondisi apa pun, termasuk saat-saat sulit.

M. Nurdin A. Tsabit, S.Sos., M.P (Pengawas LKM): Menegaskan bahwa Umi adalah "sekolah pertama" dan sosok mandiri yang ikut menyumbangkan hartanya untuk pembangunan Politeknik.

Rudiyanto (Koordinator Jatim): Mengenang didikan Umi di bagian logistik (dapur) sebagai bekal perjuangannya di Jawa Timur.

T. Dwi Hananto (Koordinator Jateng): Terkesan dengan cara Umi memastikan keberlangsungan perjuangan lewat perhatian kecil namun vital, seperti memastikan menu sarapan para sahabat seperjuangan Syaykh.

Parnoko (Banten) & Amin Tasdik (Bandung): Menyoroti Umi sebagai Uswatun Khasanah dalam hal pengambilan keputusan dan sikap saling menghormati.

M. Sholeh Aceng & Syafruddin Ahmad (SH, MH): Menegaskan bahwa Umi adalah ibu bagi semua pejuang pendidikan yang membawa simpul menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi.

Dr. Ir. Bambang Triyoga: Mengingat detailnya perhatian Umi yang bahkan menghafal nama anak-anaknya dan selalu membawakan oleh-oleh setiap kunjungan.

Penutup: Cahaya di Usia 77

Acara ditutup dengan doa dan harapan. Di usia ke-77 ini, Umi Farida Al-Widad bukan sekadar merayakan umur panjang, melainkan merayakan sebuah proses kehidupan yang luar biasa. Dari seorang aktivis KOHATI yang tegar, ia menjelma menjadi "Umi Al-Zaytun" bagi ribuan jiwa.

Perjalanan ini membuktikan satu hal: di balik peradaban besar Ma'had Al-Zaytun, ada seorang perempuan yang terus menjaga api perjuangan tetap menyala, memastikan surga tetap hadir di telapak kaki seorang Ibu.

 (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah