Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Di saat banyak pendidikan masih berkutat pada teori, Al-Zaytun justru mengajarkan makna belajar yang sesungguhnya: tangan kotor oleh tanah, keringat bercampur debu, dan hati yang penuh kesadaran bahwa ilmu harus hidup di lapangan. Kamis, 19 Maret 2026, para santri tak sekadar belajar, mereka menggerakkan peradaban dengan alat berat di tangan mereka.
Al-Zaytun Pusat Peradaban
Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan menjadikan setiap aktivitasnya sarat dengan nilai edukasi. Bahkan dalam pembangunan Politeknik, prosesnya tidak hanya tentang mendirikan bangunan, tetapi juga membangun manusia.
Di bawah arahan Syaykh, seluruh unsur dilibatkan secara kolaboratif: mulai dari eksponen, koordinator wali santri, guru, dosen, karyawan, hingga para pelajar. Mereka hadir dengan peran masing-masing, seperti sebagai pengawas, pelaksana, hingga peserta magang.

Pengawas pembangunan diisi oleh unsur eksponen, dosen, guru, dan koordinator wali santri. Pelaksana berasal dari karyawan, tenaga terampil dari luar, serta tenaga perbantuan dari berbagai unit di Ma’had Al-Zaytun. Sementara itu, pelajar turut ambil bagian sebagai tenaga magang, khususnya dari ekstrakurikuler perkapalan.
Di sinilah nilai besar itu bertemu dalam satu gerak: mengabdi, berkarya, dan mengedukasi
Mengabdi bukan sekadar bekerja, tetapi menghadirkan keikhlasan dalam setiap proses. Pembangunan sarana pendidikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan ketika usia telah usai. Dalam zona ikhlas, pekerjaan terasa lebih ringan, namun dampaknya begitu besar.
Berkarya adalah wujud aktualisasi diri. Manusia dikenang dari apa yang ia hasilkan. Proyek pembangunan politeknik ini menjadi ruang bagi semua pihak untuk melahirkan mahakarya, yakni sebuah gedung pendidikan yang kelak menjadi saksi kontribusi anak bangsa.
Sementara itu, mengedukasi menjadi jembatan ilmu bagi generasi muda. Transfer pengetahuan dan keterampilan dilakukan secara nyata, langsung di lapangan.

(Azzan, Dimas, Halimah & Shovia, mengoperasionalkan bulldozer pada perataan permukaan jalan & melakukan pengisian solar sebanyak 200 liter)
Pada Kamis, 19 Maret 2026, ada yang berbeda dari pekan-pekan sebelumnya. Sebanyak 15 santri kelas 11–12 yang mukim di Ma’had Al-Zaytun diterjunkan langsung ke lokasi proyek. Mereka tidak hanya mengabdi, tetapi juga belajar mengoperasikan alat-alat berat. Ini sebuah pengalaman yang jarang didapatkan di bangku sekolah.
Di bawah bimbingan Ust Agung Prasetyo, ST. MT. santri secara bergiliran mendapat pengalaman nyata dalam dunia alat berat. Selain itu secara langsung dibimbing praktisi. Salah satu pembimbing lapangannya adalah Tardi, S.Pd, Tutor PKBM Al Zaytun. Para santri dikenalkan pada dunia kerja sesungguhnya. Dengan sabar, ia membimbing pengoperasian berbagai alat berat seperti excavator, bulldozer, hingga crafter crane (Tadano). Perannya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing sosial yang menanamkan nilai kerja dan tanggung jawab.

Para santri dibagi ke dalam empat kelompok kerja
Kelompok pertama bertugas pada persiapan dan operasional crafter crane, memastikan sistem panel berfungsi untuk mengatur naik-turun jack dan hook.
Kelompok kedua mengoperasikan bulldozer untuk meratakan permukaan jalan, bahkan turut melakukan pengisian bahan bakar sebanyak 200 liter.
Kelompok ketiga mengendalikan excavator long arm dengan spesifikasi boom 5 meter dan arm 10 meter.
Sementara kelompok keempat melakukan pekerjaan teknis: menggunakan hammer drill dan palu godam untuk membobok spun pile.
Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam. Shulthon mengaku sangat bahagia dan merasa beruntung bisa mengoperasikan alat berat secara langsung. Ini sebuah keterampilan nyata yang nilainya tidak ternilai. Hal senada disampaikan Azzan yang merasakan pengalaman berharga saat belajar mengendalikan bulldozer.

Di Al-Zaytun, belajar bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk mampu. Berkarya bukan hanya untuk diri, tetapi untuk umat. Dan semua itu bermuara pada satu tujuan: beribadah kepada Allah SWT.
Di atas tanah yang digali dan diratakan itu, sesungguhnya sedang dibangun lebih dari sekadar gedung, tetapi juga karakter, keterampilan, dan peradaban masa depan.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



