Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminulloh.
Penghormatan dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin
lognews.co.id, Indramayu - Di tengah suasana Dzikir Jumat, 6 Mei 2026, jamaah Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun mendengarkan taushiyah yang sarat makna sejarah dan penghormatan kepada perjuangan seorang tokoh dunia Islam yang bernama lengkap Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei, dia sudah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader of Iran)
Syaykh Al Zaytun dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa setiap bangsa besar selalu memiliki tokoh yang mengabdikan hidupnya untuk kejayaan negaranya. Tokoh itu bukan sekadar pemimpin politik, tetapi simbol keteguhan, keteladanan, dan pengorbanan bagi bangsanya.
Dalam kesempatan itu beliau menyinggung sosok pemimpin Iran, Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei, yang menurutnya telah mendedikasikan hidupnya sejak muda hingga usia senja untuk memperjuangkan kemajuan dan kedaulatan negaranya.
Iran, yang dahulu dikenal dengan nama Persia, merupakan bangsa dengan peradaban tua yang telah berdiri sejak ribuan tahun lalu. Sejarah mencatat bahwa peradaban Persia telah berkembang sejak lebih dari tiga milenium, sejajar dengan peradaban besar dunia seperti Mesir dan India.
Ketika Islam datang melalui risalah Nabi Muhammad ﷺ, bangsa Persia termasuk yang menerima dan mengembangkan peradaban Islam dengan kuat. Dalam sejarah dunia Islam, Persia menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu, pemikiran, dan kebudayaan.
Syaykh Al Zaytun menegaskan bahwa Iran adalah salah satu negara yang hingga kini mempertahankan identitas peradaban Islamnya dengan kokoh, bahkan di tengah berbagai tekanan geopolitik, embargo ekonomi, dan konflik politik internasional.
Dalam perjalanan sejarahnya, bangsa Persia melahirkan banyak ilmuwan dan pemikir besar yang memberi kontribusi penting bagi dunia. Dari wilayah inilah lahir berbagai tradisi keilmuan yang mempengaruhi perkembangan matematika, filsafat, hingga teknologi modern.
Namun demikian, dalam dinamika dunia Islam, bangsa Persia sering kali menjadi sasaran perpecahan dan prasangka dari sebagian kalangan. Karena itu, menurut beliau, umat Islam perlu melihat perjuangan tokoh-tokoh besar dengan adil dan objektif.
Yang patut diambil adalah semangat pengabdian mereka kepada bangsa dan peradaban.
Sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemimpin Iran tersebut, Syaykh Al Zaytun menyampaikan bahwa umat Islam di Indonesia sepatutnya turut menyampaikan belasungkawa.
“Sebagai bangsa dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, semestinya kita juga menunjukkan empati dan penghormatan,” ungkap beliau.
Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan rencana untuk mengirimkan pesan belasungkawa kepada Kedutaan Besar Iran di Indonesia sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan tokoh tersebut.
Dzikir Jumat di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin kemudian ditutup dengan pelaksanaan shalat ghaib (shalat jenazah) untuk mendoakan almarhum.
Doa dipanjatkan agar segala amal pengabdian beliau diterima oleh Allah SWT dan perjuangannya dicatat sebagai bagian dari sejarah panjang perjuangan umat.
Di tengah dunia yang kerap dilanda konflik dan perpecahan, penghormatan terhadap jasa dan pengabdian seorang tokoh menjadi pengingat bahwa sejarah peradaban selalu dibangun oleh orang-orang yang rela mengabdikan hidupnya untuk bangsanya.
Dan dari mimbar Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, penghormatan itu kembali ditegaskan: bahwa perjuangan, pengabdian, dan keteguhan adalah nilai yang melampaui batas bangsa dan waktu. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



