Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Pagi itu antrean memanjang di depan loket Unit Simpan Pinjam KSU Desa Kota Indonesia. Namun tidak ada wajah muram atau gelisah. Yang tampak justru senyum-senyum sumringah, sapaan hangat, dan percakapan ringan di antara para anggota yang menunggu giliran.
Hari itu bukan antrean untuk demo atau menyampaikan keluhan. Mereka datang untuk sesuatu yang jauh lebih membahagiakan: mengambil tabungan progresif yang selama ini mereka sisihkan sedikit demi sedikit.
Jumat, 6 Maret 2026, menjadi pagi yang berbeda.
Di depan loket KSU Desa Kota Indonesia, antrean mengular dari unsur civitas Ma’had Al-Zaytun. Para guru, karyawan, hingga petugas keamanan berdiri sabar menunggu giliran. Wajah mereka memancarkan rasa syukur. Bagi sebagian orang, jumlahnya mungkin tidak besar. Namun bagi mereka, tabungan itu adalah hasil dari disiplin, kesabaran, dan kepercayaan pada masa depan.
Di tengah kehidupan yang sering terasa sempit oleh kebutuhan, menabung bukanlah perkara mudah. Banyak orang merasa penghasilannya hanya cukup untuk hari ini. Bahkan sering kali terasa kurang.
Padahal, sejarah manusia menunjukkan satu kenyataan yang sama: keinginan manusia tidak pernah selesai.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa jika manusia diberikan satu lembah emas, ia akan menginginkan yang kedua. Jika sudah memiliki dua lembah emas, ia akan mencari yang ketiga. Keinginan manusia tidak akan pernah berhenti, kecuali ketika tanah telah menutup mulutnya—ketika ajal telah tiba.
Karena itulah manusia membutuhkan kesadaran untuk menata masa depan. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini.
Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sangat dalam:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok."
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menarik. Perintah untuk melihat masa depan diapit oleh perintah bertakwa. Seakan menegaskan bahwa menyiapkan masa depan bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual.

Salah satu bentuk kesiapan itu adalah menabung.
Menabung bukan sekadar menyimpan uang. Menabung adalah tanda bahwa seseorang percaya pada masa depan. Bahwa kehidupan tidak berhenti pada hari ini.
Dalam konteks komunitas, KSU Desa Kota Indonesia berusaha menghadirkan ruang untuk mewujudkan kesadaran itu melalui Program Tabungan Progresif. Para anggota didorong untuk menyisihkan sebagian kecil penghasilannya secara rutin. Sedikit demi sedikit, yang penting konsisten.
Dan pada tahun 2026 ini, setelah pembagian SHU dan hasil unit usaha dimasukkan ke rekening tabungan progresif masing-masing anggota, banyak dari mereka yang mulai merasakan manfaatnya.
Menjelang Idul Fitri, tabungan itu menjadi bekal yang berarti.
“Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan uang tabungan untuk lebaran,” ujar Ust. Manroni, salah satu guru Al-Zaytun, dengan wajah penuh syukur.
Pengalaman serupa dirasakan Sukino, salah satu anggota keamanan Al-Zaytun.
“Terima kasih KSU Desa Kota Indonesia. Awalnya saya menabung karena terpaksa. Tapi sekarang saya merasakan manfaatnya. Lebaran jadi punya bekal untuk mudik,” tuturnya sambil tersenyum
Antrean di depan loket itu pun menjadi pemandangan yang indah. Bukan sekadar barisan orang menunggu uang, tetapi gambaran kecil tentang disiplin, kebersamaan, dan harapan masa depan.
Karena pada akhirnya, kesejahteraan tidak lahir dari uang yang datang tiba-tiba. Ia lahir dari kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bersama.
Dan di pagi itu, dari antrean panjang yang penuh senyuman, satu pesan sederhana terasa sangat jelas:
Mari menabung, karena masa depan selalu dimulai dari langkah kecil hari ini. Berkoperasi demi wujud kesejahteraan bersama. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



