Oleh: Nurrohmah, A.Md (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id, Indramayu - Pada Jum’at pagi yang berselimut mendung tipis, 21 Februari 2026, langkah-langkah penuh semangat para ibu memenuhi halaman Mushola Nuraini, yang terletak di Komplek Griya Punduan Permai, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Sejak pukul 08.00 WIB, satu per satu anggota Paguyuban Istri Peduli Blok Punduan hadir dengan wajah-wajah penuh harap. Sebanyak 29 peserta, yang sebagian besar merupakan warga belajar dan alumni PKBM Alzaytun, berkumpul dalam satu niat: menimba ilmu dan menguatkan peran sebagai istri sekaligus ibu dalam keluarga.
Kegiatan bertajuk *Kunjungan Blok Paguyuban Istri Peduli* ini dibuka dengan istighosah dan doa bersama yang dipimpin oleh Hesti Kurniasari, alumni PKBM Alzaytun. Lantunan doa mengalun khusyuk, menghadirkan suasana teduh yang menyentuh relung hati. Di tengah udara yang sejuk dan langit yang bersahaja, para peserta larut dalam harapan agar pertemuan hari itu membawa keberkahan dan perubahan kebaikan bagi keluarga masing-masing.
Memasuki sesi pembukaan, Nurrohmah, A.Ma.Ph., selaku MC sekaligus Tutor PKBM Alzaytun, menyapa hadirin dengan penuh kehangatan. Suasana yang semula hening perlahan berubah menjadi hidup, penuh energi kebersamaan dan semangat belajar.
Sambutan pertama disampaikan oleh Dewi Asih Nusantari, S.Sos. selaku Pembina Paguyuban. Dalam pesannya, beliau menegaskan pentingnya berkoperasi dan saling mendukung antaranggota, sebagai wujud kepedulian sosial yang berkelanjutan. Kebersamaan bukan hanya menjadi kekuatan ekonomi, tetapi juga fondasi kokoh dalam membangun solidaritas perempuan.
Sambutan berikutnya oleh Maryuni, S.Pd., mewakili Ketua Paguyuban, mengangkat tema “5 Bahasa Kasih.” Materi ini membuka wawasan peserta tentang pentingnya memahami karakter pasangan melalui bahasa cinta: kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, pemberian hadiah, tindakan pelayanan, dan sentuhan fisik. Pemaparan tersebut menghadirkan banyak anggukan setuju dan senyum kesadaran dari para ibu yang mulai merefleksikan kehidupan rumah tangga mereka.
Puncak acara diisi oleh Umu Mutiah, S.Psi., Tutor PKBM Alzaytun, dengan materi inti bertajuk *Parenting Keluarga*. Beliau memaparkan dasar hukum keluarga *sakinah, mawaddah, warahmah* (Samawa) menurut Al-Qur’an, mengajak peserta memahami hak dan kewajiban suami istri secara berimbang dan penuh kesadaran. Sesi ini berlangsung interaktif; diskusi hangat mengalir, pengalaman pribadi dibagikan, dan tanya jawab berlangsung hidup.
Tak hanya teori, suasana semakin semarak saat peserta mengikuti gim sederhana: memilih selembar kertas berisi ilustrasi kasus rumah tangga, kemudian bersama-sama mencari solusi terbaik. Gelak tawa, empati, dan rasa saling menguatkan berpadu harmonis. Dari berbagai sudut mushola, terdengar suara para ibu yang saling berbagi kisah, memberikan masukan, dan belajar satu sama lain.
Menjelang penutup, para peserta diminta menuliskan kesan dan pesan pada secarik kertas. Sebagian besar mengungkapkan rasa bahagia dan syukur karena acara ini dinilai memberi manfaat nyata serta pengetahuan yang mencerahkan. Harapan agar kegiatan serupa kembali diadakan pun banyak dituliskan. Ada pula beberapa curahan hati yang lebih personal, yang kemudian ditindaklanjuti secara khusus setelah acara berakhir.
Pukul 12.00 WIB, rangkaian kegiatan resmi ditutup. Namun semangat belum surut. Beberapa peserta masih bertahan untuk berkonsultasi mengenai persoalan keluarga yang tengah dihadapi. Narasumber dan tim dengan penuh ketulusan melayani sesi tersebut, menghadirkan ruang aman bagi para ibu untuk mencari solusi dan penguatan
Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ruang edukasi dan refleksi tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, terutama antara suami dan istri. Memahami hak dan kewajiban sesuai tuntunan Al-Qur’an, menyadari peran masing-masing, serta mengenali karakter pasangan melalui lima bahasa kasih menjadi bekal berharga menuju keluarga yang harmonis.
Di bawah langit mendung yang tak pernah benar-benar menurunkan hujan, pertemuan itu justru menurunkan rahmat pengetahuan dan kebersamaan. Dari Mushola Nuraini, semangat membangun keluarga sakinah kembali diteguhkan. Pelan namun pasti, dari hati para ibu yang terus belajar dan bertumbuh.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


