Tuesday, 24 February 2026

Keceriaan yang Menumbuhkan Karakter: Belajar Gotong Royong di Kelas 1 MI Ma’had Al Zaytun

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

lognews.co.id, Indramayu - Suasana pagi di kelas 1 MI Ma’had Al Zaytun terasa hangat dan penuh semangat. Sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela kayu berpadu dengan tawa ringan anak-anak yang duduk rapi di bangku kecil mereka. Di depan kelas, berdiri dengan penuh energi dan kelembutan, Ustadzah Qurrotan A’yuni, S.Pd., membimbing para murid kecilnya dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Hari itu, materi yang dipelajari adalah Gotong Royong dengan subtema Peran Anggota Keluarga.

1000321483

Dengan bahasa yang sederhana dan penuh kasih, Ustadzah Qurrotan A’yuni mengajak para siswa memahami bahwa keluarga adalah tempat pertama belajar bekerja sama. “Siapa yang di rumah membantu Ibu merapikan tempat tidur?” tanyanya sambil tersenyum.

Beberapa tangan kecil langsung terangkat dengan antusias.

Adena Ravania Abyaksa dengan wajah ceria mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Jassir Gibran Arrafi duduk tegap, mendengarkan dengan serius sebelum ikut menjawab. Yusuf Al-Fath Satyariendra pun tak mau kalah, matanya berbinar ketika menjelaskan bagaimana ia membantu orang tuanya.

Momen-momen sederhana seperti itu menjadi fondasi pembentukan karakter. 

Di papan tulis, Ustadzah Qurrotan A’yuni menuliskan kata “Gotong Royong” dengan huruf besar. Ia menjelaskan bahwa gotong royong bukan hanya membersihkan lingkungan bersama, tetapi juga membantu orang tua, menyayangi saudara, dan bekerja sama dengan teman. 

Anak-anak tidak hanya mendengarkan. Mereka aktif bertanya, menjawab, bahkan berbagi cerita pengalaman di rumah masing-masing. Kelas terasa hidup. Tidak ada jarak antara guru dan murid; yang ada adalah interaksi hangat penuh makna. 

1000321492

Keceriaan itu bukan sekadar suasana. Ia adalah metode.

Belajar tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai petualangan yang menyenangkan. 

Di sudut kelas, karya-karya siswa terpajang dengan warna-warni penuh kreativitas. Di meja-meja kecil, botol minum berjejer rapi. Anak-anak duduk dengan sikap hormat, namun tetap ekspresif. Mereka belajar tentang tanggung jawab sejak dini—bahwa menjadi anggota keluarga berarti ikut mengambil peran, sekecil apa pun itu.

Gotong royong yang ditanamkan hari itu bukan hanya teori dalam buku PKn. Ia adalah latihan hidup.

Di usia yang masih belia, mereka sudah diajak memahami bahwa: Ayah bekerja untuk keluarga, Ibu mengatur dan merawat rumah, Anak-anak pun memiliki peran membantu, menaati, dan menjaga kebersamaan.

Nilai-nilai inilah yang kelak membentuk generasi yang peduli, kolaboratif, dan berjiwa kebangsaan.

Keceriaan di kelas 1 MI Ma’had Al Zaytun bukan sekadar tawa anak-anak. Ia adalah tanda bahwa pendidikan karakter sedang tumbuh dengan alami. Di tangan guru yang sabar dan penuh dedikasi seperti Ustadzah Qurrotan A’yuni, proses belajar menjadi ruang pembentukan akhlak dan tanggung jawab sosial.

Dari ruang kelas sederhana itu, lahir harapan besar. 

Harapan bahwa Adena, Jassir, Yusuf, dan teman-temannya akan tumbuh menjadi generasi yang memahami arti kebersamaan. Generasi yang tidak individualis. Generasi yang siap membangun bangsa dengan semangat gotong royong yang sudah ditanamkan sejak kelas satu.

Karena pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menguatkan karakter.

Dan pagi itu, di kelas kecil MI Ma’had Al Zaytun, karakter itu sedang tumbuh dengan ceria. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah