Sunday, 22 February 2026

Tutor PKBM Al Zaytun Menyapa Rumah-Rumah: Dari Gerimis Menuju Keluarga Harmonis

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Sri Wahyuni, S.Pd.

lognews.co.id, Indramayu - Gerimis tipis turun perlahan pagi itu, seakan menjadi saksi bahwa langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus selalu membawa berkah besar. Jum’at, 20 Februari 2026, di rumah Ibu Siti Khoendun, Blok Janggot, kehangatan justru mengalahkan dinginnya cuaca. Di sanalah para ibu berkumpul, bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi menjemput ilmu dan meneguhkan kembali makna keluarga.

Safari Ramadhan kembali digelar. Kegiatan rutin tahunan ini digagas oleh Tutor PKBM Al Zaytun, Sri Wahyuni, selaku Ketua PIP (Paguyuban Istri Peduli). Sebuah komunitas yang terdiri dari warga belajar dan para tutor PKBM Al Zaytun, yang tak pernah lelah menghadirkan pendidikan hingga ke ruang-ruang keluarga.

Sebanyak 25 peserta hadir, terdiri dari warga belajar Blok Babakan Betawi (BBT) dan Blok Tanjung Sari 1. Turut hadir para tutor PKBM, di antaranya Umi Umutiah dan rekan-rekan, serta Ibu Dewi Asih Nusantari, istri Direktur PKBM, yang juga menjadi pembina PIP.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dipandu oleh MC, Ibu Umi Rochimah. Sambutan pembuka disampaikan oleh Ira Kasiroh, warga belajar kelas C. Namun puncak acara hari itu adalah tema yang sangat dekat dengan kehidupan para ibu: Parenting Keluarga.

lognews.co.id foto 84 pkbm rumah qurani

Pilar Rumah Tangga Qur’ani

Materi pertama disampaikan oleh Tutor PKBM Al Zaytun, Umi Umutiah. Dengan bahasa yang hangat dan membumi, beliau mengingatkan bahwa keluarga islami tidak lahir secara kebetulan, tetapi dibangun dengan kesadaran peran.

Ia menegaskan tiga pilar rumah tangga Qur’ani:

1. Keteladanan Orang Tua

Merujuk QS. Al-Furqan ayat 74, orang tua adalah panutan. Ketakwaan bukan hanya diucapkan, tetapi ditampilkan dalam sikap dan perilaku.

2. Komunikasi yang Baik (Qaulan Karima)

QS. Al-Isra ayat 23 mengajarkan agar kata-kata yang keluar adalah kata yang mulia. Rumah yang hangat lahir dari lisan yang terjaga.

3. Ta’awun (Saling Membantu)

Suami dan istri bukan pesaing, melainkan pasangan yang saling melengkapi

Umi Umutiah juga mengingatkan firman Allah dalam QS. At-Taghabun ayat 14 tentang pentingnya kewaspadaan, namun tetap mengedepankan maaf dan kelapangan hati. Sementara QS. Ar-Rum ayat 21 menegaskan bahwa pernikahan adalah jalan menuju sakinah, mawaddah, dan rahmah.

“Rumah tangga harmonis bukan karena tanpa ujian, tetapi karena mampu mengelola ujian,” tuturnya.

Saat Cinta Perlu Dipelajari

Jika sebelumnya peserta diajak memahami pondasi Qur’ani, sesi berikutnya memperkaya dengan pendekatan psikologis yang aplikatif. Ibu Dewi Asih Nusantari menyampaikan materi tentang 5 Bahasa Kasih dalam hubungan suami istri.

Ia mengawali dengan kalimat yang menggugah:

“Kadang bukan karena tidak cinta… tapi karena salah bahasa.”

Lima Bahasa Kasih

1. Pelayanan (Acts of Service)

Cinta diwujudkan lewat tindakan nyata. Membantu mencuci, menyiapkan kebutuhan pasangan, memperbaiki atap bocor: sederhana, tetapi bermakna.

2. Pujian (Words of Affirmation)

Ucapan terima kasih, penghargaan, atau kalimat penyemangat bisa menjadi bahan bakar jiwa.

3. Hadiah (Receiving Gifts)

Bukan tentang harga, tetapi simbol perhatian. Gorengan yang dibawa pulang bisa terasa lebih mahal dari emas jika disertai niat cinta.

4. Sentuhan (Physical Touch)

Pelukan, genggaman tangan, usapan lembut pada anak. Sentuhan menghadirkan rasa aman dan kedekatan emosional.

5. Kebersamaan (Quality Time)

Duduk berdua tanpa gawai, mendengar cerita hingga tuntas. Waktu berkualitas adalah bukti bahwa seseorang itu penting.

Materi ini memantik antusiasme. Diskusi pun hidup. Beberapa warga belajar mengaitkan materi dengan persoalan nyata yang mereka alami.

“Iya Bu, temanya seru, jadi warga banyak yang curhat,” ujar Ibu Maryuni dengan senyum hangat.

Sementara Ibu Umi Rochimah menambahkan,

“Alhamdulillah, ilmunya luar biasa. Bismillah kita bersama-sama jadi lebih baik dalam menjalankan rumah tangga.”

Dari Rumah ke Perjuangan Besar

Tak hanya soal keluarga, forum itu juga menjadi ruang penguatan komitmen terhadap Ma’had Al Zaytun. Ibu Dewi Asih Nusantari menyampaikan perkembangan KODEKO dan program perjuangan pendidikan serta ekonomi.

Pesannya sederhana namun mendalam:

“Jangan bertanya apa yang Ma’had berikan kepada kita. Tapi apa yang bisa kita berikan untuk Ma’had.”

Program pendidikan dari PAUD hingga IAI dan Politeknik, serta program ekonomi melalui KODEKO : mulai dari toko, material, simpan pinjam hingga kredit. Ini menjadi bagian dari perjuangan kolektif.

Laporan capaian 2025 dan program 2026 dipaparkan, menumbuhkan optimisme baru di tengah para ibu.

lognews.co.id foto 83 pknm kumpul

(Foto bersama dimulakannya Kegiatan Safari Ramadhan untuk Blok Babakan Betawi dan Tanjungsari 1)

Pendidikan yang Tidak Berhenti di Kelas

Menjelang pukul 12.23 WIB, acara ditutup dengan suasana hangat dan penuh harap. Safari Ramadhan kali ini membuktikan satu hal: pendidikan di PKBM Al Zaytun tidak berhenti di ruang kelas.

Para tutor tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi hadir di tengah masyarakat, menumbuhkan kesadaran, memperkuat keluarga, dan membangun peradaban dari rumah.

Kunjungan blok ke Tanjung Sari 1 dan BBT sukses dilaksanakan. Safari akan berlanjut ke blok-blok lainnya di wilayah Kecamatan Gantar.

Gerimis pagi itu telah lama reda. Namun benih-benih ilmu yang ditanam oleh para Tutor PKBM Al Zaytun terus tumbuh di hati para ibu, di ruang-ruang keluarga, dan dalam doa-doa yang diam-diam dipanjatkan. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah