(Disarikan dari Pidato Syaykh AS. Panji Gumilang, M.P)
Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id - Selasa (07/04), sore itu ruang pertemuan Wisma Tamu Al Ishlah Al Zaytun tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma ruang perjumpaan gagasan, antara iman, sejarah, dan masa depan bangsa. Dalam Simposium Komunitas Peduli Misi Desa (PMD), yang diikuti para pendeta dan aktivis gereja, Syaykh Panji Gumilang , M.Pd. didaulat menjadi pembicara utama. Mereka duduk berdampingan menyimak satu benang merah besar: Indonesia hanya akan berdiri kokoh jika berani mentransformasi pendidikannya.

Syaykh Al Zaytun, membuka pemaparannya dengan cara yang tak biasa. Bukan langsung pada data atau teori, melainkan dengan sapaan damai lintas iman:
“Hinne ma tov uma na’im, shevet achim gam yachad…”
“Syalom haverim, syalom haverim…”
Seketika suasana mencair. Persaudaraan menjadi pintu masuk sebelum gagasan besar disampaikan.
Beliau lalu memulai dari kisah sederhana, namun justru di sanalah letak kekuatannya.
Pada masa pemberantasan buta huruf di Era Soekarno, banyak orang tua enggan belajar. Mereka mundur, bukan karena tidak mampu, tetapi karena malu disebut “bodoh”. Harga diri menjadi penghalang terbesar.
Namun keadaan berubah ketika yang mengajar mereka bukan seorang guru dewasa, melainkan seorang Panji Gumilang yang masih duduk di kelas 2 SR.
Di situlah sekat runtuh.
Para orang tua itu tidak lagi merasa direndahkan. Mereka justru merasa setara karena sama-sama belajar, sama-sama belum bisa. Tanpa tekanan, tanpa rasa malu. Mereka belajar dengan senang hati.
Dari mulut ke mulut, kabar itu menyebar.
Satu datang, lalu banyak.
Belajar menjadi sesuatu yang membebaskan.
Sebuah pelajaran sederhana dari pengalaman masa kecil Syaykh, tetapi mendalam: pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi soal memanusiakan manusia.
“Orang yang jernih, tidak lepas dari pendidikan,” ujar Syaykh.
Dari kisah kecil itu, beliau membawa hadirin menelusuri sejarah panjang bangsa. Dari Batavia yang dibangun VOC, berpindah tangan ke pemerintahan Belanda, Prancis, hingga Inggris. Dari Cultuur Stelsel tahun 1830 yang menjadikan Indonesia pusat komoditas pertanian dunia hingga lahirnya sistem kapitalisme di tanah jajahan.
Namun di balik semua itu, ada satu benang merah:
Peradaban besar selalu ditopang oleh pendidikan. Mesir dengan Al-Azhar. Inggris dengan Oxford dan Cambridge.
Lalu Indonesia? Apakah Sriwijaya atau Majapahit membuat peninggalan artefak sejarah pendidikan?
Jawabannya muncul pada momentum politik etis tahun 1905 dengan 3 program utama: irigasi untuk pertanian, mobilisasi penduduk dengan transmigrasi, dan yang paling utama, program pendidikan. Dari sanalah kesadaran kolektif tumbuh.
“Hanya dalam 23 tahun, pada 1928 Indonesia mampu melahirkan bangsa, tanah air, dan bahasa, melalui kesadaran kolektif.”
Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah tonggak ketika identitas kedaerahan dilebur. Tidak lagi terjebak pada primordial suku, agama, dan bahasa, tetapi menyatu dalam satu nama: Indonesia.
Dan hanya 17 tahun setelah itu, tepatnya 17 Agustus 1945 bangsa ini berdiri merdeka.
Namun sejarah, bagi Syaykh, bukan untuk sekadar dikenang, melainkan untuk dibaca ulang.
“Tahun 2045 tidak akan berarti apa-apa jika pendidikan tidak ditransformasi.”
Dari sinilah beliau menawarkan gagasan besar: membangun 500 pusat pendidikan di seluruh kabupaten di Indonesia. Pusat-pusat ini dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu berbasis asrama, dengan pendekatan LSTEAMS yang mengintegrasikan Law (hukum), Science (ilmu pengetahuan), teknologi, rekayasa (engineering), seni, mathematics dan spiritual.
Pendidikan tidak lagi terpecah-pecah, tetapi menjadi pusat pembentukan manusia dan peradaban.
Bagi Syaykh, ukuran kemajuan bukan semata ekonomi, melainkan kualitas manusia.
“Kebaikan itu diukur dari dada orang berpendidikan.”
Gagasan itu diperluas menjadi visi kebangsaan yang lebih besar. Indonesia sebagai negara kepulauan tidak cukup hanya dipersatukan secara simbolik, tetapi harus terhubung secara nyata.
Ia membayangkan jaringan kereta cepat yang menghubungkan wilayah-wilayah strategis, serta kapal laut antar pulau yang di dalamnya terintegrasi jalur transportasi layaknya daratan. Mobilitas manusia dan distribusi ekonomi harus mengalir tanpa hambatan, dari satu pulau ke pulau lain.
Semua itu, tegasnya, harus dibangun oleh anak bangsa sendiri.
Karena kemandirian adalah fondasi kedaulatan.
Lebih jauh, ia juga menegaskan pentingnya Indonesia mengembangkan teknologi strategis, termasuk nuklir, bukan sebagai alat perang, tetapi sebagai simbol kekuatan dan penjaga perdamaian. Sebuah bangsa yang kuat secara teknologi tidak akan mudah dipandang remeh oleh dunia.
Di bagian akhir, Syaykh mengajak hadirin menengok kembali gagasan besar Sukarno, yaitu tentang nasionalisme, islamisme, dan sosialisme. Sebuah rumusan yang, menurutnya, sangat tepat untuk Indonesia yang majemuk.
Namun ia juga menyampaikan kritik jernih. Ketika gagasan itu berubah menjadi Nasakom, arah besar yang diharapkan tidak sepenuhnya berjalan. Realitas menunjukkan bahwa gagasan, sekuat apa pun, tidak cukup jika tidak diiringi eksekusi yang tepat.
Di situlah ia menekankan satu hal penting:
Indonesia tidak kekurangan gagasan.
Yang sering kurang adalah keberanian untuk melaksanakan.Lalu Beliau merumuskan jalan perubahan yang sederhana, tetapi mendasar:
1. Punya khayal: Berani membayangkan masa depan besar.
2. Khayal itu digambar (suwar). Dirancang dengan jelas, dipetakan dengan matang.
3. Diamalkan (amal). Dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Tiga langkah itu menjadi jembatan antara mimpi dan kenyataan.

Senja mulai turun. Simposium usai. Namun yang tertinggal bukan sekadar catatan, melainkan kesadaran.
Bahwa Indonesia tidak kekurangan sejarah.
Tidak kekurangan sumber daya.
Bahkan tidak kekurangan gagasan.
Yang sering tertinggal hanyalah keberanian untuk mengeksekusi.
Dan mungkin, perubahan besar itu selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti seorang anak kecil yang mengajar tanpa membuat orang dewasa merasa kecil.
Dari situlah pendidikan menjadi manusiawi.
Dari situlah peradaban bisa lahir.
“Syalom haverim…”
Karena dari persaudaraan,
lahir masa depan Indonesia.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



