Tuesday, 21 April 2026

NINA AGUSTINA KUAT DAN LUCKY HAKIM SANGAT KUAT TAPI........?

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh. : H. Adlan Daie

Analis politik dan sosial keagamaan. 

Llognews.co.id, Pilkada Indramayu 2024 dalam persepsi mayoritas publik Indramayu adalah "pertarungan" elektoral Nina Agustina Bupati "incumbent" versus Lucky Hakim, mantan wakil bupati, figur "yang tersakiti".Teori Bill liddle menyebutnya status quo versus "New Hope", harapan "baru". 

Nama nama lain di luar dua figur ini sulit kompetitif secara elektoral meskipun ditopang logistik "super jumbo" karena elektoral bukan barang "kelontongan" yang mudah dibeli kecuali ada "turbulensi" atau goncangan politik yang dahsyat dan "eksponensial".

Sebagai bupati "incumbent" Nina Agustina kuat dari sisi infra struktur "panggung" politik. Ia bisa (jika mau) mendesain acara acara seremonial birokrasi menjadi "panggung" elektoral hingga ke level RT/RW dengan politik "stelsel" mobilisasi dukungan secara administratif. 

Bahkan Nina Agustina bisa leluasa (sekali lagi, jika mau) "mengkapitalisasi" program bersumber dari APBD dan "pamer" penghargaan untuk proyeksi elektoral. Komunitas "sipil" bisa di orkestrasi dalam beragam bentuk "tim sukses". Lumrah bagi bupati "incumbent" manapun.

Lucky Hakim "powerless", lemah dari sisi infra struktur politik tapi sangat kuat "pesona" elektoralnya. Dr. H. Masduki Duriyat , seorang akademisi, yang akhir akhir ini aktif masuk ke ruang "pengamat politik" menyebut fenomena "populisme elektoral'" Lucky Hakim dengan diksi "membongkar tembok, menembus batas".

Dalam perspektif penulis diksi politik Dr. Masduki Duriyat di atas hendak menjelaskan bahwa tembok tembok birokasi dengan "wajah mengancam" sekalipun sulit membendung trend elektoral Lucky Hakim setidaknya sejauh yang terpantau penulis tiga kali survey opini publik Lucky Hakim jauh "di puncak" elektoral dibanding kandidat lain. 

Kekuatan basis elektoral Lucky Hakim diinjeksi faktor "good looking", yakni tingkat "kesukaan" publik melampaui tembok "fisik" birokrasi, lintas batas kewilayahan, lintas segmentasi sosial dan beragam struktur profesi, tidak bergantung pada tokoh tokoh "tradisional politik".

Struktur pemilih secara "motiv" lebih digerakkan 60% faktor "kesukaan" dan "karakter"; pemilih 80% bersifat "otonom", memilih atas persepsi politiknya sendiri, hanya 20% pemilih bersifat "patron klien, bertanya pada tokoh sekitarnya.

Cara cara "menakut nakuti" di era rezim demokrasi elektoral saat ini di tengah mayoritas publik dalam transisi terbelah di "dunia nyata" dan tenggelam di "dunia maya" hanya effektif 1% berbanding 10% memilih karena daya dorong "kesukaan" terhadap calon. 

Apakah Nina Agustina mampu menggeser taktikal politik berbasis riset prilaku pemilih untuk menghambat trend elektoral Lucky Hakim atau justru calon dari Golkar mampu menyodok di antara keduanya dengan ketrampilan teknokrasi politiknya? 

Mari kita tunggu di ruang kemungkinan politik berikutnya dalam dinamika politik di sisa waktu tujuh bulan menuju pilkada November 2024.

Wassalam !!!