Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik elektoral dan sosial keagamaan.
lognews.co.id, Kontestasi pilkada Indramayu 2024 tidak perlu melahirkan pemimpin yang "kuat" melainkan pemimpin "biasa biasa saja".
Dalam penelitian duet analis politik, Levitsky dan Ziblat, dituangkan dalam buku "How Democracies Dei" (edisi Indonesia berjudul "Bagaimana Demokrasi Mati", 2021) demokrasi bisa mati justru di tangan pemimpin "kuat" meskipun dipilih dalam mekanisme demokratis.
Pemimpin "kuat", apalagi dengan "dekingan pusat", meminjam istilah populer Gus Idham, cenderung "membunuh" demokrasi, prinsip "chek and balance" dengan DPRD "ambyar", kontrol publik "diamputasi" dan birokrasi menjadi mesin politik bekerja di bawah bayang bayang ancaman.
Partisipasi masyarakat sipil, mengutip Francis Fukuyama, berubah menjadi rekayasa dan mobilisasi politik, bahkan bersifat "Uncivil politics", yakni militerisasi dan "premanisasi" politik sipil dalam bentuk kekinian disebut "buzzer buzzer" politik penguasa.
Kontestasi pilkada Indramayu 2024 harus diarahkan menolak pemimpin "kuat" dalam pengertian di atas untuk melahirkan pemimpin "biasa biasa saja" agar demokrasi sehat dan produktif.
Pemimpin "biasa" adalah pemimpin yang meletakkan posisi politiknya bersifat kemitraan "chek and balance" dengan DPRD, dialogis dengan rakyat yang dipimpinnya, "minim jarak" dan "friendly'.
Itulah nilai keunggulan dari demokrasi. Francis Fukuyama menyebutnya sebagai puncak peradaban politik tertinggi dalam sejarah sistem politik modern dan beradab.
Sementara pemimpin "kuat" dalam pengertian di atas tidak akan "betah" menjalani proses politik bersifat dialogis di atas. Di kepalanya hanya ada mindset bagaimana "cara" menaklukkan "lawan" politik dan menguasai rakyat, "egois" dan "maunya menang sendiri".
Lord Action, sejarawan moralis Inggris (1887) mengingatkan bahwa watak dasar pemimpin "kuat" cenderung "power tens to corrupt, absolute power corrupts absolutely", yakni cenderung koruptif. Makin "kuat" power politiknya makin gila gilaan mental "egosentrisme" kepemimpinannya.
Inilah ujian pilkada Indramayu 2024 apakah akan melahirkan pemimpin kuat dengan resiko demokrasi "mati" dan monopoli tunggal dalam gagasan "membangun", sebuah sikap politik dalam prakteknya mirip sistem khilafah, monarkhi dan komunisme absolut di mana seorang pemimpin harus selalu "dipuja" dan "disembah"
Atau kah pilkada Indramayu 2024 akan melahirkan pemimpin "biasa" tapi menjamin tumbuhnya "meaning full participation", sebuah partisipasi publik secara bermakna bagi mayoritas maslahat publik?
Mari kita tunggu.
Wassalam.



