Wednesday, 22 April 2026

MEMBACA TAKDIR POLITIK LUCKY HAKIM

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : H. Adlan Daie

Analis politik elektoral dan sosial keagamaan

lognews.co.id - Takdir politik mengantarkan Lucky Hakim dari figur "tidak dikenal" dalam khazanah politik Indramayu tiba tiba menjadi wakil bupati Indramayu pasca ia berpasangan dengan calon bupati Nina Agustina dan terpilih dalam kontestasi pilkada Indramayu 2020.

Sebaliknya takdir politik pula yang "memaksa" Lucky Hakim mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil bupati Indramayu tahun 2022, puncak dari berkali.kali ia dikucilkan, dipreteli hak hak protokolernya dan diisolir dari seremonial panggung politik.

Anehnya Lucky Hakim tidak "mati mati" secara politik betapa pun ia "dikunci"' secara sistemik dan diturunkan "paksa" foto fotonya di ruang publik. Justru ia begitu mudah menjadi ketua partai Nasdem Indramayu dan selanjutnya ia menjadi caleg "terpilih" DPRD provinsi Jawa barat tanpa "operasi serangan fajar'.

Lucky Hakim bukan politisi yang lahir dari proses ketrampilan organik dalam organisasi kemasyarakatan (ormas), organ politik, organ kepemudaan dan lain lain. Ia lahir dan tumbuh secara politik di era rezim politik elektoral atau dalam istilah kontemporer di negara negara mapan sistem demokrasinya disebut "politik populisme".

Politik "populisme" di era rezim politik elektoral meletakkan "harga" populisme pemilih dalam derajat dan "harga" yang sama secara elektoral. Kiai, pejabat dan ketua ormas bernilai "one man, one vote, one value", satu derajat elektoral sama dengan seorang "tukang parkir", pedagang "kaki lima" dll.

Dalam konteks itu kekuatan "gestur" politik Lucky Hakim tidak terletak pada power infrastruktur politik melainkan ditopang "populisme" politik masuk ke gang gang sempit dengan pesona pribadinya dan rakyat menyambut secara antusias dan "alamiyah", tidak didesain di belakang panggung. 

Ia "kuat" secara elektoral bukan karena pandai "bersolek politik", justru ia tampil apa adanya. Ia tampil "asli" Lucky Hakim yang trendy dan "modis" saat kunjungan tarawih keliling tanpa bersolek "pakai peci dan baju koko" sebagaimana umumnya politisi lain dengan tampilan "lebay" di bulan Ramadlon.

Paparan singkat di atas tidak berpretensi hendak "memuji" Lucky Hakim kecuali memberi "bocor Alus" bahwa "cara" menekan bukan cara efektif untuk mematikan langkah politik Lucky Hakim, justru ia menikmatinya. Ia ibarat "beduk", makin ditekan dan dipukul secara keras makin "nyaring" bunyi pantulan elektoralnya.

Singkat kata, Lucky Hakim sulit "dibendung" oleh pesaing manapun, bahkan oleh bupati "petahana" dengan sumber daya "bansos" sekalipun kecuali ia "dikunci" tidak bisa "nyalon" atau di "down grade" citra dan pesona politiknya berbasis riset issu secara massif dan sistematis.  

Hal terakhir ini sungguh rumit, butuh kerja panjang dan bersifat kolosal. 

Wassalam.