Saturday, 25 April 2026
Previous Next

PILKADA INDRAMAYU 2024, ANALISIS PASCA PEMILU

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

H. Adlan Daie

Pemerhati politik dan sosial keagamaan 

lognews.co.id, Hasil Pemilu 2024 baik pileg maupun pilpres di Indramayu tentu tidak "apple to apple", tidak berbanding lurus dan tidak dapat diproyeksikan dalam konteks mengukur dinamika pilkada Indramayu 2024.

Akan tetapi setidaknya beberapa variabel politik di bawah ini penting dibaca, yaitu : 

Pertama, jarak waktu "psikhologis" gelaran pemilu 2024 dengan pelaksanaan pilkada Indramayu 2024 sangat dekat, tak lebih dari tujuh bulan, yakni 27 November 2024. 

Variabel psikhologi politik ini penting dibaca untuk "deteksi dini" ruang "probabilitas" dan kemungkinan "effect" politiknya dalam merebut momentum pilkada Indramayu 2024.

Kedua, hasil Pilpres 2024 di Indramayu mengirim pesan politik satu sisi Paslon Ganjar Mahfud (03) yang diusung PDIP di mana Nina Agustina bupati indramayu menjadi bagian "tim" di dalam nya hanya meraih 17% suara. 

Ini sebuah "warning" bagi bupati Nina Agustina, kader PDIP, bahwa kuasa mata rantai birokrasi dan penaklukan "simpul simpul" organik secara birokratis tidak "mempan" melawan kehendak batin "silent majority" publik.

Di sisi lain menyatakan bahwa raihan Paslon 02 sebesar 68% di Indramayu adalah "fakta bahwa pilkada nanti dipastikan ganti bupati" sebagaimana disimpulkan Uho Al Khudry di akun "FB"nya ( 14/2/2024) tentu kesimpulan "melompat" dan terburu buru.  

Artinya dalam konteks peta raihan elektoral di atas perlu riset prilaku pemilih apakah melejitnya raihan Paslon 02 effect kinerja politik partai pengusung Paslon 02 atau "operasi senyap" atau konektivitas isu yang "nyambung" dengan trend prilaku "silent majority" pemilih.

Ketiga, hasil pileg 2024 di Indramayu menunjukkan perimbangan demografis secara proporsional antara partai Golkar (14 kursi), PDIP (11 kursi) dan PKB (10), tidak dominatif satu sama lain.

Ketiga partai di atas dalam kenormalan demokrasi adalah peta besar "blocking politics" dalam desain koalisi partai dalam proyeksi pilkada Indramayu 2024 kecuali terjadi "anomali" politik, sesuatu yang sering terjadi dalam proses kontestasi politik elektoral. 

Itulah sedikit catatan pengantar analisis pilkada Indramayu 2024 merujuk peta elektoral hasil pilpres dan pileg 2024 di Indramayu

Dalam teori "kandidasi" politik Richard Mayland catatan politik di atas harus diletakkan dalam konstruksi tahapan seleksi calon dalam bingkai koalisi partai yang "nyambung" dengan trend prilaku pemilih secara "resiprokal", bersifat timbal balik.

Di sinilah faktor "pesona" figur menjadi "icon", sebuah "hulu" politik yang bersifat "kontes" secara elektoral dalam event pilkada Indramayu 2024. 

Mari kita cermati dinamika politik berikutnya. 

Wassalam