Oleh : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan.
lognews.co.id - Inilah yang membanggakan dari Gus Imin, ketua umum PKB, meskipun "kalah" dalam kontestasi pilpres 2024 tapi Gus Imin menjadi "magnit" kenaikan elektoral PKB, partai yang dipimpinnya.
Gus Imin berani "ambil resiko" masuk dalam kontestasi pilpres 2024 berpasangan dengan Anies, disingkat "AMIN" dengan resiko dan ongkos politik sangat besar melampaui kepentingan "personal" politiknya.
Dalam "quick count" atau "hitung cepat" berbagai lembagai survey pasangan AMIN memang kalah (24%) dibawah Paslon Prabowo Gibran (57%) dan sedikit di atas Paslon Ganjar Mahfud (19%).
Tetapi PKB, partai yang dipimpin Gus Imin dalam pemilu 2024 di urutan keempat sebesar 12%, naik 2% dibanding raihan PKB pada pemilu 2019 sebesar 10%.
Kenaikan ini secara rata rata nasional membuka peluang PKB menambah raihan kursi DPR RI 12 kursi dari raihan kursi PKB pada pemilu 2019 sebesar 58 kursi.
Dalam perspektif penulis ada beberapa hal yang dapat dibaca dari keberanian Gus Imin dalam kontestasi pilpres 2024 selain soal "benefit" elektoral PKB di atas, yaitu :
Pertama, Gus Imin adalah pemimpin politik apa yang disebut H. Agus Salim, tokoh diplomat legendaris "ledgen is leaden", memimpin adalah "jalan menderita".
Gus Imin meninggalkan pilihan mudah, tidak "merentalkan" partai yang dipimpinnya untuk koalisi lain dengan tawaran kompensasi "logistik" besar dan "jatah" portofolio sejumlah kementerian di kabinet.
Itulah bedanya Gus Imin dari umumnya "politisi NU" lain yang sekedar berbangga bangga diri menjadi "tim sukses" pihak lain dengan "kompensasi" bersifat personal, mendegradasi martabat politik NU di mata publik.
Kedua, Gus Imin berhasil membuktikan PKB sebagai representasi politik "warga NU". PKB naik secara elektoral dalam pemilu 2024 meskipun hendak "dikecilkan" oleh sejumlah elite PBNU dengan manuver manuver "zig zag" ala partai politik.
Bahkan Gus Imin telah bergeser secara paradigmatik, tidak sekedar tokoh politik NU untuk NU tetapi menjadi "simpul" kohesi pemersatu umat Islam dalam keragaman pandangan keagamaan di Indonesia.
Politik NU tidak diletakkan oleh Gus Imin sebagai "alat pukul" melainkan instrument "merangkul" setiap perbedaan pandangan keagamaan dalam konstruksi nilai nilai moralitas Pancasila sebagai arah kiblat bangsa.
Itulah catatan singkat tentang pertaruhan politik Gus Imin dalam kontestasi pilpres 2024. Selamat.
Wassalam.



